Setiap tahun, Allianz selalu mengeluarkan pengukuran risiko bencana dan krisis untuk bisnis yang mungkin akan kita hadapi. Inilah risiko bencana dan krisis yang mungkin akan terjadi dan menjadi ancaman bagi dunia bisnis di tahun 2021.

Barometer Risiko oleh Allianz

Allianz telah melakukan survei setiap tahun untuk mengidentifikasi risiko-risiko yang paling mengancam bisnis di dunia.

Allianz juga telah menyajikan laporan risiko tahunan ini selama sepuluh tahun terakhir. Laporan tersebut berisi identifikasi risiko yang paling mengancam perusahaan dalam 12 bulan ke depan dan setelahnya.

Laporan disusun berdasarkan pandangan oleh lebih dari 2.700 ahli pengelolaan risiko yang berasal dari 92 negara dan wilayah.

Ringkasan Barometer Risiko oleh Allianz untuk Tahun 2021

Sebagai akibat dari gangguan yang tak pernah diperkirakan sebelumnya karena pandemi virus corona, maka tidak mengherankan bahwa gangguan pada bisnis dan merebaknya virus menjadi risiko pertama dan kedua.

Dua risiko tersebut adalah ancaman utama yang akan dihadapi oleh dunia bisnis berdasarkan Barometer Risiko Allianz untuk Tahun 2021.

Pandemi menjadi yang paling naik peringkatnya untuk tahun ini, dengan peningkatan 15 posisi. Kemudian setelah itu adalah gangguan di dunia siber di peringkat ketiga.

Ketiga risiko tersebut dan 10 risiko lainnya di tahun ini saling terkait. Hal ini menunjukkan peningkatan kerentanan dan ketidakpastian di dunia modern yang semakin mengglobal dan terkoneksi. Sebuah peristiwa di satu tempat akan menyebar dengan sangat cepat dan menyebabkan dampak global.

Terjadinya pandemi pada tahun 2020 membuat berbagai perusahaan harus bersiap terhadap berbagai gangguan bisnis dan kejadian luar biasa dibandingkan sebelumnya.

Melihat kondisi itu, membangun ketangguhan dalam rantai pasok dan model bisnis sangatlah penting untuk mengelola keterpaparan dan risiko di masa depan.

10 Risiko Bisnis di Tahun 2021

Inilah 10 risiko yang akan dihadapi dunia bisnis di tahun 2021 berdasarkan survei dari Allianz.

  1. Gangguan Bisnis
  2. Merebaknya pandemi
  3. Gangguan siber
  4. Kondisi/perkembangan pasar
  5. Perubahan dalam peraturan
  6. Kejadian bencana alam
  7. Kebakaran dan ledakan
  8. Perkembangan ekonomi makro
  9. Perubahan iklim atau ketidakpastian cuaca
  10. Risiko politik dan kekerasan

Catatan dari peringkat tersebut adalah sebagai berikut:

Gangguan bisnis, penyebaran pandemi, dan gangguan siber adalah tiga risiko paling mencemaskan dunia bisnis di tahun 2021. Ketiganya pun saling berkaitan.

Penyebaran pandemi meningkat dari posisi sebelumnya di peringkat 17 menjadi kedua. Pandemi juga dipandang akan menjadi gangguan terbesar untuk dunia bisnis di tahun 2021.

Menghadapi hal itu, maka perusahaan perlu menyiapkan rantai pasok dan mendorong atau mempercepat rencana keberlanjutan perusahaan untuk menghadapi kejadian atau krisis yang ekstrem.

Perkembangan pasar (nomor 4), perkembangan kondisi ekonomi makro (nomor 8), dan kerusuhan politik (nomor 10) adalah risiko yang meningkat di tahun ini.

Konsekuensi sosial dan ekonomi karena pandemi akan menyebabkan lebih banyak kebangkrutan dan dikhawatirkan akan menjadi bahan bakar untuk kerusuhan sipil di tahun 2021 ini.

