Kamu tidak perlu mencari siapa audiens sasaranmu, karena ternyata kamu sudah tahu.  

Saran untuk Mencari Audiens

Para kretor konten di Blog, Instagram, YouTube, Facebook, atau di mana pun pasti telah familiar dengan saran ‘Kamu perlu mengetahui siapa audiens-mu.’  

Saran itu pun berlanjut dengan hal-hal semacam, temukan permasalahan mereka.

Kemudian setelah itu, lihat dari pengalamanmu, keahlianmu, hasil belajarmu, dan tawarkan solusi kepada mereka untuk mengatasi persoalan tersebut.

Nah, dari situ jadi cuan, deh.  

Yang Terlewat dari Saran itu

Sayangnya dari saran itu sering banget ada hal yang dilewatin, deh, kayaknya.  

Baca juga: Tiga Langkah Membuat Podcast dengan Pendengar

Yang dilewatin itu adalah gimana cara kita tahu siapa audiens kita itu?  

Kemudian ini pengalaman saya.  

Di Instagram, karena khas Bapak Muda yang lebih dulu emosi daripada belajar, saya pun akhirnya emosi karena tidak kunjung mengetahui bagaimana cara mengetahui audiens tersebut.  

Singkat cerita, biar saya bisa tahu, maka saya harus belajar dan memutuskan untuk bergabung dengan Kelas Instagram Organik punya Ko Niko Julius.  

Btw, kalau kamu pengen juga ikutan kelasnya bisa klik ini, ya:

Cara Mengetahui Audiens Sasaranmu

Nah, di situ syukurlah dijelaskan bagaimana cara mengetahui audiens sasaranmu.  

Caranya adalah dengan menggunakan akun bisnis Instagram, kemudian kamu nanti akan dapat melihat Insights.  

Nah, di situ akan bisa dilihat detail dari audiens, misalnya seperti apa demografi atau kelompok umur pengikut kita.  

Kemudian jenis kelamin dari para pengikut, apakah mereka pria atau wanita. Selain itu, masih ditambah lagi informasi mengenai lokasi dan kapan mereka paling aktif.  

Untuk akun saya, ternyata kelompok umur pengikut yang terbanyak adalah pada rentang usia 35 hingga 44 tahun. Sementara perbandingan jenis kelaminnya adalah 60 persen pria berbanding 40 persen wanita.  

Dari data itu, kemudian ….  

Tunggu dulu ….  

Sepertinya saya akrab dengan data itu.  

Walach! Ternyata itu kelompok umur saya sendiri dan jenis kelamin saya sendiri.  

Hmmm ….  

Kalau begitu, saya kira-kira tahu apa permasalahan mereka.  

Permasalahan Audiens Sasaran

Pertama

Mereka adalah para bapak muda dengan keluarga muda dan anak-anak yang belum gede.  

Kedua

Persoalan mereka tak jauh-jauh dari membina keluarga muda, pekerjaan, penghasilan dan keuangan, keterampilan, hiburan, dan sedikit pengetahuan.  

Kemudian saya perinci lagi dari persoalan tersebut menjadi seperti ini:  

Persoalan keluarga

misalnya bagaimana cara menjadi suami baru, menjadi bapak baru, menjadi suami yang baik.  

Persoalan pekerjaan

misalnya bagaimana agar para bapak muda itu bisa menyukai pekerjaannya, agar kariernya meningkat, dan agar hubungan dengan rekan kerja baik.  

Persoalan penghasilan dan keuangan

misalnya bagaimana cara mengelola keuangan atau menabung, meningkatkan penghasilan, memiliki usaha sampingan, dan melakukan investasi.  

Persoalan keterampilan

nah, di sini saya kaitkan dengan kemampuan saya, misalnya bagaimana cara menulis, membuat copywriting, melakukan branding, dan juga marketing atau pemasaran.  

Persoalan hiburan

paling-paling Bapak Muda itu pengennya ya informasi mengenai mamah muda cantik, gim atau permainan yang keren, kesehatan, dan gawai atau gadget. Kemudian tak kalah penting adalah hobi yang mungkin bisa diperinci menjadi berlari, bersepeda, bercocok tanam, otomotif, koleksi barang mahal, dan lainnya.  

Terakhir persoalan Bapak Muda

adalah mendapatkan sedikit pengetahuan. Nah, di sini saya juga mengaitkannya dengan bidang pekerjaan saya sehari-hari. Kira-kira pengetahuan yang diperlukan oleh Bapak Muda itu adalah kepemimpinan, berkomunikasi, kebencanaan, buku bermanfaat, dan merawat mobil atau motor.  

Lihatlah Diri Sendiri

Setelah membaca uraian tersebut di atas, kembali ke persoalan yang dihadapi para kreator konten, yaitu bagaimana menentukan target audiens?  

Ternyata jawabannya adalah justru dengan melihat diri sendiri, melihat persoalan-persoalan, ketertarikan, dan keinginan yang dihadapi diri sendiri.  

Sebab, ternyata audiens kita rupanya adalah diri kita sendiri.