Bencana karena Kegagalan Modernisasi
Bencana Karena Kegagalan Modernisasi

Contoh bencana karena kegagalan modernisasi di Indonesia perlu dilihat dengan memahami modernisasi itu sendiri.

Dalam pengertiannya di KBBI, modernisasi adalah pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan tuntutan masa kini.

Jika itu yang dimaksud, maka kita mengenal adanya bencana sosial, seperti kerusuhan, peperangan, terorisme, dan lainnya.

Namun, jika yang Anda maksudkan dengan modernisasi adalah proses-proses pembangunan yang marak terjadi, maka jawabannya sedikit berlainan.

Pertama: Jenis-Jenis Bencana

Sebelum melihat contoh bencana karena kegagalan modernisasi, terlebih dahulu kita perlu mengetahui makna bencana itu sendiri.

Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dijelaskan bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Setelah memahami definisi bencana, selanjutnya kita perlu memahami jenis-jenis bencana.

Kita perlu menilik jenis-jenis bencana. Seperti kita ketahui, dalam UU 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, ada tiga jenis bencana, yaitu bencana alam, nonalam, dan sosial. Adapun pengertian dari ketiga jenis bencana tersebut adalah sebagai berikut:

Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.

Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.

Kedua: Hubungan antara Bencana dan Modernisasi

Kita perlu mengetahui hubungan antara bencana dan pembangunan atau modernisasi. Sebab, proses pembangunan selain untuk kemajuan bangsa dan negara, tak jarang juga menyebabkan munculnya risiko bencana baru.

Misalnya suatu daerah tidak pernah dilanda banjir, tetapi setelah dibangunnya sebuah komplek perumahan baru, maka kini daerah tersebut seringkali mengalami bencana banjir.

Hal tersebut dapat terjadi karena pembangunan perumahan artinya menutup daerah resapan air. Akibatnya adalah dahulu setelah hujan jatuh air akan meresap. Namun, saat ini langsung menjadi aliran permukaan.

Nah, jika banyak daerah yang tidak lagi memiliki daerah resapan air, maka saluran-saluran permukaan pun akan cepat penuh karena tidak ada yang terserap, bukan?

Namun begitu, perlu juga diingat bahwa pembangunan atau modernisasi kadang kala juga mampu meminimalkan risiko bencana dan meningkatkan kapasitas masyarakat.

Contoh pembangunan dalam kelompok ini adalah dibangunnya waduk untuk mengairi daerah yang setiap tahun mengalami kekeringan.

Contoh Bencana

Contoh bencana sosial sudah disebutkan di atas yang dapat juga terjadi karena proses modernisasi.

Selanjutnya adalah bencana alam. Sebagai contoh, pembangunan jalan tol yang melintasi hutan akan menyebabkan bencana ekologi, karena hilangnya keanekaragaman hayati bagi flora dan fauna yang habitatnya digunakan untuk pembangunan.

Di samping itu, bencana lain seperti banjir, kekeringan, dan longsor pun juga dapat terjadi setelah berbagai proyek pembangunan ini. Anda bisa menambahkan deretan persoalan ini dengan mengganti-ganti pembangunannya, misalnya jembatan, hotel, apartmen, sempadan sungai, dan lainnya, kemudian bencana ikutan yang terjadi karena hal-hal tersebut.

Ketiga: Jenis Bencana Nonalam dan Kegagalan Modernisasi

Dalam uraian di atas, sebenarnya batas antara jenis bencana alam dan non-alam agak samar. Hal ini terjadi karena fenomena non-alam, seperti pembangunan infrastruktur bergabung dengan fenomena alam seperti curah hujan tinggi yang kemudian menyebabkan banjir, longsor, dan lainnya.

Setelah itu, kita bergeser kembali ke jenis bencana nonalam. Dalam kategori ini, pembangunan dan tuntutan hidup saat ini dapat pula memicu terjadinya bencana.

Misalnya keberadaan pasar hewan liar di Kota Wuhan, yang menjadi titik tolak wabah virus Korona Baru penyebab pandemi COVID19. Setelah itu, karena gaya hidup masyarakat sekarang yang memiliki tingkat mobilitas tinggi dan kurang menjaga kebersihan, maka pergerakan mereka yang membawa virus menyebabkan terjadinya pandemi di seluruh dunia.

Sebagai tambahan, aktivitas modern yang diminati, seperti berwisata pun tak lepas dari risiko bencana. Sebab, di negara ini, lokasi wisata ada pula yang rawan bencana. Contohnya adalah di pinggir pantai yang rawan gempa dan tsunami, di pegunungan yang rawan letusan gunungapi, dan lainnya.

Baca juga: Prevention Web, Tidak ada Bencana Alam

Tulisan ini adalah jawaban saya dari sebuah pertanyaan di Quora.