Sementara itu, perubahan iklim menjadi di nomor 9, tetapi akan menjadi agenda prioritas pula untuk tahun 2021 ini.

Sekarang mari kita lihat lebih detail tiap risiko yang akan dihadapi oleh dunia bisnis di tahun 2021 ini.

1, Gangguan Bisnis, termasuk gangguan pada rantai pasok

Baca juga: Penanggulangan Bencana: Manajemen Logistik

Covid-19 telah mendominasi risiko sepanjang tahun lalu.

Hal itu menambah perhatian yang sudah lebih dahulu diberikan oleh para profesional kepada gangguan bisnis dan kerentanan siber.

Kondisi ini terutama mengingat ketergantungan yang makin tinggi dunia industri pada teknologi dan rantai pasok (supply chain).

Selama sepuluh tahun terakhir atau sebelum terjadinya pandemi, gangguan pada bisnis telah merajai risiko bagi perusahaan selama tujuh kali.

Sementara itu, risiko di dunia internet atau siber telah menduduki peringkat ketiga untuk risiko yang paling mencemaskan dunia bisnis di tahun 2020.

Pandemi dan Gangguan pada Bisnis

Dari industri kecil hingga seluruh sektor mengalami penderitaan atau dampak berupa gangguan bisnis di masa lalu.

Namun, pandemi yang terjadi di tahun 2020 menjadi bencana pertama yang menghantam dunia modern yang semakin mengglobal dan menganut ekonomi terkoneksi.

Dunia telah berubah selama dekade terakhir dan mengarah kepada akumulasi risiko serta pemicu kerugian yang baru.

Pandemi yang terjadi telah menunjukkan betapa rentannya dunia saat ini terhadap kejadian yang tidak dapat diprediksi dan ekstrem.

Pandemi yang terjadi juga menunjukkan sisi gelap dari produksi global dan rantai pasok.

Rantai pasok global mengalami tekanan manakala kapal-kapal tidak bisa berlayar pada musim semi tahun 2020 dan banyak kapal yang tidak melayani pelayaran karena tidak ada barang yang dikirimkan.

Dampak lanjutan dari kondisi ini adalah kegagalan dunia industri untuk berproduksi karena tidak ada bahan baku. Kemandekan produksi terjadi terutama di sektor otomotif.

2, Penyebaran Pandemi

Baca juga: Pelajaran dari Pandemi Bagi Pemimpin untuk Pengelolaan Krisis

Penelitian dari Euler Hermes menemukan bahwa 94% perusahaan yang disurvei melaporkan terjadinya gangguan pada rantai pasok karena Covid-19.

Sementara itu, 26% perusahaan di Amerika mengalami gangguan yang parah karena pandemi ini.

Hal ini berarti kesadaran risiko atas terganggunya industri telah sampai pada para pemimpin industri tersebut.

Pengaruh pandemi pada industri telah menjadi bahan diskusi baik oleh para profesional di bidang risiko dan juga para pemimpin perusahaan.

Pandemi telah menyadarkan perlunya rantai pasok yang lebih tahan banting, termasuk menemukan perlunya cara untuk mengatasi risiko yang belum diasuransikan.

Pandemi Covid-19 telah mengingatkan bahwa tidak semua risiko dapat diasuransikan.

Karena itu, pengelolaan risiko dan rencana keberlanjutan bisnis memainkan peranan yang sangat penting untuk menolong perusahaan dan industri dalam menghadapi dan dapat selamat dari kejadian yang ekstrem.

Penyebaran wabah juga menunjukkan bahwa gangguan bisnis sangat berkaitan dengan berbagai ancaman risiko lainnya, seperti bencana alam dan perubahan iklim, risiko politik dan kerusuhan masyarakat. Bahkan termasuk perubahan sangat cepat di pasar dan juga keamanan siber.

