Risiko dan gangguan pada dunia bisnis dapat disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari bencana, serangan siber, hingga pandemi. Pertanyaannya adalah, bagaimana mengelola risiko pada dunia bisnis?

Peluncuran vaksin untuk virus Korona menciptakan harapan, bahwa dampak buruk pandemi akan semakin memudar di tahun 2021. Meskipun langkah untuk menghambat penyebaran virus masih diperlukan untuk beberapa waktu.  

Namun, dampak ekonomi, politik, dan sosial pandemi akan menjadi sumber gangguan dan risiko untuk bisnis di tahun-tahun yang akan datang.  

Sesungguhnya perubahan mana dari pandemi yang paling memengaruhi bisnis?  

Jawaban untuk pertanyaan itu berdasarkan survey dari Allianz adalah terjadinya akselerasi pada digitalisasi, bekerja dari jarak jauh (work from home), meningkatnya angka kebangkrutan, pembatasan perjalanan, dan meningkatnya risiko siber.  

Semua dampak tersebut akan memengaruhi gangguan dan risiko pada bisnis di bulan-bulan dan tahun mendatang.

Pandemi juga telah menyebabkan rangkaian risiko lain pada bisnis, seperti perkembangan pasar, perkembangan makro ekonomi, dan kerusuhan politik. Semua risiko ini terkait dan menjadi konsekuensi dari merebaknya virus korona.  

Sebagai contoh, ketika pandemi juga terjadi kerusuhan sipil di Amerika terkait gerakan ‘Black Lives Matter‘. Kemudian di belahan dunia lain, seperti Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia, kekacauan politik terjadi karena kesenjangan dan kurangnya demokrasi.  

Para ahli menyampaikan bahwa gangguan pada kondisi politik, ekonomi, dan sosial, seperti protes, demonstrasi, dan kerusuhan sipil seringkali diabaikan. Padahal, konsekuensi ekonomi dari pandemi dapat menjadi bahan bakar untuk semakin meningkatnya kerusuhan sosial dan politik pada tahun 2021 dan setelahnya. Kemudian dampak lanjutannya adalah gangguan pada rantai pasok untuk industri yang ujungnya kan mengganggu dunia bisnis. 

Baca juga: Inilah Risiko Bencana dan Krisis untuk Bisnis di Tahun 2021

Meningkatnya angka kerugian dapat juga berdampak pada rantai pasok. Gabungan dari angka kerugian itu akan terjadi pada tahun 2021. Indeks kerugian global akan mencapai rekor pada 35% kebangkrutan sektor bisnis di akhir tahun 2021. Wilayah yang akan mengalami kenaikan tertinggi diprediksi terjadi di Amerika, Brasil, Tiongkok,  Inggris, Italia, Belgia, dan Perancis.  

Angka penyelewengan dan pencurian ternyata juga mengalami peningkatan selama pandemi. Hal ini terjadi karena pelaku kriminal mengambil keuntungan dari gangguan bisnis dan kurangnya keamanan.  

Diprediksi dampak langsung dari pandemi akan berkurang di tahun 2021, tetapi konsekuensi dari Covid-19 akan terus berlanjut untuk beberapa saat.  

Dampak ekonomi dari virus korona dapat memengaruhi permintaan. Sementara itu para pemasok mengalami kebangkrutan.  

Selanjutnya risiko siber juga akan menjadi sumber gangguan utama pada bisnis seiring dengan meningkatnya digitalisasi dan bekerja dari rumah.  

Perubahan tempat kerja menciptakan peluang baru untuk meningkatnya kejahatan siber yang terorganisasi dan didukung pembiayaan besar untuk mengeksploitasi dan mendapatkan akses pada jejaring dan informasi yang sensitif.  

Kemudian pada saat yang sama, akan meningkat pula kemungkinan dampak dari kesalahan manusia atau gangguan teknis telah menjadi penyebab dari klaim asuransi siber. 

Ancaman Siber 

Sebelum Covid-19, masyarakat dan dunia bisnis telah makin tergantung pada teknologi dan aset-aset yang tidak bisa dihitung. Kecenderungan atau tren ini akan terus meningkat seiring perubahan model bisnis dan cara bekerja.  

