Ilustrasi Optimasi Blog
Bagaimana cara melakukan optimasi Blog? (Pict by: freepik.com)

Cara melakukan optimasi blog ini sangat penting dilakukan oleh para blogger atau penulis Blog.

Buat saya, penyebabnya adalah sebagai berikut:

Sebagai seorang penulis blog yang sudah cukup lama, tetapi angin-anginan, saya sering sedih menyaksikan jumlah kunjungan di blog ini.

Apakah kamu mengalaminya juga?

Toss, kalau gitu! Kita sama, ahaha.

Btw, biar kamu asyik bacanya, maka bisa di-klik di daftar isi berikut ini, ya. Soalnya siapa tahu, kamu orangnya nggak sabaran dan pengen langsung ke bagian-bagian yang paling membuatmu penasaran.

Kenapa Perlu Optimasi Blog?

Seperti sudah disebutkan sebelumnya. Sebuah blog akan sangat menyenangkan jika memiliki banyak kunjungan, bukan?

Nah, ketika saya melihat angka statistik kunjungan ke blog ini yang…. “yaa, gitu deh….”, maka saya perlu mencari cara agar kunjungan ke blog ini pun meningkat.

Para cerdik pandai di dunia per-blogger-an menyampaikan, bahwa bagi kamu-kamu-kamu dan saya yang ingin meningkatkan traffic atau kunjungan blog-nya, maka perlu melakukan optimasi blog.

Lalu, bagaimana cara melakukan optimasi blog itu, Mas?

Haduh, saya pun tak begitu paham, kawan. Sebab, selama ini saya hanya nulis, nulis, dan nulis. Baru belajar search engine optimization biar blog kita nangkring di halaman pertama Google pun baru-baru ini.

Demikian juga saya baru tahu dan dengar istilah optimasi blog itu.

Jika kamu sudah nggak sabar dan penasaran, tenang… silakan dinikmati dulu kopinya sambil lanjut baca, ya….

Biar makin mantabh dan nggak lupa, boleh juga di-share di sosial media kamu atau disimpan atau diteruskan tulisan ini ke WA-grup-mu. Untuk yang sudah share, save, dan berlangganan blog ini, saya haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Terus kapan ini mau kasih tau cara optimasi blog-nya, Mas?

Sabar…. berikut ini kamu bisa membacanya.

BloggerTalks Optimasi Blog Bersama Priyo Harjiyono

Setelah pusing tujuh keliling mencari tahu bagaimana cara melakukan optimasi blog dari membaca tulisan-tulisan di website luar negeri, menonton YouTube, hingga bertanya pada tetangga.

Syukurlah semua itu berubah di suatu malam yang seru sekaligus sendu itu. Seru, karena dapat ilmu baru. Sendu, karena banyak PR yang perlu dilakukan dan lebih banyak lagi hal baru yang belum tahu.

Sekali lagi, untungnya, pada hari Jumat (27/08) kemarin, komunitas BloggerHub menyelenggarakan hajatan rutin BloggerTalks dengan judul: “Optimasi Blog, Ngapain Aja Sih?”

Narasumber atau pemateri pada webinar secara daring ini adalah Mas Priyo Harjiyono. Beliau seorang blogger senior di anotherorion.com.

Banner BloggerTalks: Optimasi Blog, Ngapain Aja Sih?
Ini dia banner BloggerTalks dengan judul: Optimasi Blog, Ngapain Aja Sih?

Materi berikut ini adalah catatan saya saat mengikuti webinar tersebut. Mohon maaf jika banyak salah dan kurang, karena terus terang banyak istilah yang saya pun tak terlalu paham.

Namun, sebelumnya, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Mas Priyo dan juga BloggerHub atas terselenggaranya webinar yang keren ini.

1. Performa Website

Mas Priyo membagi penjelesannya ke dalam beberapa topik. Topik pertama yang disinggung adalah mengenai performa website.