Dengan demikian, gangguan bisnis adalah konsekuensi dan dampak yang diakibatkan oleh berbagai risiko.

Mengingat luasnya cakupan gangguan karena Covid-19, maka tak mengherankan jika pandemi meningkat posisinya dalam risiko yang paling mengancam dunia bisnis.

Sementara itu, seperti telah disebutkan sebelumnya, keamanan siber telah menjadi salah satu penyebab ancaman dan risiko yang paling diwaspadai dan mungkin akan mengganggu dunia usaha.

Pelajaran dari Pandemi

Salah satu pelajaran paling penting dari pandemi adalah bahwa gangguan pada bisnis bukan hanya teori, tetapi telah menjadi kemungkinan yang berubah menjadi nyata.

Meskipun risiko ini telah diketahui sebelumnya, tetapi pandemi virus korona telah mengejutkan dunia karena skalanya yang global dan berbagai dampak yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.

Contohnya, varian baru dari Covid-19 telah menyebabkan penutupan beberapa negara di dunia, seperti di Inggris pada akhir Desember 2020. Sementara pada saat yang sama, terjadi penumpukan penumpang karena natal.

Melihat kenyataan itu, pemicu gangguan bisnis dalam skala besar di masa depan bisa berasal dari bencana alam dan lingkungan, penyebaran wabah lainnya, serangan siber dalam skala besar atau gangguan pada pasokan energi, hingga badai matahari.

Selanjutnya, konsekuensi dari pandemi diperkirakan akan semakin besar dan mengganggu bisnis pada tahun-tahun yang akan datang. Area bisnis yang lain pun dapat terganggu sebagai konsekuensi dari pandemi.

Kemudian, meskipun risiko kesehatan mungkin akan menurun dengan penggunaan vaksin, tetapi dorongan secara paksa pada digitalisasi berbagai hal akan menyebabkan risiko baru.

Risiko tersebut bisa terjadi pada kehidupan ekonomi, sosial, dan politik. Ketiga sektor ini pun pada gilirannya nanti dapat menjadi gangguan pada bisnis di masa-masa yang akan datang.

Dunia bisnis telah merasakan konsekuensi dari pandemi, yaitu kehilangan keuntungan dan gangguan pada sisi produksi dan rantai pasok.

Kesadaran pada kemungkinan terjadinya kerugian yang disebabkan oleh gangguan bisnis secara fisik dan non fisik pun seharusnya meningkat.

Pandemi juga memberikan pelajaran, bahwa gangguan pada dunia usaha tidak terbatas pada wilayah geografi dan sektor. Sebab, gangguan tersebut dapat menyebar di tanpa batasan wilayah geografi, pasar, dan pelanggan.

3, Gangguan pada Keamanan Siber

Baca juga: Ketika Perusahaan Kehilangan Nilai karena Krisis

Gangguan siber mungkin telah berubah di posisi ketiga dari jajaran risiko paling top. Namun, meskipun begitu perhatian tetap besar diberikan oleh para responden. Posisi tersebut meningkat dari peringkat sebelumhya di tahun 2020.

Kriminalitas siber saat ini telah merugian perekonomion global sebesar 1 trilyun dollar AS. Angka tersebut berarti lebih dari satu persen dari pendapatan global. Kemudian peningkatan satu persen tersebut artinya meningkat sebesar 50% dibandingkan dua tahun lalu.

Sementara itu, ancaman pada gangguan bisnis semakin meningkat di dunia digital. Ancaman itu terjadi karena serangan perangkat lunak (ransomware), kegagalan teknis, gangguan rantai pasok, dan konsekuensi yang lebih parah dari sabotase data (data breach), serta peningkatan risiko karena digitalisasi pasca Covid-19.

4, Perkembangan Pasar

Baca juga: Bencana karena Kegagalan Modernisasi

Seiring dengan penurunan ekonomi yang dialami dunia karena gangguan yang terjadi setelah pandemi, perkembangan pasar menjadi risiko yang selalu naik peringkatnya di Allianz Risk Barometer.

