Lingkungan

Dampak COVID-19 pada Lingkungan

Photo by Anna Shvets from Pexels

Pandemi COVID-19 telah menyebabkan berbagai dampak. Meskipun dampak jangka panjang pada manusia dan kehidupan sosial masih belum jelas, tetapi kita sudah melihat beberapa dampak pandemi tersebut pada lingkungan. 

Pada beberapa bulan awal saat pandemi ini mulai menyebar dan kehidupan ‘melambat’, para ahli lingkungan menemukan bahwa alam menemukan waktu untuk dirinya sendiri. 

Namun, pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah itu sebuah sinyal positif yang akan menggantikan semua ketakutan dan kehilangan dalam jangka panjang atau sebaliknya? 

Sinyal Positif

Orang-orang dapat melihat air bersih nan bening di kanal-kanal Kota Venesia di Italia untuk pertama kalinya selama bergenerasi. Mereka yang berdiam di rumah melihat hewan-hewan liar berjalan-jalan di kota-kota yang menjadi sepi. 

Asap polusi di kota-kota, seperti Shanghai dan Delhi pun menghilang, sehingga langit biru dan tak berawan pun menjadi terlihat jelas. Sebuah kondisi yang sulit dicapai, bahkan setelah ditandatanganinya perjanjian internasional mengenai lingkungan. Seiring jatuhnya harga minyak, maka emisi karbon pun berkurang. 

Semua sinyal itu menunjukkan hasil yang positif pada jangka panjang untuk lingkungan dan alam. 

Sekadar Kebetulan Semata

Namun, kemudian para ahli menyadari, bahwa semua tanda-tanda positif itu hanya sekadar kebetulan semata. Bahkan, beberapa memercayai bahwa dampak lingkungan pasca pandemi justru akan lebih buruk dibandingkan perkiraan sebelumnya. 

Persoalannya adalah pada saat semua kondisi membaik dan kembali seperti semula, maka orang memiliki keinginan yang tak tertahankan untuk segera keluar dan bepergian. Akhirnya, jejak-jejak karbon pun kembali terjadi, bahkan mungkin lebih parah dibandingkan sebelumnya. 

Beberapa Dilema

Kendati dampak pandemi pada lingkungan, atmosfer, dan lapisan ozon cukup menjanjikan, di sisi lain penggunaan plastik dan berbagai kemasan plastik meningkat. 

Hal itu terjadi karena kebutuhan untuk menghindari kontaminasi virus pada makanan. Selain itu, kondisi tersebut juga terjadi seiring perubahan pola konsumsi menjadi pengiriman atau delivery yang memerlukan pengemasan. 

Mengenai penurunan emisi karbon pada masa pandemi, para peneliti menyampaikan bahwa sektor transportasi menyumbang 23 persen dari emisi global. Pada saat orang tinggal di rumah, maka mereka tidak bepergian, sehingga emisi karbon pun turun. 

Namun, ketika dunia kembali ‘berputar’ dan orang kembali bepergian, maka mungkin akan menjadi masalah baru yang lebih serius. 

Meskipun mungkin pengalaman dari pandemi saat orang lebih banyak di rumah dan memiliki berbagai aktivitas termasuk bekerja, mungkin akan mengubah pola perjalanan orang di masa yang akan datang. 

Mempertahankan yang Sudah Baik

Kunci dari mempertahankan dampak positif pandemi pada lingkungan adalah dengan terus mendorong perubahan kebiasaan positif manusia. 

Misalnya dengan terus menggunakan bahan-bahan yang tidak merusak seperti kertas, bahan daur ulang, dan juga mudah terurai. 

Kita juga dapat terus mempertahankan pola hidup sehat, lebih banyak berjalan, bersepeda, dan mengurangi jejak-jejak karbon tiap individu. 

Agar perubahan positif karena pandemi dapat terus berlangsung, kita perlu melihat lebih dari sekadar kepentingan individu, tetapi sebagai satu kesatuan global yang meninggali satu rumah bersama bernama Bumi. 

Jika Bumi rusak, ke mana lagi kita pergi?  

Sumber Greenmatters

Leave a Reply