4 Langkah Mengatur Format Tulisan Agar Pembaca Suka
4 Langkah Mengatur Format Tulisan Agar Pembaca Suka

Mengatur format tulisan adalah cara yang bisa kamu lakukan untuk meningkatkan tulisanmu.

Dalam dunia tulis menulis, hampir seluruh fokus diberikan pada hal-hal, seperti: 

  • Apa yang coba kamu sampaikan dalam tulisan? 
  • Apa ide yang coba kamu tuliskan? 
  • Sebagus apa bahasa yang kamu gunakan? 
  • Apakah penempatan koma dan titik sudah tepat? 
  • Apakah hubungan kalimat ke kalimat sudah mengalir? 

Ketika seorang penulis berfokus pada hal-hal tersebut, memang bukanlah sebuah kesalahan. 

Namun, menurut Nicolas Cole dan Dickie Bush dalam Newsletter mereka, para penulis seringkali lupa bagaimana kata-kata mereka TERLIHAT ketika dibaca. Padahal, bagaimana sebuah tulisan itu terlihat di mata pembaca akan mempengaruhi cara mereka membaca dan mengonsumsi tulisan kita. 

Bahkan, bagaimana format tulisan terlihat di layar atau sebuah halaman seringkali menentukan apakah seorang pembaca akan menghabiskan waktu untuk membaca tulisan tersebut atau tidak. 

Pentingnya Mengatur Format Tulisan

Kenapa mengatur format tulisan sangat penting? 

Alasannya adalah karena ini membutuhkan waktu yang paling sedikit. Coba kita bandingkan dengan upaya yang kamu butuhkan untuk menentukan niche atau tema tulisan yang bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan. Kemudian ketika kamu ingin menguasai seni dalam berbahasa dan mengatur tulisan agar mengalir lancar, maka ini membutuhkan waktu bertahun-tahun. 

Namun, mengatur format tulisan dan belajar membuat tulisan kita lebih mudah dibaca (skimmable) hanya membutuhkan waktu singkat. Boleh dibilang hanya dalam hitungan menit saja. 

Itulah inti dan tujuan dari mengatur format tulisan ini. 

Untuk memberikan gambaran bagaimana kamu bisa mengatur format tulisan tersebut. Kemudian nanti kamu dapat melakukan sendiri, kita akan coba memformat ulang sebuah tulisan, ya. 

Kunci Agar Tulisan Mudah Dibaca 

Kemudahan sebuah tulisan dibaca adalah dari formatnya. 

Untuk mencapai tujuan tulisan ini, kita asumsikan saja kamu sudah selesai membuat sebuah tulisan. Kamu sudah menuangkan ide ke dalam sebuah halaman. Kamu sudah memiliki beberapa paragraf panjang dan pendek. Namun, rupanya kamu hanya membuat ‘dinding’ terbuat dari teks. 

Namun, itu Ok juga, kok. 

​Kebanyakan penulis merasa terbantu ketika memulai dengan rumus ‘tuliskan saja’. Mereka ini kemudian baru khawatir dengan format tulisan setelah proses menulis itu. Sebagian penulis yang lain menentukan format tulisan yang akan digunakan bersamaan dengan proses menulis.

Kedua metode bisa kamu coba. Namun, yang perlu diingat adalah ketika kamu menyadari teknik membuat format tulisan yang berhasil. Artinya tulisan yang nantinya akan disukai dan dibaca oleh para pembaca.  

Ketika kesadaran akan format tulisan yang berhasil tersebut muncul, kamu pelan-pelan akan mulai menerapkannya dalam tulisanmu. 

Nah, inilah tujuan dari belajar membuat format tulisan. 

Lambat laun, kamu ingin pengaturan format tulisan menjadi bagian dari proses menulismu. Kemudian dari pengaturan format tulisan tersebut nantinya akan mempengaruhi tulisanmu. Namun, bisa dari tulisan yang justru nantinya akan mempengaruhi formatnya.

Berikut ini langkah-langkah untuk melakukan formatting atau mengatur format tulisan. 

Langkah 1 Format Tulisan: Awali Setiap Bagian dengan Satu Kalimat Pembuka

Jika ingin meningkatkan ketertarikan dan rasa penasaran pembaca pada tulisanmu, sehingga mau tidak mau mereka terus membaca, maka awali tulisanmu dan setiap bagian di dalamnya dengan satu kalimat. 