Kondisi itu menunjukkan risiko meningkatnya angka kebangkrutan setelah pandemi.

Pertumbuhan angka kebangkrutan sebesar 38% adalah perubahan paling berdampak ketiga yang mungkin terjadi karena pandemi. Adapun untuk peringkat pertama disebabkan karena akselerasi untuk digitalisasi yang lebih besar, sebesar 55%. Kemudian peringkat kedua, karena kondisi bekerja dari rumah (remote working), sebesar 50 persen.

Ada enam bisnis yang menyatakan kebangkrutan dengan angka luar biasa besar. Enam bisnis tersebut telah menyatakan bangkrut dengan total aset setidaknya 1 milliar dollar AS pada kuartal pertama tahun 2020. Kemudian dilanjutkan 31 perusahaan di pertengahan tahun, dan 15 di kuartal keempat. Totalnya ada 52 industri. Sangat jauh jika dibandingkan 5 rata-rata perusahaan yang bangkrut dari tahun 2005 hingga 2019 di tiap kuartalnya.

Diperkirakan perbaikan kebangkrutan akan dimulai di paruh kedua tahun 2021 seiring dengan penghapusan secara bertahap berbagai langkah dukungan untuk perusahaan.

Lebih jauh lagi, pandemi akan memicu periode inovasi dan gangguan pasar, meningkatkan akselerasi teknologi, mempercepat hilangnya sektor-sektor tradisional dan yang sudah mapan, serta memberikan peluang untuk lahirnya kompetitor yang baru.

5, Perubahan dalam Legislasi dan Regulasi

Baca juga: Penanggulangan Bencana: Yang Perlu Dilakukan Saat Terjadi Bencana

Covid-19 mungkin menyebabkan pelambatan dalam rangkaian penyusunan peraturan. Namun, tidak sampai menghentikannya. Bahkan, terjadi fenomena kebalikannya, tahun 2021 dinilai akan menjadi tahun yang sibuk untuk pembentukan peraturan dan kebijakan baru.

Dua area yang sangat berdampak pada bisnis adalah data dan keberlanjutan (sustainability). Akses dan penggunaan data memperlihatkan ketatnya persaingan yang terjadi di abad 21. Kemudian peraturan-peraturan baru bertujuan untuk menciptakan kondisi yang lebih berimbang.

Kondisi yang dimaksud meliputi kerangka kerja baru untuk kecerdasan buatan dan keamanan siber. Kemudian standard dan peraturan baru untuk keuangan digital, layanan digital, dan bermacam platform.

Sementara itu, untuk menjamin kesuksesan terjadinya transisi ke ekonomi tanpa karbon, maka mengintegrasikan tema dan mempertimbangkan keberlanjutan (sustainability) dalam berbagai bisnis menjadi kuncinya.

Untuk mencapai tujuan ini, beberapa tingkat peraturan diperlukan. Terutama untuk meningkatkan ketersediaan, perbandingan, dan keandalan data non-keuangan.

Contoh data tersebut adalah berbagai indikator kunci terkait iklim berdasarkan emisi gas rumah kaca. Indikator ini akan mendorong investasi yang terus berkelanjutan dan transformasi hijau (green transformation).

Konsekuensi dari upaya tersebut adalah perlunya tambahan biaya. Namun, manfaat yang didapatkan oleh perusahaan sangat besar. Perusahaan dengan pemahaman yang baik akan dampak dan risiko jangka panjang pada lingkungan, sosial, pemerintahan, dan masyarakat akan memiliki jalur yang lebih jelas ke arah agenda netral karbon.

6, Kejadian Bencana Alam

Baca juga: 10 Prinsip Pengurangan Risiko Bencana dan Perubahan Iklim

Kebakaran hutan dan lahan yang sangat parah di California dan Australia serta badai tropis di Samudera Atlantik adalah beberapa kejadian bencana yang mendominasi pemberitaan di tahun 2020.

