Categories
Kepemimpinan Penanggulangan Bencana

Mengenal Normalitas yang Baru dan Dunia VUCA

Apa yang dimaksud normalitas baru dan dunia VUCA?

Sumber: Dokumen Pribadi

Pengantar

Saat ini banyak orang yang seringkali terkaget-kaget karena berbagai fenomena. Selepas musim kering yang panjang, kemudian tiba-tiba banjir mengguyur Jakarta dengan intensitas yang luar biasa. Di Australia, terjadi hal sebaliknya, yaitu selepas terjadinya kebakaran hutan dan lahan, mendadak kota Canberra diguyur hujan es (hail) yang juga merusak kendaraan karena ukuran butiran es yang besar. 

Selain itu, krisis di Timur Tengah tak kunjung reda, bahkan ada kemungkinan semakin membahayakan setelah pemimpin Brigade Al Quds, Jenderal Soleimmani tewas ditembak pesawat nir awak (drone) milik Amerika Serikat. Belum sampai peristiwa itu berakhir, kini wabah Virus Corrona tipe baru melanda Tiongkok dan mulai menyebar ke berbagai negara. 

Di tanah air pun, krisis Natuna, kebakaran hutan dan lahan, banjir, longsor, dan berbagai bencana juga terjadi. 

Sebenarnya, dunia seperti apa yang kita tinggali saat ini? 

New Normal

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam refleksi kejadian bencana tahun 2019 dan prediksi bencana untuk tahun 2020 mengingatkan bahwa, “Ekstremisitas masa lalu, akan menjadi normalitas masa kini dan akan datang.”

Para ahli menyebut masa ini sebagai the New Normal. Pujangga Jawa Ranggawarsita sudah lebih dahulu beberapa ratus tahun lalu menyebut zaman yang kita tinggali saat ini adalah Zaman Edan. 

Fenomena global, seperti perubahan iklim ditengarai sebagai pemicu berbagai perubahan yang terjadi saat ini. Namun, kondisi itu tidak akan menjadi bencana, jika manusia tidak tinggal pada zona yang berbahaya. 

Sayangnya, seperti kita ketahui, saat ini banyak di antara saudara kita yang tinggal di tempat-tempat yang rawan bencana, seperti di pesisir pantai yang rawan tsunami, di sempadan sungai yang rawan banjir, di punggung-punggung gunungapi yang subur, tetapi rawan letusan, atau di bawah tebing-tebing yang rawan longsor. 

Para peneliti telah mengeluarkan peringatan, bahwa perubahan iklim dan pemanasan global akan mengubah pola iklim. Ini artinya bukan saja periode yang lebih lama untuk hujan atau kekeringan, tetapi juga intensitas dan frekuensi dampak yang lebih besar. 

V U C A

Titimangsa yang dikenal sebagai Zaman Edan atau New Normal saat ini, karena berbagai karakteristiknya sering disebut juga sebagai the World of VUCA atau Dunia VUCA, dengan V untuk volatility, U untuk Uncertainty, C untuk Complexity, dan A untuk Ambiguity.

Berikut ini karakteristik masing-masing V U C A.  

Volatility – berkaitan dengan kecepatan perubahan di industri, pasar, atau dunia secara umum. Seringkali dihubungkan dengan perubahan dalam permintaan dan gejolak dalam waktu singkat yang terjadi di pasar. Semakin volatile atau bergejolak dunia, maka semakin cepat perubahan terjadi. 

Uncertainty – berkaitan dengan sejauh mana kemampuan kita untuk memprediksi masa depan. Ketidakpastian berhubungan dengan kemampuan dan ketidakmampuan seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi. Uncertainty atau ketidakpastian, namun menjadi sifat dari lingkungan alam yang kita tinggali. Alam yang benar-benar tidak pasti tidak memungkinkan kita untuk melakukan prediksi, termasuk berdasarkan statistik. Semakin tidak pasti dunia, maka semakin sulit diprediksi. 

Complexity – berkaitan dengan berbagai faktor yang perlu kita pertimbangkan, jenisnya, dan hubungan di antara faktor-faktor tersebut. Semakin banyak faktor, makan semakin banyak pula jenis dan keterkaitannya, sehingga semakin kompleks lingkungan tersebut. Dalam kerumitan yang demikian tinggi, mustahil untuk secara utuh menganalisis lingkungan dan menghasilkan keputusan yang rasional. Semakin rumit dunia, semakin sulit untuk dianalisis. 

Ambiguity – berkaitan dengan kurangnya kejelasan manakala kita menerjemahkan sesuatu. Ambiguity atau makna yang mendua dapat terjadi karena informasi yang tidak lengkap, kontradiksi, atau tidak akurat. Kondisi ini kemudian menyebabkan kesulitan saat harus menarik kesimpulan. Secara umum, ambiguity terjadi karena ketidakjelasan dan keburaman idea dan terminologi. Semakin ambigu dunia, semakin sulit diinterpretasi. 

Sumber:

Forbes

The Jakarta Post

Leave a Reply