Bagian ini sangat penting ya, gaes. Soalnya kalau pun website-mu keren dan isinya paten, tetapi tanpa performa yang mumpuni, maka pembaca pun akan segera pergi.

Kita coba simak penjelasan Mas Priyo mengenai performa ini, yuk?

Core Web Vital

Menurut Mas Priyo, ini adalah parameter dari Google untuk menentukan performa atau penampilan suatu website. Eits, penampilan atau performa di sini bukan melulu tampilan ya, kawan.

Namun, ini jauh lebih penting dari sekadar casing alias tampilan. Sebab, Google katanya punya ribuan parameter untuk menentukan suatu website itu bagus atau nggak.

Nah, karena kita akan mabuk kalau belajar ribuan parameter dan waktu webinarnya pun terbatas, maka Mas Priyo menyampaikan tiga hal paling penting untuk mengetahui Core Web Vital.

Largest Contentful Pain

Ini menjelaskan sebuah elemen dalam satu halaman website yang paling berat saat akan di-load atau diakses oleh pengguna.

Contohnya saya gunakan blog saya ini aja boleh, ya?

Nah, setelah mendengarkan penjelasan Mas Priyo, segera saya pergi ke laman Webpagetest. Di situ bisa dilihat elemen apa yang paling lama untuk di-load atau dibuka oleh pengguna di sebuah browser.

Pada saat saya mencoba memasukkan alamat web ini di Webpagetest, ketahuanlah beberapa persoalan.

Di antara persoalan itu adalah blog ini nge-load terlalu lama. Setelah diselidiki, ternyata lama-nya membuka blog ini terjadi karena ada satu elemen, yaitu gambar diri saya yang terlalu gede ukuran file-nya.

Terus kalau terjadi kasus itu gimana, dong, Mas? Tenang, silakan lanjut baca dulu aja ya, nanti akan dijelaskan lebih detail di bagian gambar.

Oiya, disarankan sebuah website atau blog yang bagus itu jika mampu membuka sebuah halaman dalam waktu kurang dari 2,5 detik.

First Input Delay

Istilah First Input Delay menjelaskan jeda waktu ketika seseorang membuka suatu alamat web dan kemampuan browser melakukan interaksi pertama kali. Contohnya, ketika kamu membuka suatu website, maka ada beberapa saat yang diperlukan hingga kamu bisa menggerakan kursor.

Untuk parameter First Input Delay ini, maka paling bagus kurang dari 100 mili detik.

Cumulative Layout Space

Bagian Cumulative Layout Space ini berhubungan dengan stabilitas tampilan di website kita. Saat pertama kali membuka suatu website, akan diperlukan waktu hingga semua tampilan stabil.

Nah, katanya waktu yang paling bagus adalah di bawah 0,1 detik.

Delivery Konten

Konten sebuah blog atau website mengalami perjalanan yang panjang. Mula-mula dia dibuat oleh para konten kreator, contohnya para penulis Blog.

Selanjutnya konten itu disimpan di server hosting atau tempat penyimpanan.

Kemudian kalau ada orang yang mengakses, maka konten itu dikirimkan dari server ke browser pengguna, contohnya para pembaca blog.

Dapat dibayangkan perjalanan sebuah konten tersebut sangatlah panjang, bukan?

Sementara tujuan dari optimasi blog adalah agar pembaca dapat secara cepat mengakses sebuah konten.

Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana cara mempercepat pengiriman konten tersebut?

Syukurlah, Mas Priyo pun membagikan informasi mengenai hal ini. Langsung saja yuk kita simak berikut ini:

Lazy Load

Ini adalah kemampuan website untuk menampilkan berbagai konten. Namun, dia akan mengirimkan gambar belakangan setelah semua konten tampil.

Hal ini terjadi karena gambar biasanya menjadi konten yang paling berat dan membutuhkan waktu lama agar bisa ditayangkan (load) di suatu website. Jadinya dia dikasih kesempatan nge-load paling akhir setelah semua tampil.

