Cerpen: Hujan November

Apakah kamu membutuhkan waktu untuk sendiri?

Ini November dan hujan di mana-mana. Angin membawa air yang siap diturunkan kapan pun ia ingin. Menyentuhi genting, jatuh di kerikil, sebagian menyapu beranda kita. Daun bergoyang tak karuan karena hembusan angin, ia tak tegak justru luruh karena menahan beban air.

Aku melihat pundakmu pun tak teguh, seperti menahan beban. Ada yang kamu tahan-tahan tak hendak dilepaskan. Aku baru tahu manakala aku melihat matamu, di sana ada getir. Cermin hatimu itu menggambarkan puspas yang menderu-deru di kedalaman.  Ada air yang menggenang di sana, seperti ragu akan sesuatu yang dulu bergejolak di kedalaman hatimu. Dulu… dulu sekali.

Kita berdua tahu, tak ada yang abadi. Kita sama tahu, bahwa hati pun satu waktu bisa berubah. Dan tahukah kamu? Aku pun merasakan hal yang sama.

Aku ragu padamu.

Air yang jatuh di kerikil pecah menjadi serpihan, kali ini memercik ke pot bunga. Bersama dengan itu, air di matamu pun mengalir turun, melintasi pauh pipimu. Membentuk lintasan, meninggalkan bekas, semacam jejak.

Tahukah kamu, saat itu ada badai di hatiku. Saat aku melihat air matamu, maka detik itu pula aku merapuh. Kala cinta menjadi bara, sekadar tangan pun tak kuasa menahannya. Derita kita, mulai tak tertanggungkan.

Dalam diam masih kamu perhatikan jalannya air yang tadi memercik di kerikil. Ia bersatu dengan yang lain, mulai mengalir masuk ke dalam selokan. Helaan nafasmu pun terdengar, seperti ada yang hilang bersama dengan lajunya air.

Sudah lama kita menjalaninya, rasa yang dahulu pernah bergelora ini. Sedari itu, kita bersama melangkah, sudah cukup lama memang. Sampai… sampai kemudian kita sadar, langkah kita, jejak yang kita buat, lintasan yang kita bikin adalah sebuah cara. Semacam  perangkat untuk menyembuhkan luka di hati kita masing-masing. Ia menjadi semacam obat.

Tapi bagaimana bila obat itu sudah tak mujarab lagi?

Barangkali kemudian kita akan melangkah. Kita berdua tahu, bahwa cinta akan selalu datang dan pergi. Meski, kita tak pernah tahu siapa yang akan pergi hari ini. Melangkah menjauh….

Hei, ada lagi sebutir air yang hinggap di genting. Lalu sebutir lagi, kemudian lagi dan lagi. Kapan hujan ini akan berakhir? Barangkali ia akan terus turun sampai tak bersisa lagi di atas sana, hingga puas langit menangis. Biarlah, asal semua ada di jalurnya. Berjalan di jalur genting dan tak menyapa masuk ke dalam rumah.

Seperti halnya kita. Manakala kita membiarkan waktu menuntun kita di jalan yang sudah ditentukan, mungkin aku akan semakin paham. Mengerti bahwa kamu milikku dan tentu saja aku milikmu. Apakah kamu membutuhkan waktu untuk sendiri? Atau tetaplah menjadi milikku. Namun jangan ragu, jangan pernah ragu atau aku yang akan melangkah pergi meninggalkanmu.

Hujan mulai reda, meninggalkan daun yang masih bergoyang ditiup angin. Perlahan namun pasti, air di daun itu pun mulai hilang. Dan lihatlah, daun itu kini mulai tegak. Harap jangan pula dilupakan, bagaimana tanah basah yang ditinggalkan mulai mengeluarkan aroma memabukkan. Ini aroma purba yang kembali menyeruak, menembusi syaraf-syaraf di hidung kita. Menggerakkan syaraf di otak dan memerintahkan hati untuk kembali.

Aku tahu bukanlah hal yang mudah untuk tetap membuka hatimu. Apakah kamu membutuhkan waktu untuk sendiri? Atau mau bersama teman-temanmu? Namun, apakah kamu yakin dengan mereka.

Mereka yang justru seperti harimau lapar dan akan memakanmu. Menertawakan semua sedihmu, merusakmu, merusakmu.

Sekali ini saja, cobalah kembali bersekutu dengan waktu dan biarkan ia menyembuhkan sakit di hatimu. Barangkali saja ia bisa menjadi jamu penawar luka, menimbulkan tawa.