Belum pernah terjadi sebelumnya ketika musim badai menghasilkan 30 nama badai baru dan 13 di antaranya berubah menjadi topan.

Sementara di Australia menderita karena kebakaran hutan dan lahan yang paling buruk. Begitu juga di California dengan kebakaran hutan dan lahan yang membakar lebih dari satu juta hektar lahan.

Namun demikian, tahun 2020 adalah tahun ketiga tanpa satu kejadian bencana besar yang menyebabkan dampak ekonomi yang signifikan, seperti Topan Harvey di tahun 2017.

Meskipun musim badai memecahkan rekor, tetapi badai tersebut tidak sampai menghantam area yang padat penduduk. Hasilnya adalah kerugian ekonomi yang cukup minimal.

Kerugian karena Bencana Alam

Namun demikian, gabungan dari beberapa kejadian kecil hingga menengah telah menyebabkan kerugian yang cukup besar pula.

Bencana alam menyebabkan kerugian sekitar 80 milyar dollar AS secara global, meningkat 40 persen dibandingkan tahun 2019.

Angka tersebut terutama disebabkan karena gabungan kejadian bencana, seperti angin topan beserta banjir, dan hujan es, kemudian masih ditambah lagi dengan kebakaran lahan dan hutan di Amerika Utara.

Di sisi lain, frekuensi kejadian bencana geologi, seperti gempa dan tsunami semakin menurun di tahun terakhir.

Akibatnya, persepsi negatif terhadap risiko karena bencana ini di Allianz Risk Barometer juga semakin menurun. Secara simultan, di tahun 2020, tidak seperti tahun-tahun berikutnya dengan Covid-19 mengurangi bisnis di seluruh dunia, maka risiko lainnya seperti ‘penyebaran pandemi’ dan ‘perkembangan pasar’ menjadi lebih terlihat.

Namun demikian, risiko karena bencana alam tetap menduduki peringkat tiga teratas untuk bisnis di berbagai wilayah, terutama di Asia. Wilayah ini secara rutin terdampak bencana karena faktor meteorologi, geologi, klimatologi, dan hidrologi.

7, Kebakaran dan Ledakan

Baca juga: Penanggulangan Bencana: Setelah 20 Tahun Gempa Kobe

Karena risiko pandemi, maka kebakaran (bukan kebakaran hutan dan lahan) dan ledakan mengalami penurunan tingkat risiko dibanding tahun sebelumnya. Namun, mereka masih termasuk di peringkat 10 risiko teratas yang mengancam dunia bisnis.

Kejadian dengan skala besar, seperti ledakan di pelabuhan Beirut Lebanon pada Agustus 2020 menyebabkan total kerusakan 15 milliar dollar AS. Kemudian ledakan di pelabuhan Tianjin Tiongkok lima tahun lalu juga menyebabkan kerugian antara 2,5 hingga 3,5 milliar dollar AS.

Angka-angka kerugian tersebut menunjukkan kepada dunia industri dan masyarakat umum mengenai besarnya kerugian karena kebakaran dan ledakan.

Pada berbagai kasus, bukan kerusakan material dari kejadian tersebut yang cenderung menyebabkan banyak kerugian, meskipun kerusakan pada material juga cukup mahal.

Kebakaran yang besar dan ledakan dapat menghambat perusahaan atau industri untuk memberikan pelayanan kepada pelanggannya atau melanjutkan operasi untuk beberapa waktu. Kejadian semacam itu menjadi pengganggu yang paling sering pada bisnis.

Data lain juga menunjukkan bahwa kebakaran dan ledakan menjadi penyebab utama kerugian pada bisnis di seluruh dunia selama lima tahun hingga 2018. Berdasarkan analisis dari Allianz, menyebabkan kerugian hingga 14 milliar euro.