Caching

Pernah nggak kamu membuka website baru dan terasa lama sekali agar semua komponennya tampil? Sementara di saat lain ada website yang sudah pernah dibuka dan kemudian dibuka ulang terasa sangat cepat.

Apa sesungguhnya penyebab fenomena ini?

Ternyata jawabannya adalah proses caching. Di proses ini sebuah web menitipkan file ke browser pengunjung.

Karenanya, ketika seorang pengunjung membuka lagi website yang sudah pernah dibuka sebelumnya akan terasa cepat. Hal itu terjadi karena sebagian data dari web itu sudah disimpan di browser pengunjung.

Artinya pengunjung tidak perlu memanggil semua konten dari server, tetapi hanya sebagian saja dan sebagian yang lain sudah tersimpan di browser.

Minify

Seperti sudah disebutkan beberapa kali, sebuah website terdiri dari bermacam-macam komponen.

Nah, proses minify adalah proses menggabungkan berbagai komponen-komponen yang berupa file-file itu. Mungkin gampangnya file-file yang sejenis digabung menjadi satu, seperti dari sisi CSS, plugin, tulisan, gambar, dan lainnya.

Kompresi

Dalam proses kompresi, maka data, file, atau komponen sebuah blog atau website dikirimkan dalam bentuk paket-paket data. Mungkin ini seperti proses minify, ya?

Di bagian ini Mas Priyo mencontohkan proses pengiriman Patung Garuda Wisnu Kencana di Jimbaran Bali sana.

Tanpa kompresi, maka patung utuh akan dikirimkan dari pembuat ke lokasi pendirian patung. Ini proses yang sangat sulit sekali karena diperlukan alat transportasi khusus yang luar biasa besar.

Sementara itu jika dilakukan kompresi, maka patung Garuda Wisnu Kencana itu akan ‘dipecah-pecah’ ke dalam beberapa paket dan baru dikirimkan. Hasil akhirnya adalah pengiriman dapat dilakukan lebih cepat karena tidak memerlukan alat transportasi khusus.

Metode Pengiriman Data yang Lain:

Mas Priyo masih melanjutkan penjelasan mengenai metode pengiriman data lain untuk melakukan optimasi blog, yaitu:

  • Preload, Preconnect, Prefetch. Ini adalah perintah bagi browser untuk me-load sesuatu sebelum waktunya. Mungkin pengertian mudahnya adalah sebelum dipanggil, semua komponen sudah bersiap-siap untuk tayang. Contoh penerapannya adalah tanpa preconnect elemen akan didonlot satu-satu, kalau dengan preconnect semua file sudah didonlot. Kesimpulannya, pemanfaatan preconnect akan mempersingkat waktu untuk membuka suatu laman web.
  • Asynchronus. Perintah ini digunakan untuk melakukan loading terhadap javascript.
  • CDN atau Content Delivery Network. Ini adalah distribusi secara geografis sekelompok server yang bekerja bersama-sama, sehingga mampu mengirimkan konten secara cepat. Biasanya dipakai untuk menyimpan gambar.

Alat Ukur Performa Blog

Setelah mengetahui berbagai hal yang berhubungan dengan performa blog, seperti Core Web Vital dan Delivery Content, selanjutnya Mas Priyo menjelaskan mengenai beberapa alat ukur performa blog.

Alat ukur ini sangat penting, karena untuk mengetahui efektivitas upaya kita untuk meningkatkan performa blog. Nah, apa saja alat ukur tersebut? Langsung saja kita simak, ya….

Google Pagespeed

Ini adalah alat ukur performa blog standard dari Google. Dari penjelasan mengenai Google Pagespeed, ini adalah halaman website yang melakukan analisis terhadap konten suatu halaman web.

Setelah proses analisis tersebut, kemudian Google Pagespeed ini memberikan saran-saran untuk mempercepat proses loading halaman suatu web. Saran tersebut berupa informasi bagian dari halaman web yang bisa dioptimalkan dan cara optimalisasinya.