Hei, kau lihatkah pelangi? Itu, di sana. Agak jauh di ufuk. Cobalah bergeser sedikit dan nikmatilah permainan warnanya. Sudahkah kau lihat?

Maka ketika kamu merasa takut dan bayangan melingkupimu. Percayalah, bahwa itu pertanda kalau ada cahaya di dekatmu. Lupakan saja semua gelap itu, carilah seberkas sinar yang akan menuntunmu. Menunjukkan padamu sebuah jalan keluar, karena tak ada yang abadi apalagi sekadar hujan di bulan November.

Sebuah terjemahan bebas dari ‘November Rain’ punya Gun ‘n Roses. Silakan dinikmati sembari mendengarkan lagunya 😛

Gambar dari sini

Cerpen: Bayangan

Kamu seperti bayang-bayangku, turut ke mana pun aku melangkah….

Adalah A, dan ini ceritaku tentangmu.

Undangan merah jambu itu masih tergeletak di meja. Plastik pembungkusnya masih terbungkus rapi. Aku tak merasa perlu untuk sekadar membukanya.

Inisial namamu, A, dan ahhh, bahkan tak kuperhatikan siapa pasanganmu. Hanya dari deretan alamat yang kuhapal di luar kepala, telah membuatku mengerti, paham, bahwa kamu bukan untukku. Barangkali untuk selamanya.

Di sebuah kelas, sepuluh tahun yang lalu.

A, kamu duduk di belakangku. Apa yang biasa kamu lakukan kalau guru memberi pelajaran yang membosankan?

Terkadang aku suka mencuri pandang, dan heiii, apa yang kamu lakukan? Kamu memandangku. Hahaha, penawar kebosanan macam apa itu?

Dan bagaimana bila aku bosan? Ugh, jujur aku pun ingin balas memandangmu.

Lalu, kenapa pula kita harus saling pandang sembunyi-sembunyi?

Karena, A, kamu dan aku tahu, ada yang tak terucapkan di antara kita. Sebuah rasa yang menelusup begitu laten yang menghangatkan hati kita manakala kita bersama.

Rasa itu, A, tak pernah kau ucapkan, tapi aku tahu. Rasa ini, A, ada di dalam hatiku bersemayam di sana dan kamu pun tahu biarpun aku hanya diam.

Lalu, kita pun berpura-pura.

Kita bersandiwara seolah tak ada suatu apa yang terjadi antara kita. Kepopuleranmu perlahan membelenggumu, memborgolmu begitu erat dan mendudukkanmu di pucuk ketenaran. Kamu, A, adalah bisik-bisik di setiap bibir gadis yang merekah di sudut kantin.

Aku adalah bunga yang tumbuh di pinggir. Aku terlampau sibuk dengan rumput dan tak menyadari hadirmu yang begitu dekat. Aku silau oleh matahari. Maka aku menatapnya dan barangkali aku buta. Tapi, aku merasa, A, hanya, aku tak kuasa untuk berkata.

A, bukankah kamu jengah dengan semua bunga cantik yang mencoba-coba menarik hatimu itu? Kamu berjalan pongah, yang, ahhh… itu justru malah membuat mereka semakin terperangah.

Kenapa, A, kenapa kamu betah denganku, mencuri pandang kala bosan mendera? Bunga-bunga cantik itukah penyebabnya? Kukira iya, kamu bosan dengan tingkah polah mereka.

Lalu, kenapa aku, A? Aku yang bahkan acuh padamu. Berjalan diam dalam kesendirianku, tafakur dalam sunyiku. Kendati memang aku menutupinya dengan tertawa bersamamu, bercanda. Senyum itu, A, bukan untukmu, itu untuk hatiku sendiri yang takkan kubagi.

Dan mungkin kamu tahu itu, maka kamu cukup dengan memandangku dan bersamaku setiap waktu. Aku pun telah puas, manakala aku merasa kamu masih di belakangku dan memandangku.

Kita berdekatan tapi tak pernah bersentuhan. Kamu adalah bayangan, yang tak bisa kusentuh, semakin aku mendekat, berkas cahaya membuatmu mulur lalu memanjang dan semakin sulit kujangkau.

Sekarang aku sadar, bahkan waktu pun tak kuasa untuk memisahkan bayangan itu. A, kamu masih di belakangku, bahkan saat ini ketika aku menerima surat undangan darimu.

Selamat, A.

Ditulis atas pesanan dari seorang sahabat yang centil :DMenul