Tak seperti yang selama ini kita duga, ternyata pelajaran penanggulangan bencana dari Jepang bukan hanya teknologi canggih dan infrastruktur yang mahal.

Kita akan melihat bagaimana Jessica Alexander, seorang pekerja kemanusiaan yang sudah tergabung dalam berbagai lembaga internasional, merekam pelajaran penanggulangan bencana di Jepang. Tulisan asli Jessica dapat Anda baca di The New Humanitarian.

“Pendekatan terhadap risiko di Jepang bukan hanya teknologi, tetapi juga filosofi yang terhubung dalam kehidupan penduduk setiap hari.” Kata Jessica Alexander.

Individu, Komunitas, dan Infrastruktur

Sepuluh tahun setelah Great East Japan Earthquake atau Gempa Besar di Timur Jepang yang terjadi pada tahun 2011, Jessica menyadari bahwa kesuksesan negara itu dalam mengelola risiko terletak pada kesiapsiagaan komunitas dan koneksi manusia dengan kesuksesan rekayasa struktur.

Situasi Tsunami setelah Gempa di Jepang pada Tahun 2011 (Sumber: YouTube)

Pada tahun 2011, Jessica berada di kantornya di Haiti, ketika dia secara penuh perhatian membaca berita mengenai sebuah bencana di pantai timur laut Jepang. Sebuah gempa yang sangat dahsyat menghantam pantai, memicu tsunami dengan kekuatan yang sangat besar dan melampaui tanggul laut serta berbagai infrastruktur pelindung lainnya, kemudian menghanyutkan seluruh kota dan desa, menimbulkan 20 ribu lebih orang meninggal, serta melumpuhkan reaktor nuklir. Satu di antara kegagalan reaktor nuklir terburuk dalam sejarah.

Namun, yang mengejutkan bagi Jessica adalah dampak dari bencana tersebut yang sangat minimal. Gempa dengan magnitudo 9.0 sangatlah kuat hingga menggeser kedudukan bumi dari porosnya sebesar 6,5 inchi dan dapat dirasakan di Tokyo yang berjarak 370 kilometer dari pusat gempa. Kondisi itu menjadi pengakuan terhadap investasi jangka panjang Jepang terhadap teknik seismik serta penerapan building code secara ketat dan menyeluruh.

Saat itu, Jessica bekerja untuk salah satu NGO internasional sebagai bagian dari upaya penanganan darurat di Haiti. Di negara tersebut, setahun sebelumnya terjadi gempa yang tidak sekuat di Jepang, tetapi menimbulkan kerusakan dan korban jiwa jauh lebih banyak.

Silakan dibaca juga: Penanggulangan Bencana: Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana

Di Haiti, reruntuhan bangunan masih berjajar di pinggir jalan di ibukota Port-au-Prince, sementara orang-orang yang mengungsi tinggal di penampungan sementara yang tersebar di kota.

Ke mana pun Anda menengok, kata Jessica, menjadi pengingat lemahnya persiapan dari negara tersebut, serta sedikitnya upaya dan investasi mitigasi yang sudah dilakukan sebelum terjadinya bencana. Sebuah langkah yang sebetulnya dapat menyelamatkan ribuan nyawa dan mengurangi kerugian yang tak tertanggungkan.

Setelah itu, Jessica pernah terlibat dalam berbagai kerja kemanusiaan seperti saat menangani banjir di Pakistan pada tahun 2011 dan topan Haiyan di Filipina pada tahun 2013.

Menurut Jessica, kejadian bencana tersebut (banjir dan topan) cenderung berulang dan karenanya dapat diprediksi. Namun, menyiapkan diri menghadapi bencana bagi kebanyakan negara belumlah menjadi kebiasaan. Sistem penanggulangan bencana pun masih tetap dalam lingkaran respon dan perbaikan, ketimbang persiapan dan pencegahan.

Jessica akhirnya penasaran, bagaimana praktik baik di Jepang dapat diterapkan di negara lain di mana dia bekerja. Negara-negara yang rentan karena konflik berkepanjangan, bencana yang berulang, dan mengalami kegagalan upaya pembangunan. Selain itu, negara itu pun memiliki keterbatasan sumber daya, serta memiliki keinginan terbatas untuk menginvestasikan sumber daya tersebut untuk upaya pengurangan risiko bencana.

