9 Langkah Membangun Kebiasaan Setiap Hari
9 Langkah Membangun Kebiasaan Menulis Setiap Hari

Apa saja yang langkah-langkah yang perlu kita lakukan untuk membangun kebiasaan menulis setiap hari? 

Kebiasaan Menulis Setiap Hari Bukanlah Hasil Akhir 

Kebiasaan menulis setiap hari tidak langsung terjadi begitu saja. 

Bahkan, kebiasaan menulis setiap hari bukanlah kebiasaan yang tunggal. Maksudnya, kebiasaan ini adalah gabungan dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang jika digabungkan membuat menulis setiap hari menjadi tidak terasa. 

Jadi, ketimbang berfokus pada membangun kebiasaan menulis, kita perlu mengawali dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang akhirnya membuat kebiasaan menulis setiap hari itu tidak bisa dihindari lagi. 

Ajukan Pertanyaan, Kenapa Kamu Menulis? 

Ketika membaca tulisan ini, mungkin kamu berpikir bahwa kamu bukanlah seorang penulis, atau pekerjaanmu tidak membutuhkan keterampilan menulis. 

Namun, kenyataannya adalah: menulis menjadi dasar dari berbagai bentuk pengetahuan dan kerja-kerja kreatif, seperti: 

  • Membuat video
  • Bercerita (storytelling)
  • Siniar (podcast)
  • Pemasaran (marketing)
  • Desain
  • Management
  • Mengajar

Semua kerja-kerja kreatif tersebut berawal dari menulis, lho. 

Karena itu, berikut ini 9 Langkah untuk Membangun Kebiasaan Menulis Setiap Hari. 

Langkah Pertama: Buatlah Waktu untuk Menulis

Kenyataan yang paling mendebarkan bagi para penulis berkaitan dengan waktu menulis adalah tidak adanya waktu yang paling sempurna untuk mulai menulis. 

Faktanya, para penulis tidak ‘menemukan’ waktu untuk menulis. 

Ini seperti, kita tidak ‘menemukan waktu’ untuk bertemu dengan orang-orang terkasih. Kita juga tidak ‘menemukan waktu’ untuk pergi ke pusat kebugaran. 

Contoh lainnya adalah kita tidak ‘menemukan waktu’ untuk bertemu dengan kawan lama ketika mereka berkunjung ke kota kita. Kita pun tidak ‘menemukan waktu’ ketika kita bersilaturahim ke keluarga ketika lebaran tiba. 

Sebab, ketika sesuatu itu sangat penting untuk kita, maka kita akan membuat waktu. 

Kemudian kita akan mengelola waktu yang tersisa dalam satu hari untuk melakukan hal-hal yang berbeda selain sesuatu yang sangat penting tersebut. 

Jadi, itulah yang perlu dilakukan, pertama dan paling utama, untuk membangun kebiasaan menulis setiap hari yang akan berlangsung terus-menerus. 

Untuk menulis setiap hari, maka kita perlu ‘membuat waktu’ lebih dahulu. 

Kita dapat menyebut waktu tersebut sebagai ‘JAM SUCI’: sebuah waktu dalam satu hari yang dikhususkan untuk menulis. 

Jam suci adalah serangkaian waktu yang, ya…. Itu tadi, suci!

  • Tidak ada distraksi atau gangguan ketika menulis. 
  • Menyingsingkan baju, mengetatkan ikat pinggang, dan lainnya. 
  • Benar-benar mempertahankan waktu tersebut. 

Dalam Jam Suci tersebut, hanya kita dan tulisan sajalah yang paling penting, setidak-tidaknya untuk jangka waktu satu jam. 

Untuk menemukan Jam Suci, ada dua pertanyaan yang perlu dijawab: 

  • Kapan dalam sehari saya paling produktif? 
  • Kapan dalam sehari saya paling tidak responsif? 

Jawaban dari dua pertanyaan tersebut akan berbeda-beda untuk setiap orang. Karena itu, untuk menolong kita, maka ketika sudah menemukan jam suci tersebut, kita bisa membuat notifikasi, alarm, atau semacamnya. 

Perlakukan jam ini seperti sebuah pertemuan dengan diri kita sendiri. Namun, tentu saja tidak dapat kita batalkan! Pertahankan jam suci ini sekuat tenaga. Jangan biarkan siapa pun mengganggu jam suci kita tersebut. 

Langkah Kedua: Bangunlah Kebiasaan Harian untuk Berjalan Kaki

Dari mempelajari rutinitas menulis para penulis dan copywriter kelas dunia, hasilnya adalah setiap mereka menyebutkan kebiasaan berjalan kaki setiap hari. 