Ketika pembaca melihat sebuah kalimat tersebut, secara tidak langsung mereka akan berpikir, “Hmm… ini mudah dibaca.” 

Kemudian, tanpa sadar mereka akan mulai dan terus membaca. Mata mereka sudah mulai memindai (scanning/skimming) paragraf berikutnya. 

Beberapa contoh kalimat tunggal yang bisa digunakan untuk membuka tulisan dan dapat memikat perhatian pembaca adalah: 

  1. Kalimat berisi pernyataan yang kuat. 
  2. Kalimat yang pertanyaan yang memancing rasa ingin tahu. 
  3. Kalimat yang berisi pendapat yang kontroversial. 
  4. Kalimat yang berisi keterangan waktu. 
  5. Kalimat yang menunjukkan kerentanan kita. 
  6. Kalimat berisi sudut pandang yang aneh dan unik.

Berikut ini contoh penerapan kalimat-kalimat tersebut: 

Katakanlah kamu sudah menulis paragraf yang cukup ‘besar’ untuk memulai tulisanmu. Kita dapat mengubah dan meningkatkan kualitas bagian pembuka itu serta meningkatkan kemungkinan pembaca melewati kalimat pertama itu dengan ‘hanya’ memastikan kalimat pembukanya terdiri dari satu kalimat. ​

Contohnya: 

Alasan utama seseorang membaca adalah karena mereka ingin jawaban dari pertanyaan mereka: “Bagaimana aku menumbuhkan tomat di halaman? Apakah ada teknik yang dapat kugunakan untuk melakukan negosiasi gaji? Seperti apa kehidupan remaja yang juga seorang penyihir? Artinya, tugasmu sebagai seorang penulis adalah a) menyadari spesifikasi pertanyaan yang diajukan oleh pembaca, dan b) memberikan jawabannya kepada mereka. 

Itu paragraf yang panjang! 

Sebagai seorang pembaca, kamu sendiri mungkin tidak akan membaca paragraf itu secara keseluruhan. Kamu mungkin akan melihat ‘dinding text yang besar’ dan memutuskan untuk hanya memindai tulisan itu untuk menemukan kalimat yang menarik. 

Hal itu terjadi karena sebagai pembaca kita tidak bisa mencegah diri kita sendiri. Kita selalu mencari-cari apa hal yang paling penting disampaikan dalam sebuah paragraf. 

Jadi, berikut ini kita akan mencoba melakukan format tulisan pada paragraf pembuka tersebut. 

Kamu bisa memperhatikan perbedaannya. 

Alasan seseorang membaca adalah karena mereka ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaannya: 

“Bagaimana aku menumbuhkan tomat di halaman? Apakah ada teknik yang dapat kugunakan untuk melakukan negosiasi gaji? Seperti apa kehidupan remaja yang juga seorang penyihir? Artinya, tugasmu sebagai seorang penulis adalah a) menyadari spesifikasi pertanyaan yang diajukan oleh pembaca, dan b) memberikan jawabannya kepada mereka.

Wow! 

Kamu bisa melihat bahwa sekarang tulisan tersebut terlihat asyik dan rapi karena diawali dari sebuah kalimat. Di sini kita telah menerapkan langkah pertama dari proses yang penting dalam mengubah format tulisan.   

Apakah kamu dapat merasakan perbedaan itu? Seperti apa reaksi tubuhmu ketika membaca contoh tulisan pertama yang penuh dengan kata-kata dan tulisan kedua yang diawali dari sebuah kalimat? 

Bukankah kamu merasakan semacam ‘keringanan’ ketika membaca contoh tulisan yang kedua? Ini bukannya tidak disengaja. Pembuka yang terdiri dari satu kalimat terasa mudah. Pembaca pun menyukai segala sesuatu yang dirasa mudah. 

Kemudian, tahukah kamu tipe kalimat pembuka seperti apa yang digunakan dalam contoh tersebut? 

Itu adalah contoh pertama, pernyataan yang kuat: “Alasan seseorang membaca adalah karena mereka ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.” 