Covid-19 akan memicu sebuah zaman ketika inovasi dan gangguan pasar telah meningkatkan secara pesat pemanfaatan teknologi yang mengarah pada perubahan kebijakan serta hilangnya sektor-sektor tradisional karena semakin banyaknya pesaing. Berdasarkan sebuah survey, ditemukan bahwa perusahaan akan mempercepat sebanyak tiga hingga empat tahun proses digitalisasi rantai pasok dan operasinya, sementara nilai penting dari produk-produk digital juga makin cepat hingga angka tujuh tahun.   

Masyarakat yang semakin tergantung pada teknologi dan terancam kejahatan siber perlu menjadi perhatian. Teknologi ibarat pedang bermata dua untuk menjadi penyebab gangguan pada bisnis.  

Teknologi dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat untuk keberlanjutan bisnis. Contohnya adalah perubahan cara bekerja dari jarak jauh, proses pemantauan atau monitoring, atau penjualan dan pelayanan secara online. Namun, di sisi lain, teknologi juga menjadi penyebab risiko baru.  

Digitalisasi rantai pasok dapat berpotensi untuk mengurangi kejadian gangguan pada bisnis. Namun, digitalisasi tersebut juga berisiko untuk memperparah gangguan ketika berbagai teknologi–yang tak semua terlihat–tidak berjalan dengan benar.  

Digitalisasi meningkatkan transparansi di rantai pasok, sehingga organisasi dapat bereaksi secara lebih cepat dan lebih baik. Namun, serangan siber atau kegagalan teknis dapat menyebabkan gangguan yang berdampak lebih parah pada bisnis.  

Pandemi yang terjadi mungkin telah membuka kotak pandora risiko serangan siber yang menyebabkan gangguan pada bisnis. Pandemi ini mengajarkan pada kita untuk ‘mengharapkan yang tidak diharapkan’ dan mewaspadai kegagalan dari proses digitalisasi.  

Ini menjadi fenomena Angsa Hitam atau ‘Black Swan‘ dengan konsekuensi yang tidak diharapkan dari pandemi, seperti gangguan pada sistem penyimpanan di dunia maya alias cloud.  

Setiap orang berlomba-lomba untuk memanfaatkan teknologi dan mengarah ke transformasi digital. Proses ini dapat menyebabkan perusahaan teknologi di bawah tekanan yang luar biasa untuk memenuhi permintaan media penyimpanan (cloud) dan layanan teknologi informasi lainnya.  

Perusahaan teknologi akan bekerja sangat keras untuk meningkatkan kapasitasnya. Namun, pada saat yang sama dikhawatirkan akan tiba suatu masa ketika teknologi dan layanan mencapai batasnya dan tidak bisa berkembang lagi.  

Jika proses digitalisasi tidak dilakukan dengan tepat, karena pertimbangan risiko dan juga pembangunan ketangguhan, maka fenomena ‘Black Swan‘ di masa datang akan terjadi. Skenario ini melibatkan kegagalan penyedia ‘cloud’ akan menjadi kenyataan. 

Risiko Gangguan Bisnis Tradisional Tetap Perlu Dikelola 

Pandemi telah menambah kesadaran pada gangguan bisnis yang dipicu oleh gangguan non-fisik, seperti serangan siber, mati listrik, risiko politik, atau gangguan pada pihak pemasok.  

Namun demikian, bencana alam, cuaca ekstrem, dan kebakaran tetap menjadi penyebab gangguan bisnis pada banyak industri. Peristiwa ini juga tetap menjadi ancaman terbesar pada pabrik, area sekitarnya, dan juga peralatan di dalamnya.  

Kendati tren saat ini semakin mengarah ke digitalisasi, tetapi risiko tradisional seperti bencana alam, kebakaran, dan cuaca ekstrem tidak akan hilang.  

Pengelolaan risiko telah meningkat, tetapi kebakaran dan bencana akan tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai dan penyebab gangguan terbesar pada gangguan bisnis. Kerugian yang terjadi karena peristiwa ini akan sangat besar dan kita pun akan terus melihat semakin meningkatnya kerugian bisnis seiring berjalannya waktu. 