Seiring dengan penilaian risiko yang terus berubah karena kebakaran dan ledakan, tampaknya risiko tersebut tidak akan benar-benar hilang.

Upaya mitigasi api yang hati-hati–melalui penilaian secara rutin dan update–menjadi langkah pencegahan. Kemudian metode pemadaman api dan rencana kontijensi dengan demikian masih sangat penting untuk semua bisnis dalam rangka mengurangi risiko kerugian dari suatu kejadian bencana.

8, Perkembangan Ekonomi Makro

Silakan baca juga: Tentang Connection Economy (Ekonomi yang Terhubung)

Suku bunga akan tetap rendah untuk jangka waktu lama di Amerika dan lebih lama lagi di Eropa.

Untuk pasar, suku bunga yang rendah dapat menjadi racun yang manis. Kata ahli ekonomi dari Allianz. Mereka menghilangkan kemampuan pasar dan bank untuk menentukan harga dan mengalokasikan sumber daya secara tepat dan mendorong pengambilan risiko tak terkendali baik oleh debitur dan investor.

Kita dapat lebih percaya diri untuk perkiraan ekonomi jangka pendek. Di tahun 2021, GDP global diharapkan akan kembali positif di angka 4,4 persen dibandingkan kontraksi sebesar -4,5 persen yang terjadi di tahun 2020.

Di samping banyaknya bantuan keuangan dan fiskal, sumber pertumbuhan utama di tahun 2021 adalah kejutan positif yang dipicu oleh kampanye vaksinasi, dorongan konsumsi, investasi, dan perdagangan.

Dalam skenario pertumbuhan ini, risiko yang naik dan turun menjadi penting. Kampanye vaksinasi yang masif dan sukses dapat meningkatkan semangat pelaku ekonomi. Diharapkan akan menambah 2 persen pada pertumbuhan GDP.

Dorongan pertumbuhan ekonomi akan berasal dari konsumsi warga sebagai hasil pembelajaaan tabungan mereka. Di wilayah Eropa, diharapkan 597 milliar Dollar Amerika diperkirakan sedang disimpan dan menunggu untuk dibelanjakan.

Namun, catatannya adalah jika kampanye vaksin tidak berhasil, maka kondisi akan berubah 180 derajat. Berbagai perkiraan di bidang ekonomi tersebut bisa jadi akan berlaku sebaliknya.

Setelah cukup optimis di jangka pendek, sayangnya penelitian menunjukkan kondisi yang cukup pesimis untuk jangka menengah dan panjang. Hal ini terjadi, terutama karena hutang global yang mencapai angka 277 trilliun dollar Amerika di tahun 2020 akan terus membebani pertumbuhan ekonomi di masa depan.

9, Perubahan Iklim dan Ketidakpastian Cuaca

Silakan baca juga: Pilihan itu Bernama Adaptasi Perubahan Iklim

Perubahan iklim melorot dua poin posisinya pada kumpulan risiko untuk dunia bisnis di tahun ini. Kondisi ini terjadi karena risiko perubahan iklim menurut para responden telah digantikan oleh risiko akibat pandemi.

Virus menjadi ancaman ‘dadakan’ di tahun 2020, baik untuk keamanan individu maupun bisnis. Karena itu tidak mengejutkan jika penyebaran pandemi meningkat pesat posisinya dan akibatnya posisi dari bahaya lainnya menjadi turun.

Pandemi juga akan tetap menjadi risiko prioritas sepanjang tahun 2021 sampai program vaksinasi memberikan dampak dan dunia usaha dapat kembali ke kondisi normalnya setelah pandemi.

Terdapat kesamaan antara pandemi dan perubahan iklim. Keduanya adalah risiko global yang sistemik. Namun, dibandingkan Covid-19, perubahan iklim adalah risiko yang datangnya perlahan dan disebabkan oleh banyak faktor serta beragam pula dampaknya.

