Ayo mengenal toponimi. Kita akan mempelajari apa sebenarnya yang dimaksud dengan toponimi dan manfaatnya pengetahuan ini untuk kehidupan sehari-hari. 

Untuk teman-teman yang ketinggalan sesi Live saya dengan @ajipepe kemarin Sabtu (5/2), janganlah engkau khawatir.

https://www.instagram.com/tv/CK9Jk33A4NI/?utm_source=ig_web_copy_link

Kali ini saya ingin berbagi catatan penting dari sesi tersebut.

Mungkin yang paling menarik untuk kita adalah mengenai Toponimi.

Jadi, seperti kemarin sudah disampaikan, teman saya @ajipepe ini ahli toponimi.

Toponimi sendiri singkatnya adalah nama-nama suatu tempat, penampakan alam, jalan, jembatan, dan lainnya.  

Urusan nama ini terlihat sepele, padahal jika kita merenung agak lama di toilet, eh. Bisa jadi persoalan nama ini menjadi cukup panjang.  

Seperti halnya manusia, dari lahir hingga meninggal dia menyandang sebuah nama. Bahkan, setelah meninggal pun nama itu masih menjadi penanda di batu nisan.  

Singkat cerita, nama menjadi penanda dan pembeda antara saya dengan Anda, antara sini dan sana, antara banyak lainnya.  

Sederhananya, apa yang akan terjadi jika seseorang mengaku-aku dirimu di IG, misalnya dengan menggunakan namamu?  

Next,  

Seperti sudah disampaikan sebelumnya, toponimi berkaitan dengan nama.  

Namun, ternyata lebih dari itu. Sebab toponimi juga menyangkut koordinat atau berkaitan dengan lokasi. 

Kemudian toponimi juga berkaitan dengan sejarah. Misalnya apa asal usul nama Jakarta, semacam itu.  

Sampai sini sudah paham kan, ya?  

Intinya di masa sekarang toponimi kian penting. Contohnya, apa jadinya sama Abang Ojol kalau tempat-tempat di sekitar kita nggak ada namanya?  

Setelah itu, kita akan beranjak pada peran dari toponimi secara lebih luas.  

Pertama adalah sebagai indikasi.  

Indikasi atau penanda ini kalau untuk rekan-rekan kreator konten mungkin lebih mengenalnya sebagai branding. 

Contohnya kita pakai jualan saya saja ya, yaitu daster batik. Hehehe.  

Nah, daster batik itu ada yang menyematkan spesifikasinya sebagai ‘batik pekalongan’.  

Tambahan kata Pekalongan itu sudah memberikan gambaran, kira-kira batiknya dan kualitasnya seperti apa.  

Mengenai batik sila baca cerita menarik berikut: Perempuan Bergincu Merah Muda

Kita mencoba ke contoh berikutnya ya.  

Pernahkah kamu dengar nama, San Diego Hills?  

Nah, itu konon membingungkan para ahli toponimi. Penyebabnya adalah karena pakai San Diego, tetapi di Karawang lokasinya.  

Kemudian contoh yang berkebalikan dengan Hills tadi adalah nama sebuah hotel terkenal di Jogja, yaitu Hotel Tentrem.  

Namanya sepertinya sederhana, ya. Namun, tahukah kamu bahwa itu termasuk hotel mewah di kota gudeg?  

Fungsi toponimi yang kedua adalah sebagai komodifikasi.  

Komodifikasi adalah transformasi barang, jasa, gagasan, dan lainnya menjadi objek dagang.  

Halah, mbok pakai bahasa yang mudah aja to, Mas.  

Oke, sederhananya apakah kalian pernah denger beberapa hal berikut: 

  • Nanas madu Pemalang 
  • Durian Ucok Medan 
  • Gethuk Trio Magelang 

Nah, sudah dapat kan gambarannya?  

Di beberapa bagian komodifikasi ini hampir mirip dengan indikasi ya?  

Fungsi toponimi yang ketiga adalah sebagai rekonsiliasi.  

Ini fungsi yang baru saya ketahui pas ngobrol di Live kemarin itu.  

Ternyata nama-nama suatu tempat juga bisa menjadi atau berfungsi sebagai tanda rekonsiliasi atau perdamaian. 

Contoh rekonsiliasi ini di antaranya adalah penggunaan nama ‘Gajah Mada’ untuk nama jalan di kota-kota di Jawa Barat. 

Kemudian di Ambon kita mengenal ada ‘Gong Perdamaian Dunia’, di Bali ada ‘Monumen Ground Zero’, dan contoh-contoh lainnya. 

Mengenai rekonsiliasi atau perdamaian apa, saya sarankan kalian bisa googling ya, gaes.  

Nah, itulah beberapa makna dan peran dari toponimi.  

Sebagai tambahan dari saya, jika teman-teman pernah mengenal ‘Lord of the Broken Heart‘, Alm Didi Kempot, beliau suka sekali menggunakan berbagai lokasi dan toponiminya di lagu-lagu yang diciptakan.  

Sebab, konon kata orang cerdik pandai, ada keterkaitan antara kita (setiap orang) dengan lokasi tertentu dan nama tertentu.  

Kalau leh tau, di mana lokasi dan nama apa atau siapa, sih, yang sering membuatmu kebat-kebit tak bisa tidur, Bro? ahahaha