Dengan kalimat tunggal sebagai pembuka tersebut, maka pembaca sudah bisa mengetahui topik dari tulisan kita. Pembaca memahami arah dari tulisan. Pembaca pun seolah-olah mendengar bisikan yang meyakinan: “Hmm… penulisnya kayaknya paham, nih, dengan topik yang akan dituliskan.

Alasan-alasan itulah yang menyebabkan kepercayaan kepada pembaca untuk terus membaca kalimat-kalimat berikutnya. 

Langkah 2 Format Tulisan: Carilah Kesempatan untuk Mengubah Paragraf yang Panjang Menjadi Poin-poin. 

  • Jika kamu membuat daftar, maka seharusnya menjadi poin-poin. 
  • Jika kamu memberikan banyak contoh, maka perlu menjadi poin-poin. 
  • Jika kamu menulis hal-hal yang akan mengantarkan pembaca pada satu kesimpulan, maka perlu menjadi poin-poin. 

Alasan kenapa perlu membuat format tulisan dalam bentuk poin-poin adalah: 

Berkaitan dengan tugas pertama kita sebagai penulis yang harus selalu bertanya, “Bagaimana caranya saya membuat format tulisan ini agar mudah dipahami pembaca? 

Ini berkebalikan dengan kepercayaan yang berlaku bahwa pembaca harus duduk, diam, dan membaca, menghargai, menahan napas di setiap kata. Seakan-akan tulisanmu itu begitu indah dan memikat perhatian mereka. 

Bukan, bukan itu tugas penulis. 

Kita harus mengubah kepercayaan dan mimpi itu. Sebab saat ini hal-hal itu tidak lagi penting. Memiliki tujuan agar pembaca berpikir bahwa kita​ adalah seseorang yang luar biasa adalah pemahaman yang keliru. 

Tugas kita sebagai penulis adalah agar mereka membaca tulisan kita tanpa membuang-buang waktu mereka yang berharga. 

Titik!

Jika kamu sukses dalam melaksanakan tugas itu, mereka akan kembali lagi untuk membaca lebih banyak. 

Namun, jika kamu gagal, mereka akan berkata, “Wow, penulis ini benar-benar menghabiskan waktuku.” Kemudian mereka pun tidak akan pernah kembali lagi. 

Jadi, gunakan poin-poin ketika kamu memiliki kesempatan itu untuk membantu dan menyelamatkan waktu pembaca. 

Inilah contoh tulisan kita, termasuk dengan pembuka berupa satu kalimat tadi: 

Alasan seseorang membaca adalah karena mereka ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaannya: 

“Bagaimana aku menumbuhkan tomat di halaman? Apakah ada teknik yang dapat kugunakan untuk melakukan negosiasi gaji? Seperti apa kehidupan remaja yang juga seorang penyihir? Artinya, tugasmu sebagai seorang penulis adalah a) menyadari spesifikasi pertanyaan yang diajukan oleh pembaca, dan b) memberikan jawabannya kepada mereka.

Perhatikan: di paragraf kedua adalah daftar beberapa pertanyaan. Dari sisi konten, tidak ada persoalan. Namun, dari sisi format tulisan kita bisa mengubahnya. 

Berikut ini tulisan yang sama, tetapi formatnya sedikit diubah. Lebih mudah dibaca, bukan? 

Alasan seseorang membaca adalah karena mereka ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaannya: 

  • “Bagaimana aku menumbuhkan tomat di halaman? 
  • Apakah ada teknik yang dapat kugunakan untuk melakukan negosiasi gaji? 
  • Seperti apa kehidupan remaja yang juga seorang penyihir? 

Artinya, tugasmu sebagai seorang penulis adalah a) menyadari spesifikasi pertanyaan yang diajukan oleh pembaca, dan b) memberikan jawabannya kepada mereka.

Wow!

Apakah kamu melihat perbedaan dalam tulisan itu yang kini terlihat lebih rapi lagi? 

Sekarang tulisan itu terdiri dari: 

  • Sebuah kalimat pembuka.
  • Daftar pertanyaan dalam bentuk poin-poin. 
  • Kalimat penutup.

Kita dapat memahami keseluruhan pembuka tulisan itu tanpa upaya dan kesulitan yang berarti, dalam waktu sangat singkat. 