Besarnya kerugian tersebut terjadi karena semakin meningkatnya nilai atau harga faktor-faktor produksi dan juga terkonsentrasinya rantai pasok. Yang tidak boleh dilupakan adalah keterpaparan bisnis tradisional akan semakin terpengaruh pada perubahan iklim, seiring dengan semakin bergejolak dan parahnya perubahan cuaca yang menyebabkan risiko badai, banjir, dan kebakaran.  

Sekali lagi, meskipun gangguan bisnis karena serangan siber terjadi sebagai ancaman baru, tetapi bukan berarti pemicu gangguan bisnis tradisional berkurang bahayanya.  

Berbagai pengganggu bisnis ‘tradisional’ tersebut akan terus terjadi. Kemudian karena perubahan iklim dan pemanasan global, maka akan semakin berisiko untuk berbagai bisnis di masa yang akan datang.  

Iklim yang berubah akan meningkatkan risiko, seperti semakin tinggi frekuensi dan intensitas hujan, banjir, tornado, dan badai pada berbagai wilayah yang sebelumnya tidak terdampak jenis-jenis bencana tersebut.  

Dunia Bisnis Perlu Membangun Rantai Pasok yang Lebih Tangguh 

Satu perubahan positif yang mengemuka dari pandemi adalah meningkatnya kesadaran pada kebutuhan untuk mengelola proses globalisasi secara lebih baik dan membangun rantai pasok yang lebih tangguh.  

Berdasarkan jawaban dari para responden Barometer Risiko Allianz, meningkatkan pengelolaan keberlanjutan bisnis (business continuity management) adalah langkah paling penting yang harus dilakukan oleh perusahaan atau dunia bisnis untuk mengurangi risiko di rantai pasoknya. Upaya ini akan meningkatkan ketangguhan mereka dalam menghadapi risiko karena pandemi.  

Upaya ini kemudian perlu diikuti dengan membangun pemasok alternatif atau lain, berinvestasi di sistem rantai pasok secara digital, mengintensifkan pemilihan pemasok, mengaudit dan menilai risiko, serta menginventarisir upaya keamanan dan keselamatan pengelolaan stok atau persediaan.  

Pandemi telah meningkatkan kebutuhan untuk memikirkan ulang rantai pasok suatu perusahaan di dunia yang semakin global dan kompleks.  

Dunia asuransi telah memiliki pengalaman pada peningkatan secara signifikan tingkat keparahan gangguan pada bisnis yang kemudian meningkatkan jumlah klaim dari dunia industri.  

Berbagai usaha yang meningkatkan klaim asuransinya di antaranya adalah otomotif, elektronik, dan manufaktur/pabrik.  

Sementara itu, kebakaran dan bencana alam juga telah mengurangi ketersediaan stok atau barang persediaan dan meningkatkan ketergantungan pada pemasok yang terbatas.  

Sebagai dampak dari pandemi, para pebisnis mengubah rantai pasoknya. Upaya tersebut termasuk memindahkan proses produksi ke negara-negara terdekat atau memulangkan industri ke negara asal. Konsekuensi dari upay aini adalah perubahan pada lokasi atau asal pemasok.  

Kuncinya adalah bahwa perusahaan perlu memikirkan dampak dari bencana alam dan kerusuhan sipil, serta seberapa cepat mereka dapat menemukan pemasok alternatif.  

Pandemi saat ini menunjukkan betapa rentannya rantai pasok global untuk berbagai industri.  Kemudian perusahaan atau dunia bisnis yang bertahan adalah mereka yang mampu secara cepat bereaksi dan beradaptasi pada pandemi. Mereka juga melakukan pendekatan pengelolaan risiko pada operasional perusahaan.  

Peningkatan ketangguhan pada rantai pasok sangat penting untuk dilakukan. Langkah ini akan meningkatkan kemungkinan asuransi pada kerentanan rantai pasok. Selain itu, upaya ini juga akan membantu perusahaan merespon secara cepat pada tren pasar dan menjamin kesuksesan perusahaan. 

