Berbagai krisis yang terjadi di dunia telah memicu kebijakan dan tindakan untuk upaya pemulihan. Namun, adanya upaya tersebut bukan berarti menghilangkan risiko. Oleh karena itu, diperlukan ketangguhan untuk menghadapi dan keluar dari krisis nantinya.  

Pemulihan Pandemi dan Perubahan Iklim 

Kebijakan politik yang sangat luas untuk pemulihan dan paket stimulus ekonomi perlu untuk merespon pandemi dan sekaligus mencapai tujuan dari Paris Climate Protection Agreement—Persetujuan Paris untuk Perubahan Iklim.  

Tujuan dari Paris Agreement (istilah singkat untuk persetujuan tersebut) adalah menjaga peningkatan rata-rata temperatur global di bawah dua derajat celcius dibanding rata-rata temperatur pada zaman pra industri. Persetujuan tersebut juga membatasi peningkatan rata-rata temperatur di angka 1,5 derajat celcius.  

Baca juga: Pilihan itu Bernama Adaptasi Perubahan Iklim

Isu dan Strategi Perubahan Iklim 

Belum terlalu lama bahwa strategi terkait iklim atau tujuan dari Paris Agreement dipandang sebagai isu ‘nanti’ oleh banyak industri. Namun, ternyata di masa depan perusahaan mustahil bisa bertahan tanpa strategi iklim. Berbagai institusi dunia seperti IMF dan Bank Eropa melihat perubahan iklim sebagai risiko keuangan yang penting. Fenomena ini akan membahayakan stabilitas pasar uang. Jika masih menerapkan skenario bisnis seperti biasa, maka akan mengarah pada perubahan secara drastis dan tiba-tiba pada aset yang berbasiskan minyak atau bahan bakar fosil.  

Selain itu, ada beberapa alasan yang meningkatkan tekanan pada perusahaan untuk lebih sadar pada iklim, yaitu:  

  • Kesadaran para dari pekerja akan perhatian perusahaannya pada isu lingkungan.  
  • Dorongan dari investor dan pengelola aset pada langkah-langkah untuk melindungi iklim, seperti target untuk mengurangi emisi karbon dioksida dari industri batu bara 
  • Para pemegang saham meyakinkan bahwa isu iklim dibahas secara jelas dan menjadi agenda penting di rapat-rapat pemegang saham.  
  • Para pendukung bisnis pun membutuhkan informasi mengenai strategi terkait iklim lebih dari sebelumnya.  

Menurut responden dari Allianz Risk Barometer, dampak kerugian fisik adalah kerentanan paling signifikan yang dialami perusahaan karena perubahan iklim. Selanjutnya adalah dampak perubahan iklim pada rantai pasok, pelanggan, dan komunitas.  

Di luar dampak fisik pada aset dan properti suatu bisnis karena kejadian bencana alam atau cuaca ekstrem, muncul pula kesadaran mengenai risiko peningkatan temperatur global dan banjir di lokasi-lokasi tertentu. Kondisi ini dapat secara signifikan mempengaruhi operasi bisnis, fasilitas bisnis, tenaga kerja, dan masyarakat. Kemudian diperlukan rencana untuk menghadapi risiko tersebut di masa depan.  

Baca juga: Risiko Perubahan Iklim

Risiko karena Peraturan dan Hukum 

Meningkatnya risiko karena peraturan dan hukum juga menjadi perhatian, terutama untuk sektor yang menimbulkan emisi karbon tinggi. Perubahan kebijakan, skema pajak baru, keperluan pelaporan, dan keberlanjutan bisnis adalah beberapa risiko yang juga akan dihadapi oleh dunia bisnis.  

Sebagai contoh, Persetujuan Hijau Eropa (European Green Deal) bertujuan untuk mewujudkan Eropa sebagai benua pertama yang netral iklim pada 2050 dan memenuhi Strategi Pembiayaan Sumber Energi Terbarukan yang Berkelanjutan. Selanjutnya di Inggris, ada rencana untuk mewajibkan perusahaan di tahun 2025 agar memerhatikan risiko keuangan karena iklim. Oleh karena itu, perusahaan harus menyiapkan untuk mampu beradaptasi secara cepat.  

Pada saat yang sama, gerakan perubahan iklim semakin profesional dan berhasil. Misalnya ada lembaga hukum yang berhasil menutup operasi tambang batu bara raksasa di Polandia.  

Proses peradilan pun semakin berkembang. Kasus perubahan iklim yang dialami industri ‘carbon’ meningkat dan terjadi di lebih dari 30 negara dan mayoritas di Amerika. Namun, ilmu pengetahuan membuka peluang dilakukannya tindakan hukum individu melawan perusahaan besar, seperti yang terjadi di Peru.  

Isu yang perlu diperhatikan lainnya adalah ketika perusahaan menyediakan informasi yang keliru untuk menciptakan gambaran salah mengenai tanggung jawabnya pada lingkungan. Pada isu seperti ini ada komisi yang melakukan pengawasan.  

Sebagai hasilnya, maka perubahan iklim tidak sekadar diklasifikasikan sebagai risiko terhadap reputasi, tetapi juga perlu dipandang sebagai risiko hukum dan peraturan. Para pemimpin perusahaan memiliki peran yang sangat penting untuk memastikan tanggung jawab perusahaan pada permasalahan iklim melalui pelaporan dan juga pengujian.  

Ketangguhan 

Investasi dalam kesiapsiagaan, mitigasi, dan ketangguhan juga sangat penting dilakukan. Risiko dan peluang iklim yang khusus dan mungkin terjadi pada perusahaan perlu diidentifikasi, seperti menggunakan analisis berbasis skenario, peralatan, dan teknologi, serta penggunaan model dan peta bencana.  

Berbagai langkah tersebut dapat membantu untuk mengembangkan strategi iklim yang dapat diterapkan perusahaan dengan langkah-langkah yang tepat. Misalnya dengan melakukan perubahan pada model bisnis, portofolio, serta melakukan investasi pada peningkatan kapasitas dan teknologi jika diperlukan.  

Baca juga: Istilah Ketangguhan dalam Pengurangan Risiko Bencana dan Perubahan Iklim

Berbagai perubahan tersebut juga menjadi peluang jika dilihat dari sudut pandang bisnis. Misalnya sebagai energi yang dapat mengubah produk baru dan pemasaran.  

Sumber: https://www.agcs.allianz.com/news-and-insights/expert-risk-articles/allianz-risk-barometer-2021-climate-change.html