Sekarang, coba dibandingkan dengan draft tulisan awal berikut ini: 

Alasan utama seseorang membaca adalah karena mereka ingin jawaban dari pertanyaan mereka: “Bagaimana aku menumbuhkan tomat di halaman? Apakah ada teknik yang dapat kugunakan untuk melakukan negosiasi gaji? Seperti apa kehidupan remaja yang juga seorang penyihir? Artinya, tugasmu sebagai seorang penulis adalah a) menyadari spesifikasi pertanyaan yang diajukan oleh pembaca, dan b) memberikan jawabannya kepada mereka.

Besar sekali perbedaannya, bukan?

Bahkan, kamu mungkin tidak akan membaca lebih dari 4 kata ketika otakmu memberontak, “TIDAKKKKK….” dan kamu pun berhenti membaca. ​

Langkah 3 Format Tulisan: Buatlah Sub-Judul

Sub-judul adalah kalimat yang ditebalkan dan berbeda formatnya dalam tulisan.  Peran sub-judul adalah membantu pembaca untuk mengetahui ‘di mana’ atau posisi mereka dalam alur pikiranmu sebagai penulis. 

Seperti sub-judul di tulisan ini.

Karena tulisan ini ditulis menggunakan langkah-langkah, kemudian setiap langkah ditebalkan (bold) dan berbeda dengan kalimat lainnya, maka kamu dapat memindai atau melompat ke bagian-bagian yang kamu perlukan. 

Dari sudut pandang pembaca, ini menjadi petunjuk bahwa tulisan yang sedang dibaca benar-benar diatur dengan sangat hati-hati demi keuntungan pembaca. 

Sebelum lanjut membaca, mungkin kamu akan menyukai: 8 Tips Menulis Kreatif bagi Penulis Pemula

Bandingkan dengan sebuah bacaan yang memiliki format tulisan kurang baik , hanya berisi tembok kata-kata yang menyulitkan pembaca. 

Kita dapat mengatakan bahwa tulisan semacam itu tidak dibuat demi keuntungan dan kemudahan pembaca. Sebaliknya, tulisan itu lebih mementingkan keuntungan dari penulisnya. Itu menjadi ajang pamer, betapa kerennya dia sebagai seorang penulis. 

Beberapa penulis menyukai tahap persiapan dalam proses menulis. Ini bisa dilakukan dengan membuat daftar poin-poin utama yang kemudian akan menjadi sub-judul. Setelah didapat poin-poin ini, langkah selanjutnya adalah dengan memberikan isi di antara poin-poin tersebut. 

Tahap ini, oleh Nicolas Cole dan Dickie Bush disebut sebagai proses ‘Prepping the Page’ atau ‘Menyiapkan Halaman’. 

Jika kamu kesulitan membayangkan proses ini, maka ingat nggak ketika di sekolah dasar dan bertemu dengan buku mewarnai. Dalam buku tersebut, sudah ada garis-garis yang membatasi bidang satu dengan yang lain yang perlu diwarnai. Nah, peran dari poin-poin dalam penyiapan halaman juga seperti itu. Tugas kita adalah mengisi bagian di antara poin-poin tersebut. 

Namun, tentu saja pertama-tama kita perlu menyiapkan poin-poin utama yang akan disampaikan dalam tulisan. 

​”Tapi, saya tipe penulis yang langsung menuangkan gagasan ke dalam tulisan dan tidak pernah memikirkan sub-judul.” 

Oke, jika kamu tipe penulis seperti itu, maka kamu tetap dapat mengatur ulang format tulisan dan menambahkan sub-judul. Cara yang paling mudah untuk memformat ulang adalah dengan membagi tulisan ke dalam beberapa bagian. 

Misalnya, kamu sudah menuliskan sebuah tulisan sepanjang 1.000 kata. Untuk menambahkan sub-judul, kamu bisa membagi tulisan panjang itu ke dalam beberapa bagian, katakanlah dipecah-pecah tiap 300 kata. Nah, di antara pecahan tersebut bisa ditambahkan sub-judul. 

Ada beberapa keuntungan ketika kamu mampu membagi dan melakukan format tulisan ke dalam beberapa bagian seperti itu. 

