Source: https://bit.ly/3mgZxaG

“If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else is thinking.”

—Norwegian Wood

Jika Anda hanya membaca buku yang orang lain baca, maka Anda hanya mampu berpikir seperti orang lain.

Membaca Norwegian Wood dari Haruki Murakami membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya.

Pada bagian-bagian awal, sangat bosan mengikuti cerita Toru Watanabe dan Naoko yang sepertinya tenggelam dalam masa lalu mereka tak hendak beranjak.

Setelah itu, cerita mulai menarik saat Midori hadir dan menarik perhatian Toru.

Naoko yang murung dan akhirnya menyendiri di sebuah fasilitas kesehatan mental masih terus hadir jauh di hati Toru.

Midori sebaliknya, dia gadis yang bersemangat dan memberikan gairah baru di kehiduapan Toru.

Anehnya, gairah yang dibawa Midori itu mampu juga mengajak pembaca seperti saya untuk mulai lebih tekun membaca halaman demi halaman di Novel ini.

Saya kurang tahu, apakah Anda pernah membaca Norwegian Wood dari Haruki Murakami ini?

Sebuah cerita seperti memoar penulisnya, tetapi ternyata bukan.

Sebuah cerita seperti kisah cinta segitiga, tetapi ternyata bukan.

Norwegian Wood membungkus kegelisahan masing-masing pelakunya dalam berbagai dilema, kisah cinta, perjuangan, dan juga penerimaan.

Ini sangat membingungkan, kadang-kadang membuat gemas dengan keragu-raguan Toru untuk memilih antara Naoko dengan Midori.

Namun, pada saat yang sama, juga mengerti kenapa memutuskan melakukan sesuatu bukanlah perkara yang mudah untuk Toru.

Seperti biasa, saya temukan beberapa hal menarik di beberapa novel Jepang yang pernah saya baca. Demikian juga di Norwegian Wood karya Murakami ini.

Saya sangat tertarik dengan cara Murakami menggambarkan orang yang hendak meninggal, seperti berikut ini:

He was going to die soon, you knew when you saw those eyes. There was no sign of life in his flesh, just the barest traces of what had once been a life. His body was like a dilapidated old house from which all furniture and fixtures have been removed and which awaited now only its final demolition.

Page 240

Jika diterjemahkan secara sederhana, mungkin jadinya begini:

Dia (Bapaknya Midori) akan segera meninggal. Kamu tahu ketika melihat matanya. Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan di tubuhnya, hanya tanda-tanda samar yang semula merupakan kehidupan. Badannya seperti rumah tua yang bobrok dengan mebel dan perlengkapan lain telah dibawa pergi dan kini hanya menunggu kerusakan totalnya.

Perumpamaan sebuah rumah tua yang bobrok, mebel, dan perlengkapan lain yang telah dibawa pergi, serta menunggu roboh itu terasa begitu kejam, tetapi pada saat yang sama sangat jujur.

Kemudian hal lain yang menarik adalah saat membandingkan kehidupan dengan kue kering, seperti ini:

“You know how they’ve got these cookie assortments, and you like some but you don’t like others? And you eat ap all the ones you like, and the only ones left are the ones you don’t like so much? I always think about that when something painful comes up. ‘Now I just have to polish these off, and everything’ll be ok. Life is a box of cookies.”

Page 332

Jika diterjemahkan sepengetahuan saya, maka akan begini jadinya:

Kamu tahu beragamnya kue kering itu, bukan? Kamu akan menyukai sebagian, tetapi ada juga yang tidak. Kemudian kamu pun memakan yang disukai dan yang tersisa adalah yang tidak kamu sukai. Aku selalu berpikir seperti itu, ketika saat yang menyakitkan datang. Sekarang aku hanya harus memolesnya dan semua akan baik-baik saja. Hidup adalah sekotak kue-kue kering.

Sepertinya dengan mengumpamakan hidup seperti sekotak kue-kue kering, maka terasa lebih mudah.

Saya tidak tahu dengan Anda, tetapi begitulah yang saya bayangkan. Kita hanya perlu memilih yang disukai, memakannya, dan kemudian membersihkan yang tidak disukai dan juga memakannya.

Terakhir, satu lagi kutipan yang menarik dari novel ini adalah mengenai kematian.

“death is not the opposite of life but an innate part of life.”

Page 360

Jika diterjemahkan dengan sederhana, maka kira-kira: kematian bukanlah lawan dari kehidupan, tetapi kematian adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan.

Entah bagaimana, tetapi dengan pemahaman itu, kematian menjadi akrab, dia bisa terjadi sewaktu-waktu, tinggal kita siap atau tidak siap melaluinya. Namun, sesungguhnya dia tak pernah jauh-jauh banget.

Akhirnya, apakah ada hal tertentu yang Anda sukai dari Norwegian Wood karya Murakami? Boleh dong di-share di kolom komentar atau berdiskusi agar meriah hidup ini, seperti kue-kue kering yang beragam bentuknya.

Tabik!