Delapan tahun kemudian, pada tahun 2019 Jessica pindah ke Jepang sebagai seorang peneliti. Dia pun menemukan bahwa strategi pengurangan risiko di negara itu tak selalu membutuhkan investasi bernilai jutaan dollar. Sebab, upaya itu berasal dari perilaku manusia dan ikatan komunitas. Dua wilayah yang dapat juga dijadikan strategi di negara-negara miskin.

Pemikiran Kesiapsiagaan

Sudah jelas bahwa negara yang kaya seperti Jepang memiliki lebih banyak sumber daya yang bisa diinvestasikan untuk melakukan langkah kesiapsiagaan dan mitigasi dampak bencana dibanding negara seperti Haiti.

Inovasi di Jepang untuk menghadapi bencana pun menjadi suatu kebutuhan, mengingat negara itu menjadi 10 negara paling rentan terhadap bencana di dunia.

Berlokasi di wilayah yang menjadi bagian dari Cincin Api Pasifik, Jepang sangat berisiko terhadap gempa dan tsunami, serta memiliki lebih dari 100 gunungapi aktif. Selanjutnya, karena berada di Samudera Pasifik, maka iklim di Jepang pun seringkali terpengaruh oleh topan dan hujan lebat yang berujung pada banjir dan tanah longsor.

Dalam beberapa hari setelah tiba di Jepang, Jessica menyadari bahwa pendekatan negara tersebut terhadap risiko bukan hanya teknologi, tetapi juga filosofi, serta menjadi bagian dari kehidupan keseharian orang Jepang.

Beberapa hal yang menjadikan Jepang unik adalah suatu pemikiran atau mindset, bahwa alih-alih melihat upaya pengurangan risiko bencana sebagai sebuah pengeluaran–sesuatu yang mengalihkan uang untuk keperluan lain–orang Jepang melihat upaya pengurangan risiko bencana sebagai sebuah investasi–cara untuk mencegah kebutuhan di masa datang dan juga kerugian.

Saat Jessica menelusuri lingkungan tempat tinggalnya, dia melihat pendidikan sebagai bagian dari apa yang dinamakan ‘risk society’ atau masyarakat risiko.

Misalnya jalan yang berada di depan apartemen Jessica ditandai dengan ikan lele biru, Namazu, sebuah makhluk mitologi yang dipercaya menyebabkan gempa. Titik di mana tanda itu berada menjadi tempat istimewa bagi kendaraan penyelamat ketika terjadi bencana.

Selanjutnya setiap pukul 5 sore akan terdengar melodi yang menenangkan dari loudspeaker terdekat, satu di antara ratusan yang berada di taman dan sekolah di seluruh kota. Anak Jessica bahkan harus kecewa karena rupanya itu bukan truk es krim, tetapi sebagai penanda akhir dari sebuah hari dan juga pengujian bagi sistem peringatan dini.

Pada saat mereka mendaftarkan visa di kantor walikota, di antara setumpuk leaflet yang dibagikan mengenai lingkungan barunya, terdapat sebuah peta evakuasi yang menunjukkan ke mana mereka harus pergi ketika bencana terjadi.

Sebuah buku petunjuk atau manual dengan cetakan tebal ‘Let’s Get Prepared‘ atau ‘Ayo Bersiaga’ diletakkan di depan Jessica, dengan gambar seseorang yang mengenakan topi keras, dinamakan Bosai the Rhino (Bosai dalam bahasa Jepang bermakna kesiapsiagaan). Bosai the Rhino ini pula yang menjelaskan berbagai hal, mulai dari mengamankan furnitur ke tembok, hingga bagaimana cara membuat toilet darurat.

Selanjutnya adalah investasi pada berbagai struktur pencegahan yang tak kalah menariknya. Menara Tokyo seakan-akan mengabaikan kenyataan gempa yang sering melanda kota itu, tetapi sesungguhnya bangunan itu dibangun dengan mempertimbangkan aktivitas seismik. Contohnya adalah adanya penguatan kerangka luar bangunan, kemudian bola bearing yang sangat besar dan mekanisme peredaman seperti shock breaker di bagian fondasi, sehingga mengisolasi bangunan dari goncangan tanah.

Tembok penahan tsunami pun menimbulkan bayangan panjang di sepanjang garis pantai, sementara saluran-saluran air yang disemen berbaris di sepanjang sungai yang membelah negara itu, dan tak lupa sistem bendungan yang sangat canggih pun mengatur luapan air dari curah hujan yang tinggi.