Bahkan, 95% proses menulis mereka terjadi ketika sedang berjalan, seperti: 

  • Berpikir
  • Membuat kerangka tulisan
  • Melakukan observasi
  • Membuat badai otak (brainstorming) atau menemukan dan mengolah ide. 

Kemudian barulah 5% sisanya adalah ketika mereka duduk dan menulis. Namun, yang lima persen ini jatuh di bagian yang paling akhir dari proses menulis mereka tersebut. 

Di proses akhir tersebut, mereka sudah tahu apa-apa saja yang akan dituliskan. 

Jadi, cobalah…. 

Bawa sebuah buku catatan dan pena, jangan bawa handphone, kemudian berjalanlah di luar selama 20 menit. 

Biarkan pikiran kita berkelana, tetapi tangkap ide-ide yang tiba-tiba muncul. 

Mungkin kita akan terkesima dan kemudian akan melakukannya setiap hari. 

Langkah Ketiga: Buat Sistem Penangkap Ide

Agar mampu menulis setiap hari, maka kita perlu memiliki cadangan ide-ide. 

Jika ada satu hal yang kita pelajari dalam bertahun-tahun, maka itu mungkin adalah pentingnya menuliskan ide ketika inspirasi hadir. 

Menyerahkan ide-ide terbaik untuk sekadar diingat di kepala kita menjadi sebuah resep kegagalan. Sementara, membiarkan ide-ide tersebut berada di luar kepala kita akan membebaskan ruang-ruang di sana yang mungkin justru akan menciptakan lebih banyak ide yang luar biasa. 

Karena itu, kita perlu membuat sistem untuk menangkap ide di mana pun dia muncul. 

  • Siapkan setumpuk post-it di samping tempat tidur kita. 
  • Sambil jalan kaki, siapkan buku catatan dan pena. 
  • Di handphone, pasang aplikasi pencatat yang mudah digunakan. 
  • Di kamar mandi, perlu disiapkan alat pencatat yang tahan air, hahaha. 

Berikan kesempatan kepada otak, benak, dan pikiran kita untuk menemukan ide di mana pun dan kapan pun kemudian lihatlah bagaimana ide-ide itu akan mengalir dengan lancar. 

Langkah Keempat: Buat Mesin Pembuat Ide

Ketika kita sudah berhasil membuat sistem penangkap ide, maka kita dapat beranjak ke sistem berikutnya, yaitu mesin pembuat ide. 

Mesin ide tidak hanya mempermudah munculnya ide-ide yang bisa kita ubah menjadi tulisan.

Mesin ini juga mempermudah kita ketika memilih format seperti apa yang paling bagus untuk menyampaikan ide kita ke orang lain.

Kira-kira, begini cara kerjanya:

Pertama, tentukan dulu apa yang ingin ditulis.

Topik apa yang ingin ditulis dan kemudian pilih jenis tulisannya, apakah:

  • Panduan melakukan sesuatu (cara x y z)
  • Analisis (data/angka)
  • Inspirasi (kamu pun juga bisa)
  • Penjelasan (kenapa satu hal terjadi)

Setelah memilih jenis tulisan, maka kita bisa mengetahui ke mana pembaca akan diajak melangkah hingga sampai ke tujuan.

Ini kayak bikin itinerary atau rencana perjalanan.

Kita nggak bisa hanya mau ke Jogja, tapi perlu juga info bagaimana rencana di sana, ngapain aja, dll.

Kaitannya dengan pembaca, kita ingin menyampaikan kepada mereka:

  • Ke mana mereka akan diajak
  • Apa saja aktivitas yang akan dilakukan?

Ketika di awal kita mampu menyampaikan secara jelas dua hal itu, maka akan semakin jelas pula ide kita disampaikan dalam tulisan.

Langkah kedua, kita perlu menentukan bagaimana ide tersebut akan disampaikan sesuai dengan ide yang akan ditulis.

Jika artikel yang akan ditulis adalah cara melakukan sesuatu, maka perlu ditulis dalam bentuk: Langkah 1, Langkah 2, dst.

Begitu juga jika kita ingin menulis pelajaran dalam hidup, maka formatnya: Pelajaran 1, Pelajaran 2, dst.

Bagaimana jika idenya adalah kesalahan terbesar di masa remaja, maka: Kesalahan 1, Kesalahan 2, dst.

Kunci penting dari itu semua adalah mengatur struktur tulisan ketika semua poin-poin penting mengikuti pola yang sama.

Jangan kita campur-adukkan, seperti ‘Langkah’, kemudian diikuti ‘Kesalahan’, diakhiri ‘Pelajaran’.

Kalau kayak gitu, pembaca bingung ke mana arah tulisan.