Google Lighthouse

Google Lighthouse adalah sebuah aplikasi open source. Berdasarkan penjelasan di laman Lighthouse, ini adalah peralatan otomatis untuk meningkatkan kualitas dari sebuah halaman web.

Kamu dapat menggunakan Lighthouse untuk berbagai jenis laman web, baik itu di halaman publik atau yang memerlukan autentikasi. Perangkat ini memiliki kemampuan untuk mengaudit performa, aksesibilitas, progresivitas sebuah aplikasi web, SEO, dan lainnya.

Kamu dapat menjalankan Lighthouse di DevTools Google Chrome, dari Command Line atau sebagai Module Node. Caranya kamu memberikan alamat (URL) untuk diaudit. Kemudian perangkat ini akan melakukan serangkaian proses audit. Lantas dia akan membuat semacam laporan seberapa bagus performa sebuah laman web.

Nah, dari situ dapat dilihat beberapa persoalan yang nantinya dapat menjadi indikator hal-hal yang dapat diubah untuk meningkatkan performa suatu laman web. Setiap audit memiliki dokumen tersendiri yang menjelaskan kenapa sebuah audit penting dilakukan dan cara untuk melakukan upaya perbaikan.

GTMetrix dan Webpagetest

Baik GTMetrix maupun Webpagetest adalah sebuah web untuk melihat permasalahan loading sebuah laman web. Mereka melakukan pengujian akses terhadap suatu web, menampilkan hasil laporannya.

Dari laporan itu, maka kita bisa melakukan optimasi terhadap blog atau website kita. Sambil mendengarkan paparan Mas Priyo, saya iseng-iseng mengecek performa web ini. Aduh! Ternyata hasilnya jauh dari yang ideal. Kemudian melihat-lihat hasil reporting dan ternyata ada file gambar yang terlampau besar, sehingga memperlambat proses loading.

Berbekal informasi itu, maka saya pun mencoba mengubah format dan ukuran gambar yang digunakan di sebuah artikel yang tadi diuji.

Optimasi Performa Blog Lainnya:

Setelah melakukan pengukuran terhadap performa website atau blog kita, masih ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk melakukan optimasi. Di antaranya:

  • Mengurangi jumlah plugin yang digunakan, terutama untuk kita yang menggunakan WordPress,
  • Menghapus revisi/draft sebuah postingan yang tidak terpakai,
  • Memanfaatkan display swap dan serves local G-Fonts,
  • Menggunakan format gambar tertentu, seperti Webp, JPEG2000 atau progressive JPEG,
  • Melakukan optimasi database blog kita.

Hakikat Optimasi Blog

Sebelum lanjut membaca, sedikit intermezo ya, gaes.

Mas Priyo menyampaikan, bahwa proses optimasi blog adalah tawar menawar antara fitur dan kecepatan.

Optimasi Blog: bargaining antara fitur dan kecepatan.

Priyo Harjiyono, 2021

Pernyataan ini berarti, ketika kita menginginkan kecepatan, maka perlu mengurangi fitur, seperti pemasangan plugin, dan lainnya. Namun, jika kita menginginkan fitur-fitur yang lengkap, maka kecepatan sebuah blog bisa menjadi terpengaruh.

2. Struktur Website

Setelah memahami bagaimana sebuah konten web atau blog tampil, mengoptimalkan berbagai hal, termasuk mengukur performa, kini kita perlu melirik ke struktur website atau blog.

