Opini: Becak, PKL, Tragedi, dan Nawa Cita

Derita trotoar dan pejalan kaki di Jakarta
Trotoar kian lebar, namun penggunanya pun makin beragam.
Setelah Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta, mengeluarkan pernyataan mengenai becak, baik itu becak boleh beroperasi kembali, pengayuh becak harus dilatih mengayuh, hingga datangnya becak dari luar karena ditunggangi kepentingan dan partai politik, maka banyak sudah reaksi yang bermunculan.
 
Sebagian pihak setuju hadirnya kembali becak karena seperti yang disampaikan Gubernur, becak dapat menolong ibu-ibu yang membawa banyak barang belanjaan dari pasar dan kesulitan kalau harus naik ojeg. Becak juga diharapkan dapat mendukung kelestarian lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar fosil yang menyebabkan polusi.
 
Di sisi lain, kehadiran becak di Jakarta tidak disetujui karena bertentangan dengan peraturan daerah tentang transportasi umum, menyebabkan kesemrawutan, menambah kemacetan jalanan Jakarta dan lain-lain.
 
Terlepas dari pro dan kontra tersebut, isu dan kehadiran becak sesungguhnya merupakan skenario amat pintar dengan dampak sangat luas di seluruh Indonesia dan menentukan wajah negeri ini di masa datang.

Continue reading “Opini: Becak, PKL, Tragedi, dan Nawa Cita”

Opini: Masyarakat dan Penanggulangan Asap

Masyarakat dan Tentara Bekerja Sama Memadamkan Kebakaran Hutan dan Lahan (kompas.com)

Opini ini pertama kali ditayangkan di Kompas Cetak, 15 September 2015. Tautan asli dapat di klik di sini.

JAKARTA, KOMPAS – Setiap tahun, warga di kawasan Sumatera dan Kalimantan menderita karena kebakaran hutan dan lahan. Penyebab bencana asap telah diketahui dan berbagai upaya telah dilakukan untuk memadamkan. Namun, bencana tersebut selalu berulang dan menjadi hajat tahunan republik ini.

Manusia adalah penyebab utama kebakaran hutan dan lahan. Kondisi makin parah karena faktor kemarau dan fenomena El Nino yang mempermudah dan memperluas penyebaran api.

Oknum-oknum pembakar hutan dan lahan jelas memiliki motif ekonomi. Continue reading “Opini: Masyarakat dan Penanggulangan Asap”

Opini: Smart City untuk Simeulue sebagai Kawasan Terluar Indonesia

Keindahan Pantai di Simeulue (Sumber: Kompasiana)

Simeulue Selayang Pandang

Pada medio September 2017 yang lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh. Kabupaten Simeulue adalah salah satu daerah terluar di belahan Barat Indonesia. Kabupaten ini memiliki segudang potensi yang belum digali, namun juga tantangan yang mesti dihadapi.

Posisi Kabupaten Simeulue menjadi tantangan utama daerah ini. Selain berada di wilayah terluar Indonesia, Simeulue juga berada dekat dengan zona tumbukan lempeng yang rawan bencana gempa bumi dan tsunami. Tercatat beberapa kali kabupaten ini disapa gempa dan tsunami. Pada 1907, misalnya, tsunami menghantam pantai-pantai di Simeulue dan menyebabkan banyak korban jiwa.

Setelah itu, bersamaan dengan tsunami besar pada 26 Desember 2004, Simeulue pun turut dilanda tsunami. Namun, pada peristiwa ini tidak seperti daerah lain di Provinsi Aceh yang mengalami banyak korban. Simeulue memiliki kearifan lokal yang dinamakan smong yang memungkinkan warga di sana terhindar dari malapetaka tsunami. Continue reading “Opini: Smart City untuk Simeulue sebagai Kawasan Terluar Indonesia”

Opini: Aplikasi Pintar untuk Hadapi Macet

Macet yang setiap hari terjadi di kota-kota besar (source: cnn.com)

Gerakan Menuju 100 Smart City

Diperkirakan pada tahun 2040 nanti, 80% penduduk Indonesia akan tinggal di perkotaan. Lonjakan jumlah penduduk tersebut jika tidak ditanggapi dengan baik akan menimbulkan banyak persoalan seperti kemacetan, pengangguran, lingkungan kumuh, kemiskinan, dan persoalan sosial lainnya.

Sinergi di antara lembaga pemerintah dan swasta diperlukan untuk mengatasi berbagai persoalan di perkotaan. Salah satu program yang dilakukan adalah Gerakan Menuju 100 Smart City. Inti dari gerakan ini adalah adanya dukungan pemerintah pusat kepada pemerintah kabupaten/kota untuk meletakkan fondasi yang diperlukan guna pengembangan Smart City.

Gerakan Menuju 100 Smart City dimulai di Makassar dan dipilih 25 Kabupaten/Kota sebagai tahap pertama. Selanjutnya, pada dua tahun ke depan akan dipilih lagi 75 Kabupaten/Kota, sehingga pada tahun 2019 tercipta 100 kota yang pintar.

Kota Bekasi dan Tangerang sebagai Smart City Continue reading “Opini: Aplikasi Pintar untuk Hadapi Macet”

Opini: Bagaimana Memberikan Kritik yang Membangun?

Seringkali kita diminta untuk memberikan kritik yang membangun. Namun, yang lebih sering terjadi adalah kita memberikan kritik tanpa disertai ide untuk membangun atau memberikan solusi. Pada kasus pertama, memberikan kritik, semua orang bisa melakukannya. Sementara pada kasus kedua, yaitu memberikan ide untuk membangun atau memberikan solusi untuk satu persoalan, barangkali tidak semua orang bisa atau enggan melakukannya.

Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana cara memberikan kritik yang membangun tersebut?  Continue reading “Opini: Bagaimana Memberikan Kritik yang Membangun?”