Langkah ketiga adalah tentang kredibilitas kita. Bagaimana pembaca akan mempercayai kita?

Pertanyaan terbesar yang dimiliki pembaca adalah:

  • Dari mana informasi ini berasal?
  • Kenapa kita harus percaya pada penulisnya?

Dari sisi penulis, kesalahan yang sering terjadi adalah mereka merasa harus ‘besar’ terlebih dahulu dan menjadi seorang ahli, untuk menulis suatu topik.

Tugas penulis adalah menyampaikan kepada pembaca alasan mereka menulis dan sudut pandang mereka terhadap suatu topik.

Setelah kita memiliki mesin pembuat ide, maka persoalan terbesar kita beralih dari tidak memiliki bahan untuk ditulis menjadi punya terlalu banyak bahan untuk dituliskan, hehehe. 

Sebelum lanjut membaca, mungkin kamu juga akan menyukai: 3 Cara Agar Produktif Menulis

Langkah Kelima: Tentukan Batasan Kreativitas

Apakah kesalahan terbesar yang dibuat oleh penulis pemula? 

Jawabannya adalah karena mereka tidak memiliki batasan. 

Contohnya, mereka membuat tujuan besar ‘mulai menulis’ dan ini pun berujung pada banyaknya keputusan yang perlu dibuat. Akhirnya, hal ini justru membuat mereka berhenti menulis. 

Tanpa batasan dan banyaknya keputusan yang perlu dibuat justru telah menjadi sebuah resep kegagalan. 

Jadi, apa yang perlu kita lakukan? 

Rupanya kita perlu mulai menulis dengan berbagai batasan dalam kepala kita. Dengan begitu, maka kita tidak punya perasaan ‘memiliki terlalu banyak pilihan’. Dengan begitu, maka kita pun akan dapat berfokus untuk menulis setiap hari. 

Berikut ini beberapa batasan yang dapat digunakan agar kita dapat fokus menulis: 

  • Waktu: buatlah batasan waktu untuk menulis setiap hari, misalnya 30 menit di awal belajar menulis dan lambat laun dinaikkan hingga 60 menit. 
  • Topik: ini tentu terserah kepada kita sendiri, tetapi perlu dipastikan bahwa topik tersebut adalah suatu hal yang dapat dilakukan secara berkelanjutan. 
  • Panjang tulisan: apakah kita akan membuat sebuah tulisan yang panjang, utas di Twitter, tulisan di Blog, di mana pun itu, kita perlu batasan panjang tulisan untuk mempersempit fokus kita pada satu tipe tulisan yang akan dibuat. 
  • Platform: Pilihlah satu platform dan fokuskan semua perhatian di sana. Kita pun bisa menggunakan sebuah perangkat yang dapat menerbitkan konten yang sama di berbagai platform, seperti Creator Studio untuk post di Facebook Page dan Instagram atau Typeshare untuk post bersama-sama di Twitter, Medium, dan LinkedIn. 
  • Lingkungan: ini berkaitan dengan kebiasaan untuk menulis di tempat dan waktu yang sama, setiap hari. Apakah itu meja kerja, kedai kopi, kantor, di mana pun, pilihlah sebuah tempat dan hadirlah di sana setiap hari untuk kemudian bersiap-siap menulis. 

Rekomendasi batasan dalam menulis tersebut memang sengaja dibuat agak kaku. Sebab, mereka berfungsi untuk membantu kita agar tidak terlalu banyak berpikir, terlalu banyak menyunting, dan akhirnya justru tidak menulis. 

Langkah Keenam: Kuasai Keterampilan Menuliskan Ide di Malam Hari. 

Sebenarnya sesi menulis di pagi hari itu bisa diawali dari malam sebelumnya. Guru menulis online atau digital Nicolas Cole dan Dickie Bush memberikan sebuah kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan selama tiga menit di malam hari sebelum tidur. 

  1. Tuliskan sebuah ide yang pertama kali muncul di kepala untuk ditulis. 
  2. Buatlah 10 poin terkait dengan ide tersebut tanpa menghakimi/menilai baik dan buruknya. 
  3. Tutup buku catatan kita dan tidur. 

Dengan modal catatan tersebut, maka esok pagi, proses menulis kita pun dapat segera dimulai. 

Apakah kebiasaan dan latihan tersebut akan berhasil? 