Ketangguhan dan Rencana Kelanjutan Bisnis Sangat Penting untuk Mengelola Kerentanan di Masa Depan 

Rencana kelanjutan bisnis telah menjadi fokus selama pandemi. Penyebabnya adalah karena banyak perusahaan yang menemukan bahwa rencana mereka selama ini tidak lagi mencukupi untuk mengatasi perubahan yang sangat cepat akibat pandemi dan kondisi kesehatan publik. Sebagai respon, banyak juga perusahaan yang membentuk ‘ruang kontrol’ atau panitia khusus yang merespon Covid-19, terdiri dari orang-orang penting dan para pemimpin perusahaan.  

Rencana kelanjutan bisnis perlu lebih menyeluruh (holistic) dan dinamis. Perencanaan perlu diupdate secara konsisten dan diuji, termasuk tersedianya alternatif pemasok untuk bahan mentah dan bahan setengah jadi. Perencanaan tersebut harus lintas fungsi dan terintegrasi pada pengelolaan risiko di dunia bisnis dan proses-proses strategis.  

Manakala perusahaan menyiapkan diri untuk gangguan bisnis yang ekstrem di masa depan, maka mereka perlu mempertimbangkan berbagai skenario yang mungkin belum pernah dihadapi saat ini.  

Mengidentifikasi dan memahami potensi kejadian ‘Angsa Hitam’ atau ‘Black Swan’ akan menjadi tantangan. Namun, kunci perusahaan untuk bertahan hidup adalah kemampuan mereka untuk merespon secara cepat.  

Cara terbaik bagi perusahaan untuk menghadapi situasi ini adalah melalui rencana dan skenario keberlanjutan bisnis yang menjadi tantangan lingkungan kerja dan kemampuan rantai pasok pada berbagai skenario.  

Kemampuan untuk memahami dan secara proaktif mengatasi skenario dampak pada industri dan perusahaan lebih mudah diatasi ketika krisis belum terjadi. Perusahaan perlu berpikir lebih awal dan mempertimbangkan bagaimana bisnisnya, pasarnya, pelanggannya, dan pemasoknya mungkin akan berubah dalam berbagai skenario.  

Menghadapi tantangan karena risiko gangguan pada bisnis menuntut para pengelola risiko untuk menghitung kerentanan, termasuk gangguan non fisik pada bisnis dan meningkatnya risiko. Fokus perlu dilakukan pada perhitungan pemicu gangguan pada bisnis dan kemungkinan dampaknya.  

Kemudian para pengelola risiko juga tidak bisa hanya bergantung pada strategi pengelolaan risiko tingkat tinggi. Namun, perlu dikembangkan peralatan dan sistem yang diperlukan untuk memahami pemicu gangguan pada bisnis dan mengukur dampaknya.  

Pandemi yang terjadi seharusnya menyadarkan kita dan terutama dunia bisnis pada banyaknya PR untuk menjamin kelangsungan dan ketangguhan bisnis.  

Dalam rangka mengelola risiko dan membangun solusi, maka diperlukan data, analisis, dan pertimbangan apa komponen yang bisa diasuransikan. Pengelolaan risiko saat ini sangat baik dilakukan pada komponen yang bisa diasuransikan, tetapi masih perlu perbaikan pada risiko yang tidak bisa diasuransikan, seperti aset tak ternilai, rantai pasok, dan reputasi.  

Ketangguhan akan sangat penting untuk memastikan keberlanjutan hidup usaha dalam menghadapi gangguan bisnis di masa datang. Ketangguhan ini perlu menjadi budaya perusahaan dan membantu agar gangguan bisnis dapat diasuransikan.  

Ketangguhan juga sangat bagus untuk dunia asuransi. Meskipun industri asuransi tidak dapat menghadapi berbagai tantangan, tetapi dapat bermitra dengan para pelanggan atau klien.  

Perusahaan asuransi dapat menerbitkan polis atau asuransi untuk pemicu terbesar gangguan pada bisnis, seperti bencana alam dan kebakaran, termasuk ancaman siber.  

Perusahaan asuransi juga dapat menawarkan layanan pengelolaan risiko dan memberikan solusi alternatif transfer risiko untuk mendukung para klien atau mitranya di saat yang sulit ini. 

Sumber: https://www.agcs.allianz.com/news-and-insights/expert-risk-articles/allianz-risk-barometer-2021-covid-trio.html