Tak Ada yang Sempurna

Namun, meskipun langkah-langkah infrastruktur tersebut dimaksudkan untuk menyelamatkan nyawa dan melindungi aset, rupanya mereka pun tak sempurna.

Karenanya, ketika berbagai infrastruktur itu tak mampu lagi menahan gempuran kemarahan alam, upaya penyelamatan diri kembali pada kebiasaan manusia. Sebab, ketergantungan secara penuh dan pasrah pada langkah-langkah struktural tidaklah cukup.

Menurut Jessica, membangun sisi ‘lunak’ dari sistem pencegahan ini sama pentingnya dengan berbagai aksi yang dilakukan untuk mengurangi risiko melalui berbagai keberhasilan teknik atau struktural. Adapun yang dimaksud sisi lunak pencegahan tersebut adalah tingkat kesadaran masyarakat mengenai bagaimana menghindari risiko dan mengambil tindakan ketika risiko tersebut berubah menjadi ancaman yang sebenarnya.

Kondisi itu menjadi semakin nyata ketika Jessica melakukan perjalanan di musim panas ke sebuah kota bernama Mabi. Di sini adalah wilayah yang subur dan berada di antara dua sungai di bagian barat Jepang.

Pada bulan panas tahun sebelumnya, lebih dari 50 orang meninggal dunia setelah rumahnya diterjang banjir karena hujan yang tak kunjung henti selama beberapa hari.

Tanggul dimaksudkan untuk mencegah banjir di wilayah sekitar sungai. Namun, perangkat keras atau infrastruktur yang bertujuan untuk melindungi warga ini telah terlewati dan jebol di delapan lokasi, kemudian air banjir mencapai ketinggian hingga 5 meter.

Saya pun kemudian menemukan, bahwa orang-orang di Mabi mungkin memiliki peta bahaya, seperti yang Jessica terima di saat dia sampai di Tokyo. Namun, banyak orang tidak pernah meluangkan waktu untuk membacanya.

Kemudian meskipun peringatan dini dikirimkan, tetapi hanya dikirim melalui SMS, dan kebanyakan korban adalah para lansia di atas 70 tahun yang tidak memiliki telepon genggam.

Melihat fenomena tersebut, penduduk dan juga pekerja kemanusiaan bertanya-tanya, apakah berbagai perangkat keras dan juga infrastruktur yang telah dibangun justru memberikan pesan yang salah mengenai keselamatan, semacam rasa aman yang palsu?

Karena merasa aman, maka orang tidak merasa perlu untuk melakukan berbagai tindakan terhadap risiko bencana secara serius, seperti mempelajari peta bahaya, serta untuk memastikan orang-orang dapat melakukan evakuasi pada saat yang tepat seandainya berbagai infrastruktur pelindung gagal bekerja dengan baik.

Penelitian dari Kota Mabi dan masyarakat yang terdampak oleh tsunami besar di tahun 2011 menunjukkan bahwa banyak orang menunda melakukan evakuasi, karena mereka berasumsi bahwa berbagai struktur yang dibangun akan melindungi mereka.

Membangun dari yang sudah ada

Menurut Jessica, tampaknya kurang tepat untuk memikirkan bahwa negara seperti Haiti dapat menerapkan tingkat pembangunan yang menyeluruh seperti di Jepang. Keselamatan seismik, misalnya, memerlukan keahlian yang belum tentu tersedia, dan biaya yang diperlukan belum tentu dimiliki oleh para pemilik rumah dan pemilik bisnis.

Jessica melihat, bahwa setelah gempa banyak orang yang secara sembarangan menambal retakan di dinding rumahnya di Port-au-Prince dengan beton atau adukan semen. Mereka tidak memiliki biaya untuk membangun kembali, sehingga mereka meyakinkan diri, bahwa bangunan akan aman jika mereka tidak mampu melihat kerusakan yang ada.

Namun, meskipun Haiti dan negara miskin lainnya mengalami tantangan untuk pembangunan infrastruktur, mereka masih mungkin untuk berkembang dengan berfokus pada sisi ‘lunak’ dari upaya pencegahan. Jessica pernah melihat kekuatan dari ikatan masyarakat dan jiwa kegotongroyongan dari berbagai tempatnya bekerja menanggulangi kedaruratan bencana.