  • Format tulisan yang dibagi ke dalam beberapa bagian yang kurang lebih sama akan menciptakan kesan simetris kepada para pembaca. Ini kemudian akan membuat tulisan menyenangkan dan mudah dibaca. 
  • Membagi tulisan juga menciptakan ‘tahapan’ bagi pembaca. Mereka dapat melihat ke depan setiap kali melakukan scroll. Pendeknya, sub-judul dan tulisan yang dibagi-bagi akan mendorong pembaca untuk terus membaca. Sebab, mereka tahu bagian berikutnya akan terlihat ketika kita membaca bagian sebelumnya. 
  • Membagi tulisan juga memberikan kejelasan ke mana kamu akan membawa para pembaca. Bayangkan sub-judul dan bagian-bagian tulisan itu seperti rambu-rambu lalu lintas. Dengan adanya sub-judul dan tulisan yang dibagi-bagi dengan baik, maka pembaca akan tahu arah dari tulisan. 
  • Sementara itu, bagi kita para penulis, sub-judul dan pembagian halaman atau tulisan akan memberikan petunjuk yang lain. Petunjuk tersebut berupa berapa banyak kata lagi yang tersisa untuk kita untuk menjabarkan sebuah poin. Misalnya, kamu memiliki 100 kata untuk setiap poin, maka kamu perlu memanfaatkannya untuk menjabarkan sebuah poin sebelum berpindah ke poin yang lain. 

Singkat cerita, sub-judul menimbulkan kejelasan dalam tulisan kita. 

Dalam contoh tulisan kita, kalimat berikutnya bisa menjadi contoh sub-judul yang tepat. 

Coba kita tengok lagi yuk. Sampai di sini, kita telah memiliki bagian pembuka tulisan yang lengkap. 

Setelah bagian pembuka itu, maka tiba saatnya untuk sebuah sub-judul! 

Contohnya: 

Alasan seseorang membaca adalah karena mereka ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaannya: 

  • “Bagaimana aku menumbuhkan tomat di halaman? 
  • Apakah ada teknik yang dapat kugunakan untuk melakukan negosiasi gaji? 
  • Seperti apa kehidupan remaja yang juga seorang penyihir? 

Artinya, tugasmu sebagai seorang penulis adalah a) menyadari pertanyaan yang diajukan oleh pembaca, dan b) memberikan jawabannya kepada mereka.

Namun, agar jawabanmu tetap diingat, kamu perlu menyampaikannya dalam bentuk cerita.

Contohnya, katakanlah pertanyaan pembaca adalah bagaimana menumbuhkan tomat di halaman? Salah satu cara untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah dengan menceritakan pengalaman kita ketika menanam tomat di halaman. 

Wow!

Dapatkah kamu melihat bagaimana kalimat yang dicetak tebal di tengah-tengah itu menarik perhatian? 

Bahkan, pembaca ‘mungkin’ akan membaca tulisan di atas itu seperti ini: ​

  • Langsung ke sub-judul, karena itu dicetak tebal dan lebih mudah dibaca/terlihat.
  • Kemudian mereka baru memutuskan apakah akan membaca tulisan di bawahnya atau justru membaca bagian sebelumnya. 
  • Pembaca juga TIDAK melihat bagian berikutnya sebagai sekumpulan teks yang terlalu banyak. 
  • Pembaca memutuskan untuk memindai (scan/skim) bagian pertama karena bagian itu sudah diformat dengan bagus dan sangat mudah untuk dipindai. 

Inilah sejatinya maksud dari pertanyaan dalam tulisan ini, bahwa pembaca tidak membaca secara linear sebuah tulisan di internet. 

Sebenarnya, saat ini pembaca melompat-lompat ke bagian-bagian tulisan yang mereka sukai. Bahkan, mereka seperti terbang, scroll-scroll, dan mencari bagian-bagian tulisan yang paling mudah dibaca. 

Kamu pun bisa memperhatikan kebiasaanmu ketika membaca sebuah tulisan di internet. Kemungkinan besar, kamu pun akan melakukan scroll-scroll hingga menemukan bagian yang terlihat paling menarik di tulisan tersebut. 

Setelah memahami pentingnya sub-judul, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana merapikan paragraf setelah sub-judul tersebut? 

Langkah 4 Format Tulisan: Gunakan pola 1/3/1.

