3 Comments

  1. setahu saya, Kartini yang “terkungkung” dalam aturan adat dan agama adalah pemicu dari pikiran-pikiran “pemberontak”nya. Bisa dipahami bahwa Kartini rindu akan kebebasan. Setidaknya, jika ia “bebas” dan sempat mengeyam pendidikan yang lebih tinggi, mungkin pola pikirnya akan berubah. 🙂

Leave a Reply