Meskipun virus telah menyebabkan pengurangan minor pada emisi di tahun 2020, karena berkurangnya lalu lintas, pariwisata, dan aktivitas industri. Namun, kebutuhan untuk mengatasi dan mencegah perubahan iklim dan pemanasan global tetap tinggi seperti sebelumnya, karena berbagai perkembangan yang kurang menggembirakan di akhir-akhir ini.

Enam tahun terakhir menjadi yang terpanas sejak dimulainya perekaman. Tahun 2020 menjadi yang terpanas di Eropa dan tahun terpanas yang pernah tercatat.

Sebagai tambahan, terdapat musim badai dan kebakaran hutan dan lahan yang menciptakan rekor baru di Amerika Utara dan Australia. Sementara di California mencatat api raksasa atau ‘gigafire’ yang pertama.

Pada saat yang sama, angin topan dan badai di Eropa dan Amerika Utara semakin sering yang kadang dilengkapi dengan hujan es dan tornado. Fenomena ini pun kemudian meningkatkan kerusakan yang terjadi.

Perubahan Iklim sebagai Agenda Prioritas

Tahun 2020 menjadi tahun pandemi. Di tahun 2021, perubahan iklim akan kembali menjadi agenda priortas.

Perubahan iklim akan memaksa berbagai dunia usaha untuk menyesuaikan strategi dan model bisnis agar bergerak ke dunia yang lebih rendah karbon.

Pengelola risiko perlu berada paling depan untuk mengawal perubahan itu. Mereka bertugas untuk menilai transisi risiko dan peluang terkait pasar, perubahan teknologi, isu mengenai reputasi, perubahan pada kebijakan, peraturan, dan risiko fisik.

Para pengelola risiko beserta pemangku kepentingan (stakeholders) terkait perlu membantu untuk mengidentifikasi kemungkinan dan berbagai skenario untuk mengevaluasi dampak pada bisnis dan keuangan yang terjadi setelah transformasi perusahaan menjadi rendah karbon.

10, Risiko Politik dan Kekerasan

Silakan baca juga: Perbedaan antara Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim

Risiko politik dan kekerasan kembali masuk ke dalam 10 risiko paling dikhawatirkan pada dunia bisnis, setelah pertama kali terjadi pada tahun 2018.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dinamika di masyarakat seperti protes dan pemberontakan menjadi tantangan lain bagi dunia bisnis. Sebelumnya, terorisme menjadi risiko politik utama yang membuat suatu perusahaan rentan.

Jumlah, skala, dan durasi berbagai kejadian yang terjadi di masyarakat pada waktu-waktu terakhir cukup luar biasa. Sebut saja, protes ‘rompi kuning’ di Prancis yang menyebabkan kerugian 90 juta dollar, kemudian di Hong Kong sebesar 77 juta dollar, di Chile sekitar 2 milliar dollar, dan di Ekuador sebesar 821 juta dollar.

Sementara itu, di Amerika pada paruh kedua tahun 2020 terjadi kerusuhan berbasis rasial setelah kematian George Floyd dan munculnya gerakan ‘Black Lives Matter’. Kericuhan juga semakin berlanjut karena pemilihan presiden Amerika dan penyerbuan gedung US Capitol.

Sebagai tambahan, demonstrasi anti-lokcdown telah berubah menjadi kerusuhan di beberapa negara. Kendati peristiwa ini tidak sampai menimbulkan kerugian, tetapi kericuhan politik telah kembali menjadi perhatian para pengelola risiko.

Yang perlu diingat adalah: dunia bisnis tidak harus terdampak langsung dari kericuhan atau terorisme untuk mengalami kerugian.

Keuntungan bisnis dapat hilang dengan atau tanpa kerusakan fisik jika area sekitarnya terdampak dari berbagai kerusuhan dan teror. Bisnis juga memerlukan waktu untuk kembali normal ketika infrastruktur diperbaiki dan pelanggan serta pemasok dapat kembali datang.

