Cara Meningkatkan Pengaruh Akun LinkedIn Anda
Cara Meningkatkan Pengaruh Akun LinkedIn

Anda sudah cukup lama mencoba menggunakan LinkedIn. Namun, pengaruh dan pertumbuhan akun Anda tak terlalu menggembirakan.

Akibat dari hal itu, Anda pun mulai ragu-ragu dan bertanya-tanya, apakah LinkedIn memang platform yang tepat untuk mengembangkan akun atau personal branding Anda.

Jika Anda mengalami hal itu, mari kita belajar dari Tim Denning, seorang blogger Australia yang sangat berpengaruh di LinkedIn. Hal ini ditandai dengan reaksi, entah itu jumlah like (dengan berbagai variasinya), share, dan komentar terhadap setiap postingannya.

Berikut ini beberapa cara atau strategi yang digunakan Tim untuk meningkatkan pertumbuhan akun LinkedIn.

Selamat menyimak!

LinkedIn Memiliki ‘Bahasa’ yang Unik

Kesadaran akan bahasa yang unik di LinkedIn ini perlu dipahami benar-benar.

Kendati keunikan itu hanya sedikiiiitttt sekali dibandingkan berbagai platform lainnya, tetapi jika mengabaikan keunikan tersebut, maka upaya Anda untuk menumbuhkembangkan akun bisa menemui kegagalan yang memerihkan hati.

Pendek kata, ketika Anda mengabaikan ‘bahasa’ unik di LinkedIn, maka upaya Anda akan sia-sia.

Jika hal ini terjadi, maka kegagalan di LinkedIn akan membuat Anda menyerah dan kemudian berpindah ke platform yang lain.

Nanti di platform yang baru itu pun Anda akan mencoba, tetapi gagal lagi dan lagi. Sungguh kasihan sekali jika itu yang terjadi.

Lalu, bagaimana cara untuk meningkatkan pertumbuhan akun Anda di LinkedIn?

Anda perlu memahami bahasa unik LinkedIn. Kemudian Anda mengulang strategi yang berhasil berdasarkan pemahaman akan bahasa unik tersebut.

Setelah itu, Anda dapat mengubah beberapa kata yang sangat penting di LinkedIn dan semoga dengan melakukan hal itu Anda akan sukses.

Kemudian setelah melakukan hal itu, Anda pun dapat mengembangkan platform LinkedIn lebih cepat daripada yang diharapkan.

Bahasa LinkedIn dari Kita, Bekerja, dan Pantry

Marilah kita membayangkan situasi suatu kantor….

Di pagi hari orang-orang atau para pegawai akan berangkat bekerja, menuju ke kantornya masing-masing.

Sesampainya di kantor, mereka pun akan mulai sibuk bekerja atau pura-pura kerja. Terus begitu untuk beberapa saat. Namun, tentu ada pula yang sibuk ngobrol sedari pagi.

Selanjutnya jelang makan siang pun tiba.

Ada yang pergi keluar untuk makan siang di warung langganan. Mungkin di pinggir kali yang meskipun bau tapi lebih menyegarkan dibandingkan aroma kantor yang wangi, tapi menyebalkan.

Sebagian yang lain sudah memesan ke Mas dan Mbak Office Boy menu makan siang favoritnya. O, atau kalau sekarang ya pesan di aplikasi pesan antar makanan, orang, dokumen, dan lainnya itu.

Sambil bekerja, kadang sambil bercerita, atau memantau perkembangan dunia maya, para pekerja itu pun akan menanti pesanannya dengan penuh harap, karena perut sudah sulit diajak kompromi.

Akhirnya pesanan pun tiba diantar ke meja masing-masing atau perlu dijemput di titik pertemuan alias meeting point.

Setelah itu, para pekerja itu pun akan berkumpul di pantry (kalau cukup besar) atau di area kantor yang lain yang memungkinkan berkumpul dan makan bersama.

Menurut penelitian, memang makan bersama dapat meningkatkan hubungan kerja, sehingga diklaim mampu meningkatkan produktivitas kerja.

Namun, benarkah demikian?

Bisa jadi, sih, tetapi sepertinya itu akan memerlukan waktu. Adapun sekarang ini masih perlu bersabar untuk terwujudnya makan siang yang mendongkrak performa kerja.

Nah, setiap makan siang, orang-orang cenderung akan berkumpul. Biasanya di pantry atau di tempat berkumpul lainnya.

Di tempat-tempat itu, para pekerja akan bertukar gosip terkini mengenai apa saja, dari bos yang nyebelin, rekan kerja yang sok tahu, hingga aktivitas akhir pekan yang menyenangkan bersama pasangan dan keluarga.

Meskipun beragam topik yang dibahas, tetapi paling tidak ada beberapa kesamaan perilaku.