Mas Priyo menjelaskan beberapa hal sebagai berikut sebagai salah satu cara melakukan optimasi blog dan terkait dengan struktur website:

  • Kategori, tag, label -> setiap artikel hanya punya 1 kategori dan bersifat umum, tag bersifat khusus. Satu kategori sangat bermanfaat untuk menentukan related posts.
  • Header tag -> H1: hanya untuk judul artikel. Sementara semua judul dalam artikel dimulai dari H2/Subheading. Kalau ada double H1, maka mesin pencari akan bingung. Perlu diurutkan pula dalam penggunaan H ini. Artinya jangan melompat-lompat, contohnya setelah H2 langsung menggunakan H4.
  • Schema -> bagaimana kita mempersiapkan konten agar mudah dibaca search engine dan manusia.
  • Rich snippet: ringkasan artikel di mesin pencari. Karena itu, maka deskripsi artikel perlu menjadi perhatian.
  • Gunakan table of content atau daftar isi sebagai panduan bagi pengunjung blog kita.
  • Gunakan pula listicle, table, breadcrumb untuk menarik perhatian dan mempermudah blog kita ditemukan dan dibaca oleh manusia dan mesin pencari.
  • Optimasi meta description, meta url, meta title. Semua ini perlu dioptimasi dan dibuat seinformatif mungkin.
  • Optimasi pula gambar alias image, seperti sudah disebutkan sebelumnya, gambar perlu diperkecil ukurannya (maksimal 100 Kb), ubah format atau gunakan format tertentu, seperti Webp, JPEG2000 atau progressive JPEG.
  • Perhatikan pula keterangan tambahan untuk gambar, seperti alt Image yang berfungsi seperti judul artikel. Tambahkan pula image description yang fungsinya sama dengan deskripsi artikel. Keterangan tambahan berupa alt Image dan image description nantinya akan dibaca oleh mesin pencari. Sementara untuk caption atau keterangan gambar akan dibaca oleh manusia.
  • Disarankan agar nama file gambar, alt image, desc image, semua mengandung keyword. Sementara untuk caption atau keterangan gambar perlu mengandung LSI (Latent Semantic Indexing) Keywords, yaitu istilah/keyword terkait yang membantu mesin pencari untuk memahami apa isi dari sebuah laman web.
  • Tools untuk memahami dan mengoptimasi struktur: Meta SEO Inspector ini adalah adds-on yang ada di Google Chrome. Selanjutnya adalah SEO Quake. Ini digunakan untuk melihat keyword dominan di sebuah halaman atau check density. Catatan: jangan dipakai di homepage blog atau laman web kita, karena hasilnya akan jauh melenceng atau tidak sesuai.

Indeks Artikel

Selain struktur website, perlu juga diperhatikan proses peng-indeks-an artikel kita di mesin pencari. Melalui proses ini, maka kita mendorong agar artikel kita ter-indeks oleh mesin pencari.

Kan sayang, ya, sudah susah-susah menulis, ternyata artikel kita tidak terindeks di mesin pencari. Nah, biar hal itu tidak terjadi, maka berikut ini beberapa hal yang bisa kamu lakukan:

  • Punya atau buatlah sebuah property untuk tiap blog di Google Search Console (GSC).
  • Pastikan sitemap sudah disubmit di GSC.
  • Setelah membuat artikel baru, segera test dan submit URL artikel tersebut di GSC.
  • Artikel memiliki backlink.
  • Upayakan terjadi instant indexing. Mohon maaf, catatan saya terlewat di bagian ini, hahaha.
  • Pastikan tidak ada error di struktur web/blog kita.
  • Pastikan blog kita tidak diblokir Robots.txt.

3. Kurasi Konten

Sekarang kita telah tiba di bagian yang paling mendebarkan, setidaknya menurut saya. Sebabnya adalah karena hal ini berkaitan dengan konten. Sesuatu yang selama ini secara langsung kita buat.

Sementara untuk hal lain yang sudah dituliskan di atas, baru saya ketahui, jadi belum terlalu berpengaruh.

Proses kurasi atau pemilihan konten menurut Mas Priyo bisa dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan, seperti:

  • Apakah konten saya bermanfaat?
  • Apakah konten saya mendatangkan pengunjung?
  • Apakah struktur konten sudah Ok?
  • Apa kekurangan konten saya?