Langkah terakhir untuk memformat ulang tulisan kita adalah melihat setiap bagian dan mencari peluang untuk menggunakan pola menulis 1/3/1 atau beberapa variasinya, seperti: 

  • 1/4/1
  • 1/5/1
  • 1/2/5/2/1
  • dll.

Kunci dari menerapkan pola tersebut adalah untuk meningkatkan tulisan kita agar mampu dipindai (scan) dan dilompat-lompat (skim) ketika membacanya. Untuk meraih hal itu, maka digunakan variasi panjang kalimat di tiap bagian dari tulisan. Idealnya, ketika kita membuka dan menutup tulisan menggunakan sebuah kalimat. Ini berfungsi seperti ‘pintu’ atau sesuatu yang membuat pembaca masuk ke bagian berikutnya. Karena itu, maka pastikan pintu itu selalu terbuka. 

Contohnya berikut ini: 

Alasan seseorang membaca adalah karena mereka ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaannya: 

  • “Bagaimana aku menumbuhkan tomat di halaman? 
  • Apakah ada teknik yang dapat kugunakan untuk melakukan negosiasi gaji? 
  • Seperti apa kehidupan remaja yang juga seorang penyihir? 

Artinya, tugasmu sebagai seorang penulis adalah a) menyadari pertanyaan yang diajukan oleh pembaca, dan b) memberikan jawabannya kepada mereka.

Namun, agar jawabanmu tetap diingat, kamu perlu menyampaikannya dalam bentuk cerita.

(1) Contohnya, katakanlah pertanyaan pembaca adalah bagaimana menumbuhkan tomat di halaman? 

(4) Salah satu cara untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah dengan menceritakan pengalaman kita ketika menanam tomat di halaman. Misalnya kita bisa menggambarkan langkah-langkah persiapan yang perlu dilakukan. Dari mulai menyiapkan media tanam, hingga bibit tomat itu sendiri. Kemudian kita bisa juga memberikan saran-saran yang berisi langkah perawatan dari tomat itu.

(1) Dengan cara itu, maka pembaca akan semakin tertarik dengan tulisanmu.

Wow!

Lihatlah bagaimana pembaca akan menemukan kemudahan untuk membaca bagian berikutnya, karena tulisan itu memiliki format yang mudah diikuti. 

​Ingat, rumusnya adalah: 

  • Buka dengan 1 kalimat yang jelas. 
  • Berikutnya sampaikan penjelasan dalam 4 kalimat.
  • Tutup bagian tulisan itu dengan 1 kalimat ringkasan. 

Kamu dapat menggunakan variasi pola 1/3/1, 1/4/1, 1/5/1 dan lainnya. Selesaikan tulisanmu menggunakan pola tersebut hingga selesai dan para pembaca tidak akan mengetahui apa yang sebenarnya sedang kita sebagai penulis lakukan. 

Pembaca hanya akan berpikir, “Wow! Tulisan ini diformat demikian bagus dan tulisannya mengalir!” 

Mungkin hanya pembaca yang terlatih, seperti kamu saat ini yang mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. 

Penutup

Kunci dari mem-format sebuah tulisan adalah selalu mencoba mengurangi hambatan bagi para pembaca.

Untuk melakukan hal itu, tidak ada jawaban benar dan salah. 

Apa yang disajikan di sini adalah beberapa pendekatan yang terbukti berhasil. Namun, cara yang paling baik dan tepat adalah dengan terus bertanya, “Bagaimana caranya saya membuat tulisan yang memudahkan pembaca?”  

  • Jika menggunakan daftar poin-poin (bulleted list) lebih mudah bagi pembaca, maka gunakan itu. 
  • Jika menggunakan langkah-langkah akan lebih mudah bagi pembaca, maka gunakan itu. 
  • Jika menggunakan bagian-bagian pendek dari kalimat dan tulisan lebih mudah bagi pembaca, maka gunakan itu.

Panduan kita, sekali lagi, adalah mencari cara menulis dan membuat tulisan yang akan memudahkan dan nyaman dinikmati oleh pembaca. ​Ingat, pembaca adalah tokoh atau lakon utama di tulisan kita. Agar menjadi seorang penulis yang efektif, maka tugas kita adalah melayani pembaca dengan sebaik-baiknya.