Ya, latihan tersebut akan berhasil setidaknya karena tiga alasan: 

  1. Menulis di malam hari mengurangi kemungkinan kita tidak menulis di pagi hari. Ketika terbangun kemudian kita memiliki ide dan dilengkapi dengan 10 poin tambahan artinya kita tidak mulai dari sebuah halaman kosong. Itu juga berarti kita tidak akan mengalami kesulitan untuk memulai. 
  2. Menuliskan ide di malam hari memungkinkan alam bawah sadar kita untuk bekerja, bahkan ketika kita tertidur. Sepertinya memang sulit dipercaya, tetapi diyakini ide-ide yang sudah ‘dimatangkan’ ketika tertidur akan menjadi lebih bagus ketika kita bangun nanti. Saat tidur, maka otak kita ternyata tidak benar-benar terlelap. Justru ketika itu otak sibuk membangun berbagai hubungan. Bisa jadi, hubungan yang terbangun itu justru tidak atau belum pernah kita pikirkan ketika sedang terbangun. 
  3. Menuliskan ide di malam hari sebelum tidur akan membersihkan dan menjernihkan pikiran kita ketika bangun nanti. Seringkali, kegiatan ini tidak hanya berkaitan dengan hal-hal yang akan ditulis esok pagi. Namun, ini dapat menjadi wadah untuk berbagai hal yang mampir di pikiran kita. Karena pikiran kita sudah dibersihkan dalam suatu catatan, maka upaya ini akan membantu kita untuk tidur lebih lelap 

Ah, rasanya sulit dipercaya tips ini! Benarkah dapat berhasil? 

Nah, jika memiliki pertanyaan serupa itu, maka cobalah dan saksikan bagaimana kreativitas kita akan semakin meningkat. 

Langkah ketujuh: Atur Lingkungan agar kita dapat fokus. 

Antara kita dan tulisan terbaik yang akan kita hasilkan berdiri berbagai gangguan dan distraksi, seperti: 

  • Instagram 
  • Tiktok
  • Netflix
  • Notifikasi
  • Berbagai berita yang mengundang untuk di-klik
  • Teman yang tiba-tiba datang dan mengajak ngobrol

Untuk mengatasi hal-hal itu, maka diperlukan upaya untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kreativitas kita. 

Berikut ini tiga hal yang direkomendasikan agar kita memiliki lingkungan yang membuat kita dapat fokus. 

  1. Instal aplikasi yang mampu menghindarkan kita dari berbagai gangguan dari internet, notifikasi, dan lainnya. 
  2. Siapkan noise-cancelling headphones untuk mengurangi distraksi suara dari sekitar kita. 
  3. Menulislah dan letakkan handphone kita di ruangan yang lain. Bisa juga pasang mode pesawat terbang di handphone kita dan letakkan di ruang lain. 

Sebenarnya sesederhana itu, kita dapat mengurangi gangguan dari internet yang berupa notifikasi, informasi lain, serta berbagai informasi lain dari dunia luar, sehingga kita dapat fokus menulis dan kata-kata pun akan dapat hadir menjadi tulisan. 

Langkah kedelapan: Mulailah merekam suara untuk mengatasi writer’s block

Mimpi buruk setiap penulis adalah: kursor yang berkedap-kedip di sebuah halaman yang kosong. 

Bahkan, di hari-hari kita yang paling bagus pun, kadang-kadang kata-kata tidak akan dapat mengalir. 

Jadi, ketika hari-hari tanpa kata itu terjadi, kita memerlukan suatu cara untuk memancing kata-kata agar hadir. 

Salah satu cara untuk mengatasi writer’s block tersebut adalah dengan merekam suara kita. Sebab, belum pernah ada seorang pun yang mengalami talker’s block (ketidakbisaan berbicara). 

Berikut ini cara yang dapat dilakukan: 

  • Berjalanlah
  • Bicara atau sampaikan ide-mu
  • Rekam ide tersebut
  • Jadikan hasil rekaman itu menjadi kerangka tulisan kita. 

Hasil akhirnya adalah kita memiliki modal untuk menulis dan mengembangkannya menjadi sebuah tulisan. 

Langkah Kesembilan: Pantau Jejak Kita

Langkah terakhir, ingatlah: manusia itu pemburu dopamin. 

Kita melakukan hal-hal yang disukai. 

Kita menyukai hal-hal yang memberikan kepuasan. 

Jadi, setiap kali kita mampu menyelesaikan sesi menulis, maka perlu memberikan hadiah kepada diri kita sendiri agar tercipta kepuasan, menjadi hal yang disukai, dan dilakukan lagi. 

Cara termudah melakukan hal itu adalah: 

  1. Cetak sebuah kalendar yang besar. 
  2. Setiap kali menulis, berilah tanda silang pada hari ketika kita melakukannya di kalendar. 
  3. Buatlah silang itu selama 30 hari.

Whoa! Akhirnya itulah sembilan hal yang kita perlukan untuk membangun kebiasaan menulis setiap hari.