Pertama, para pekerja itu akan menjaga agar suara yang mereka produksi tidak terlalu berlebihan dan mengganggu rekan kerja lain yang masih sok sibuk bekerja di kala makan siang.

Kedua, para pekerja itu akan menghindari menggunakan bahasa yang kurang pas. Bagaimana pun mereka itu para pekerja yang semestinya menjaga tutur kata, sikap, dan perilaku, bukan? Apalagi saat bergosip, mereka tentu memilik kode-kode tertentu yang hanya diketahui antar para pekerja se-gang itu.

Poinnya adalah, para pekerja itu menggunakan bahasa tertentu yang berbeda dengan ketika mereka berada di luar kantor.

Alasan lainnya adalah karena bisa saja bos-bos yang suka iseng itu akan datang sewaktu-waktu dan tiba-tiba nimbrung ke pembicaraan.

Apakah kira-kira sudah tergambar ya bagaimana situasinya?

Nah, kira-kira seperti itulah ‘suara’ atau ‘bahasa’ yang digunakan di LinkedIn.

Jika Anda tidak akan mengatakan suatu hal di pantry atau ketika berkumpul dengan teman saat makan siang, maka besar kemungkinkan dan sudah sepantasnya Anda pun tidak mengatakan hal itu di LinkedIn.

Kenapa LinkedIn Sangat Tertata?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu melihat sejarah di balik berdirinya LinkedIn berikut ini:

  • Para bos seringkali khawatir dan memerhatikan apakah pegawainya mencari peluang yang lain atau tidak.
  • Setiap kita khawatir tentang orang lain yang akan memantau profil LinkedIn mereka.
  • Setiap orang memiliki asumsi, bahwa bos-nya memantau segala tindak tanduk mereka.
  • Ada kemungkinan kegiatan kita di LinkedIn akan memengaruhi pekerjaan kita.

Akibat berbagai kekhawatiran dari diri kita dan yang disebabkan oleh orang lain, maka kita mencoba selalu tertata dan terjaga ketika berinteraksi di LinkedIn.

Namun, pertanyaannya adalah, bagaimana kita menjaga agar tetap tertata saat membuat postingan di LinkedIn, tetapi juga menarik perhatian orang lain dan menimbulkan interaksi?

Bagaimana Menemukan Keunikan dari Bahasa LinkedIn?

Kata Tim, cara paling sederhana untuk melakukan hal itu adalah dengan mengingat beberapa kata kunci di kepala kita.

Agar sukses di LinkedIn, saran Tim adalah Anda harus menyebutkan beberapa kata kunci berikut ini. Sayangnya, tentu saja Tim menyarankan kata kunci dalam Bahasa Inggris.

Namun, tenang, saya akan memberikan padanan/terjemahan katanya dalam Bahasa Indonesia. Hanya, ini perlu dicoba juga efektivitasnya ya.

Kata kunci yang akan meningkatkan pertumbuhan akun LinkedIn Anda adalah:

  • Work atau bekerja
  • Career atau karier
  • Business atau bisnis
  • Office atau kantor

Ketika Anda mengubah bahasa di LinkedIn atau cara menyampaikan sesuatu menggunakan kata-kata kunci tersebut, maka Anda akan mendapatkan perhatian. Kita langsung masuk ke dalam contoh saja ya.

Ketika salah seorang teman Anda meninggal, maka cara Anda membagi cerita mengenai hal itu adalah dengan cara: “Saya meminta izin satu hari kerja untuk menghadiri pernikahan teman.

Apakah Anda mengalami kecelakaan tertentu? Anda dapat mengungkapkan hal itu di Linkedin dengan cara: “Ini terjadi ti tempat kerja, ketika aku mencoba menyelesaikan pekerjaanku.

Apakah sesuatu terjadi pada saat berlibur? Kalau ini terjadi dan Anda ingin menyampaikannya di LinkedIn, maka kira-kira begini cerita itu seharusnya: “Aku meminta cuti dari kerja agar bisa sedikit menjauh dari kantor minggu lalu. Kemudian, ketika aku mulai berbikir mengenai sebuah bangku di pantai, aku segera terbayang ….”

Apakah Anda menemukan suatu ide yang luar biasa ketika berkendara? Kalau itu berhasil menemukannya, maka cara berbagi di LinkedIn adalah: “Aku sedang dalam perjalanan ke pantai ketika aku menyadari sesuatu.

Saran tambahan:

Jangan melakukan tindakan yang tidak menghormati budaya yang sudah tercipta.

Menangkan permainan di LinkedIn dengan cara menguasai Bahasa Unik di LinkedIn.

Tulisan lain dari blog ini yang akan membantu Anda menjadi versi lebih baik dari diri Anda dan bisnis adalah:

Rencana Kelanjutan Bisnis, 7 Langkah untuk Menilai Risiko dan Merencanakan yang Tak Terduga