Ketertarikan kepada perusahaan juga bisa berkurang ketika ada penutupan di suatu lokasi. Akibatnya akan menyebabkan berkurangnya jumlah pengunjung.

Prediksi ke depan pun tampaknya tak akan mudah. Seiring dengan penurunan kondisi sosial dan ekonomi karena pandemi, aktivitas protes di tingkat global pun akan meningkat. Data dari Maplecroft menunjukkan bahwa 75 negara akan mengalami peningkatan kejadian demonstrasi di akhir tahun 2022. Di antara jumlah tersebut, 30-nya akan berada di Eropa dan Amerika.

Badai Krisis yang Sempurna

Kata Bjoern Reusswig, dari AGCS, “Kita menghadapi badai yang sempurna.” Alasannya adalah karena kita menghadapi kondisi dunia saat ini karena Covid-10, penurunan kondisi ekonomi, meningkatnya nasionalisme, otoritarianisme, separatisme, penurunan pendekatan problem solusi untuk masalah multilateral, erosi nilai-nilai demokrasi, munculnya era post-truth, serta meningkatnya ketidakpercayaan antara Tiongkok dan Dunia barat.

Kondisi itu makin diperparah dengan makin terkoneksinya dunia di sisi produk, layanan, dan kemampuan lebih banyak orang untuk melakukan perjalanan ke seluruh dunia hingga global.

Isu kerusuhan oleh masyarakat dan separatisme/nasionalisme akan tetap menjadi topik kekisruhan politik di masa depan. Pandemi telah menyebabkan beberapa negara mengambil kebijakan yang lebih ketat untuk isu pengungsi dan pencari suaka. Negara itu pun mengalami kemunduran dalam pembangunan, sehingga makin memperburuk dampaknya pada negara berkembang.

Pada saat yang sama, hutang dan krisis mata uang akan terus berlanjut di perekonomian negara berkembang. Kondisi-kondisi tersebut akan menjadi bahan bakar untuk berbagai insiden, baik itu separatisme dan nasionalisme, termasuk ekstrimisme religius dan xenophobia atau ketidaksukaan pada berbagai hal yang asing.

Dari kondisi ini semestinya akan meningkatkan pasar asuransi untuk spesialisasi kerusuhan politik dan terorisme. Jenis asuransi kerugian lainnya yang hendaknya meningkat adalah asuransi properti untuk seluruh risiko (all risk). Namun, penurunan ekonomi global telah memberikan dampak yang cukup besar di sektor asuransi ini.

Sebuah ironi pun terjadi, ketika kesadaran akan ancaman dan risiko akibat kerusuhan politik meningkat, tetapi karena keterbatasan anggaran, banyak perusahaan mengurangi pembelian asuransi jenis ini. Bahkan, mungkin ada pula yang benar-benar menghentikan pembelian asuransi ini.

Penutup

Setelah membaca dan mengetahui 10 risiko krisis dan bencana yang paling mengancam dunia bisnis, maka diharapkan dapat diperoleh langkah-langkah antisipasi yang perlu dilakukan.

Tujuan dari langkah antisipasi tersebut adalah untuk mengurangi kerugian dan menyelematkan nyawa mereka yang mungkin akan terdampak karena krisis dan bencana.

Kemudian diharapkan akan tercapai ketangguhan dalam menghadapi berbagai krisis dan bencana, sehingga dapat menerima, menyerap, dan pulih kembali dari berbagai risiko yang dihadapi.

Terima kasih banyak sudah membaca sampai di sini.

Salam hangat.

Sumber:

  1. Allianz Risk Barometer
  2. Covid Trio Risiko
  3. Risiko Pasar
  4. Risiko Perubahan Peraturan
  5. Risiko Bencana Alam
  6. Risiko Kebakaran dan Ledakan
  7. Risiko Makroekonomi
  8. Risiko Perubahan Iklim
  9. Risiko Politik