Ada pula tambahan tips yang Mas Priyo bagikan, yaitu agar kita mencari kata kunci yang performanya bagus di GSC. Kamu bisa menemukan di bagian query atau performa.

Kenapa kita perlu memanfaatkan kata kunci yang ada di GSC dibanding mencari kata kunci baru? Alasannya adalah karena kata kunci atau keywords tersebut sudah terbukti bisa mendatangkan pengunjung ke blog kita.

4. Monitoring Performa Konten

Ini kurang lebih mirip dengan monitoring performa blog yang sudah dijelaskan di bagian awal. Gunanya untuk melihat apa yang berhasil dan apa yang bisa diperbaiki. Namun, yang membedakan adalah tools atau peralatan yang digunakan untuk melakukan monitoring.

Untuk memonitor performa konten, maka kita bisa memanfaatkan beberapa perangkat berikut ini:

  • Google Analytics: ini menunjukkan performa interaksi antara web dengan pembaca. Di dalamnya bisa dilihat durasi, page/session, dan prime time.
  • Webmaster (GSC) ini digunakan untuk mengetahui interaksi antara website dengan mesin pencari.
  • WhatsmySERP ini digunakan untuk melihat performa peringkat kata kunci di mesin pencari. Ada email yang menginformasikan apa kata kunci yang naik dan turun.

Fun Facts Tentang Konten dan Sitemap:

Btw, tahukah kamu, kalau isi sitemap sebuah blog atau laman web itu dimulai dari artikel paling terakhir diupdate?

Karena itu, Mas Priyo menyarankan agar kita melihat kembali artikel-artikel lama dan melakukan sedikit perubahan. Dengan melakukan upay aini, maka tidak menutup kemungkinan artikel jadul tersebut akan dilirik oleh mesin pencari atau dalam hal ini adalah GoogleBot.

5. Optimasi Offpage

Buat teman-teman blogger mungkin sudah familiar, bahwa optimasi offpage dilakukan dengan menambahkan backlink untuk artikel kita dari blog atau laman web lain. Namun, apakah optimasi Offpage hanya dilakukan dengan backlink semata?

Ternyata tidak, Fernando!

Optimasi Offpage bisa dilakukan dengan beberapa hal lain, seperti melalui social signal. Ini artinya apakah website punya pengaruh di kehidupan orang lain?

Untuk meningkatkan social signal ini, maka kita bisa melakukan beberapa hal, seperti dengan auto share artikel pakai Dlvr.it, Tombol Share, Feed to Pinterest, Arisan Share Link, email marketing (pakai tombol subscribe, bisa pakai bawaan/mailchimp), mengaktifkan push notifikasi, dan juga backlink.

Backlink

Di antara berbagai strategi optimasi offpage tersebut semuanya dari dalam blog atau web kita sendiri. Sementara optimasi offpage yang ideal itu berasal dari luar. Artinya dari backlink yang dikirimkan oleh orang lain ke artikel kita.. Namun demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kita mendapatkan suatu backlink yang ideal, yaitu:

  • Memiliki kesamaan bahasa dan niche
  • Authority baik
  • Sedikit link keluar
  • Inner post

Mas, kalau sumber backlink yang baik itu dari mana, ya?

Tenang, Mas Priyo pun tak lupa menjelaskan bagian ini. Kata beliau, sumber backlink yang belum banyak dimanfaatkan adalah di:

  • Forum; Kaskus; Detik,
  • Komunitas: Kumparan, Kompasiana,
  • Wiki: Wikipedia,
  • Halaman Brand: Daftar peserta lomba
  • ShareDoc: Slideshare, Academia

Anchor Text

Setelah urusan backlink selesai. PR selanjutnya adalah kita perlu memahami anchor text. Anchor text adalah karakter/huruf dan kata yang dapat dilihat oleh pengguna. Sementara itu, di balik tampilan tersebut ada hyperlink yang mengarahkan pengguna ke website tertentu.