Misalnya setelah gempa di Haiti, dia menyaksikan banyak inisiatif dan intuisi yang datang secara langsung dari komunitas yang terdampak untuk memperoleh makanan, air, obat-obatan, dan juga tenda untuk tetangga.

Enam tahun kemudian, ketika badai Matthew melanda, kondisi yang sama pun berulang. Warga Haiti bergantung pada jejaring keluarga dan warga lokal yang menunjukkan solidaritas untuk pemenuhan berbagai kebutuhan dasar.

Kondisi tersebut ternyata tidak hanya terjadi di Haiti, setelah Topan Haiyan di Filipina, anggota masyarakat datang untuk menyelamatkan tetangganya dan di banyak kasus menjadi penolong pertama. Mereka membawa bantuan lebih cepat dibandingkan pemerintah atau komunitas internasional.

Sementara itu di negara lain, seperti India dan Bangladesh, inisiatif berbasis komunitas, seperti pengelolaan tempat pengungsian yang dikelola oleh warga, dan pelatihan untuk pencarian dan pertolongan untuk meningkatkan kesadaran mengenai evakuasi. Upaya ini dipandang mampu menyelamatkan jiwa dari kejadian bencana angin topan yang baru-baru ini terjadi, seiring dengan peningkatan kemajuan pada sistem peringatan dini.

Kemudian Jessica pun Melihat Fenomena itu di Jepang

Silakan baca juga: Penanggulangan Bencana: Empat Filosofi

Kesadaran bencana terprogram di masyarakat sejak usia muda. Upaya ini dibangun  dalam kurikulum di sekolah sejak taman kanak-kanak. Banyak orang dewasa yang bilang, bahwa anak-anak mereka adalah yang paling terinformasi risiko dibanding anggota keluarga yang lain.

Tiap tanggal 1 September didesain sebagai hari pencegahan bencana, sekaligus sebagai peringatan untuk 140 ribu korban jiwa dari bencana gempa Kanto di tahun 1923.

Bersamaan dengan latihan kedaruratan di seluruh negeri, para survivor atau mereka yang selamat dari bencana di masa lalu menjawab pertanyaan, “Jika Anda dapat kembali ke hari sebelum bencana, apa yang akan dilakukan?” Pertanyaan tersebut membantu meningkatkan urgensi pada berbagai hal yang tampaknya hanya teoritis semata.

Selanjutnya Jessica pun bertemu dengan banyak NGO di seluruh Jepang yang menangani sisi ‘lunak’ dari pengurangan risiko bencana ini. Satu di antaranya sibuk mengelola sesi pelatihan di seluruh negeri menggunakan spidol warna-warni dan post-it untuk memetakan bahaya, rumah lansia dan juga disabilitas, serta mempelajari bagaimana menyelamatkan orang dari gedung menggunakan barang sehari-hari.

Organisasi lainnya mengorganisasikan tukar pengetahuan antara orang yang baru terdampak krisis dan masyarakat lain yang menghadapi risiko yang sama. Upaya ini membantu mengkonkritkan ancaman yang tadinya abstrak menjadi nyata.

Untuk membangun ikatan sosial seperti saat terjadi gempa di 2011, ketika tetangga, relawan, pemadam kebakaran, dan anggota keluarga pergi dari pintu ke pintu untuk memberikan peringatan dan menyelamatkan orang, maka beberapa NGO menyiapkan dialog dan kegiatan. Mereka meletakkan fondasi untuk hubungan komunitas yang lebih kuat, terutama di waktu-waktu yang sangat diperlukan.

Catatan akhir dari Jessica adalah bahwa setelah dia tinggal di Jepang, tentu akan dibutuhkan waktu yang sangat lama bagi suatu negara untuk meniru kemajuan teknologi yang mahal dan beberapa sudah diterapkan di bangunan-bangunan modernnya di sana.

Namun, yang paling mengejutkan Jessica adalah kekuatan dari masyarakat lokal dan jejaringnya. Dalam fenomena ini, maka ada peluang untuk negara yang lebih miskin. Ketimbang berfokus pada berbagai hal yang kurang, pemerintah dan lembaga bantuan dapat memberikan pelayanan lebih baik dengan mengenali dan mendukung berbagai kapasitas yang sudah ada di dalam komunitas. Ini menjadi sebuah upaya yang dapat dilakukan dengan biaya yang tidak terlalu besar….