Photo by Tai’s Captures on Unsplash

Wilayah Asia Pasifik telah mengalami berbagai kondisi darurat kemanusiaan, karena konflik, bencana alam, dan sekarang pandemi.

Kejadian bencana alam sendiri semakin meningkat frekuensi dan intensitasnya dengan laju yang mengkhawatirkan, termasuk di negara-negara yang berisiko rendah saat ini.

Kata Tomoko Kurokawa, penasihat UNFPA untuk wilayah Asia Pasifik, “Pandemi ini telah menguji berbagai sistem kesehatan dan juga kapasitas nasional.”

Seluruh negara berisiko ambruk tanpa dukungan sistem kesehatan yang cukup. Beberapa negara di wilayah ini harus menghadapi kejadian bencana dua atau tiga kali lipat, seiring dengan meningkatnya kejadian bencana alam.

Perubahan pada kondisi kemanusiaan di wilayah Asia Pasifik semakin relevan sebagai daerah yang paling rawan di dunia. Di wilayah ini, orang yang terdampak bencana lebih banyak empat kali lipat dibandingkan wilayah mana pun di dunia.

Pada tahun 2018, 50% dari 281 kejadian bencana ‘besar’ yang terjadi di dunia berada di wilayah Asia Pasifik. Kemudian 8 dari 10 bencana paling mematikan juga terjadi di wilayah ini.

Beberapa hal lain yang menjadi sorotan Kurokawan adalah:

  • Dampak pandemic yang luas, mulai dari pengangguran, pertumbuhan ekonomi yang melambat, perlindungan hak asasi manusia, kemiskinan, kesenjangan, dan konflik sosial.
  • Peningkatan kelahiran dan juga kematian, target perencanaan keluarga yang tidak bisa dilakukan, dan kekerasan berbasis gender.

Manajer Senior, Family Planning 2020 Secretariat, Chonghee Hwang menyampaikan bahwa kedaruratan sulit dihadapi oleh setiap orang, tetapi dampaknya lebih dirasakan oleh kelompok masyarakat yang miskin dan terpinggirkan, serta kurang terlayani.

Perempuan dan kelompok marginal lainnya menghadapi risiko yang semakin tinggi terhadap kehamilan yang tidak direncanakan, kelahiran pada saat melahirkan, disabilitas, kekerasan berbasis gender dan seksual, aborsi yang tidak sehat, dan penyakit seksual menular, termasuk HIV.

Kurokawa menyampaikan bahwa krisis kemanusiaan berdampak pada kesehatan, perlindungan sosial, dan mata pencaharian yang pada gilirannya menambah kesenjangan, dan kerentanan sosial ekonomi yang saat ini sedang terjadi.

Hal ini kemudian menyebabkan lingkaran setan kemiskinan, kesenjangan, dan bencana yang perlu dipecahkan untuk mengurangi akibat bencana terhadap berbagai hasil pembangunan.

Frekuensi kejadian bencana alam digabung dengan dampak krisis yang berkepanjangan memerlukan ketangguhan dan pembangunan perspektif, kemudian menjadi pendekatan yang berkelanjutan dan mencakup hubungan antara kemanusiaan, pembangunan, dan perdamaian dalam mencapai tujuan bersama yang lebih berkelanjutan dan penuh arti.

Berinvestasi untuk ketangguhan mampu menjaga dan mengurangi dampak ekonomi, lingkungan, dan juga korban jiwa pada saat krisis.

Membangun ketangguhan untuk perempuan menjadi tanggung jawab bersama lintas sector, termasuk kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan. Upaya ini hendaknya menjadi prinsip utama dan kerja kemanusiaan yang efektif.

Source: https://www.thejakartapost.com/life/2020/11/03/investing-in-resilience-crucial-to-change-disaster-landscape.html