Namun, lagi-lagi menurut Mas Priyo, ada beberapa hal yang bisa ditingkatkan. Pelan-pelan kita perlu mengenal beberapa istilah baru dan kemudian belajar upaya peningkatan backlink terkait dengan anchor text ini ya.

  • Branded Keyword, artinya kita menggunakan nama kita atau nama blog sebagai anchor text kemudian diberikan link ke alamat blog kita.
  • Naked URL artinya memberikan alamat URL lengkap untuk suatu anchor text, baik itu untuk halaman utama (homepage) atau ke suatu artikel.
  • Anchor Keyword artinya anchor text tersebut adalah suatu kata kunci tertarget yang diberikan link ke suatu article tertentu.

Setelah memahami istilah-istilah terkait anchor text dan backlink, catatan dari Mas Priyo adalah: rata-rata blogger hanya menggunakan branded keyword saat blogwalking. Artinya mereka hanya mencantumkan nama dan link ke homepage atau laman utama.

Tindakan itu tentu saja boleh, hanya efek sampingnya adalah jumlah backlink ke artikel menjadi tidak ada. Hal itu terjadi karena selama ini tidak dioptimasi.

“Ingat! Artikel itu juga membutuhkan backlink.”

Kata Mas Priyo.

Tiered Backlink

Tiered backlink adalah sebuah strategi untuk membangun backlink ke website atau blog kita. Strategi ini meningkatkan nilai SEO dari suatu backlink yang sudah ada. Karenanya, langkah ini menjadi penting untuk optimasi blog kita.

Strategi ini seperti sebuah Multi Level Marketing (MLM). Hasilnya adalah piramida backlink. Secara sederhana, piramida link dibangun dari backlink ke suatu backlinks yang sudah ada. (Semoga penjelasan ini sudah cukup sederhana, ya? hahaha).

Sedikit gambaran tambahan adalah, kamu meningkatkan kekuatan sebuah website atau blog dengan cara membangun backlink. Kemudian apa yang terjadi kalau kamu membangun backlink ke halaman yang memiliki backlink ke blog-mu?

Hasilnya adalah kamu melipatgandakan kekuatan backlink itu. Hal ini mungkin terjadi karena terjadi peningkatan pada Page Authority.

Alat untuk Memeriksa Backlink

Seperti berbagai langkah lain untuk melakukan optimasi blog yang telah disebutkan sebelumnya, maka kita juga perlu memeriksa performa dari backlink. Untuk melakukan hal ini, maka kamu bisa memanfaatkan:

Mohon maaf di bagian alat untuk memeriksa backlink ini tidak banyak penjelasannya, karena saya pun masih mencari-cari bagaimana caranya, hahaha.

Penutup

Catatan panjang ini berasal dari sesi BloggerTalks oleh Mas Priyo Harjiyono dan diselenggakan oleh BloggerHub mengenai topik optimasi blog ini.

Jika teman-teman ingin melihat rekaman penjelasan Mas Priyo, bisa dilihat di YouTube BloggerHub berikut ini:

https://youtu.be/3PPRZWarRYg

Dari sini semoga teman-teman mendapatkan pencerahan dan gambaran apa saja yang harus dilakukan ketika melakukan optimasi blog.

Memang langkah-langkah yang diperlukan cukup komplek. Namun, semoga menjadi penyemangat teman-teman untuk terus nge-blog dan paling penting blog-nya pun kian ramai.

Salam hangat dan terima kasih sudah menyimak hingga baris ini.

Semoga bermanfaat dan jangan lupa disimpan atau dibagikan ke teman lain yang membutuhkan informasi ini agar lebih banyak yang merasakan manfaatnya.

Oya, siapa tahu ada yang memiliki pertanyaan, jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar ya.

Tetap sehat dan semangat ya! Cheers!

Picture Source: Website vector created by freepik – www.freepik.com