Kepemimpinan: Pelajaran Kepemimpinan dari Sutopo Purwo Nugroho

Tulisan ini pertama kali tayang di Kumparan. Di sana sudah mendapat sentuhan lain dari saya sendiri dan juga dari Editor, sehingga lebih tertata dan rapi. Ini adalah versi awal dari tulisan, agar Anda dapat membandingkan keduanya.

Berita dukacita datang dari Guangzhou. Isi berita tersebut adalah: sekitar pukul 02.00 waktu setempat atau 01.00 WIB hari Minggu, 7 Juli 2019, Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) wafat. Sutopo berada di Guangzhou untuk melakukan pengobatan penyakit kanker paru stadium 4B yang dideritanya.

Penulis beruntung bisa bekerja di bawah arahan dan bimbingan Pak Topo, sejak tahun 2010 saat penanganan letusan Gunung Merapi hingga September tahun 2018. Rasa haru, duka, dan sedih tentu menyelimuti mereka yang mengenal Pak Topo. Namun, sudah selayaknya pula kita bersama mengenang dan meneladani apa yang sudah Sutopo lakukan sepanjang kariernya sebagai ‘Sang Informan Bencana’.

Sebagai seorang pemimpin, Sutopo selalu mengingatkan para pegawainya untuk bekerja dengan hati. Dia menuntut proses yang menghasilkan kesempurnaan dalam bekerja. Pernah satu ketika, penulis harus berulang kali merevisi bahan paparan Pak Topo, karena ada saja hal yang menurutnya masih kurang.

“Paparan yang baik itu juga harus mengandung nilai seni, bukan sekadar menggabung-gabungkan berbagai bahan.” Begitu kurang lebih pesan Pak Topo saat itu.

Kemudian, bekerja dengan hati menurut Sutopo juga berarti mengerjakan sesuatu melebihi daripada sekadar yang diminta. Dalam hidupnya, Sutopo melakukan tugas melebihi dari yang seharusnya. Sebagai Humas BNPB, tugasnya adalah mengabarkan informasi kebencanaan kepada masyarakat. Umumnya Humas menyampaikan keterangan melalui rilis pers. Namun, Sutopo hampir 24 jam siap sedia memberikan informasi kepada masyarakat, baik melalui cara tradisional rilis pers maupun wawancara dengan TV dan radio. Bahkan, Sutopo juga selalu aktif di berbagai akun media sosial miliknya serta di grup-grup percakapan dan berinteraksi dengan khalayak luas secara langsung.

Hal ketiga dari upaya ‘bekerja dengan hati’ Sutopo adalah dia tidak segan untuk mengerjakan sendiri berbagai hal. Dalam rilis berita, misalnya, Sutopo akan mencari-cari sendiri sumber informasi, mengolah, menulis, hingga kemudian menyebarkan sendiri ke jejaring wartawan dan juga masyarakat.

Sebagai pemimpin, Sutopo juga memberikan ruang berinovasi dan berkembang yang sangat luas kepada para pegawainya. Misalnya dia memberikan kesempatan kepada para pegawai untuk tugas belajar. Di lingkup yang dipimpinnya, saat ini sudah banyak S2 yang lulus atau sedang melanjutkan pendidikan.

Sutopo sendiri adalah seseorang yang gemar belajar, termasuk dari para pegawainya. Misalnya, dia tidak akrab dengan Twitter di awal kemunculan platform ini. Tanpa segan, dia belajar kepada pegawainya, minta dipasangkan aplikasi Twitter di gawainya, dan setelah itu dia sangat piawai menggunakan media sosial ini untuk menyampaikan informasi dan berinteraksi dengan para pengikutnya.

Ruang inovasi lain yang diberikan Sutopo kepada para pegawainya adalah untuk berbuat kesalahan. Lagi-lagi contohnya adalah saat akan konferensi pers manakala satu bencana besar terjadi di negeri ini. Pada saat seperti ini, dia akan sibuk melayani permintaan wawancara dari wartawan, sehingga tidak sempat untuk menyusun sendiri paparannya.

Biasanya dengan tergopoh-gopoh dan mimik yang sangat serius, Sutopo akan masuk ke dalam ruangan. Sudah dibawanya poin-poin yang akan disampaikan dan tugas penulis beserta rekan lain adalah mengisi berbagai poin itu dengan data, fakta, dan analisis. Setelah draft paparan jadi, Sutopo akan memeriksa, kemudian mengoreksi, meminta data lain, atau memberikan data baru. Hasil akhir dari semua proses ini adalah paparan yang disampaikan Sutopo di hadapan wartawan untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Akhirnya, pelajaran kepemimpinan terakhir dari Sutopo adalah ‘bekerjalah untuk kepentingan orang lain.’ Penulis menduga, inilah alasan dan dorongon yang menggerakkan Sutopo, bahkan dalam masa-masa perawatan penyakitnya untuk terus bekerja sebaik-baiknya bagi bangsa dan negara. Inilah pula yang kemudian membuatnya dikenal, diakui, dan dihormati oleh berbagai kalangan. Bahkan hingga mengantarkan pertemuannya dengan Presiden Jokowi dan Raissa.

Sebagai humas, Sutopo memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kondisi kebencanaan di tanah air. Pada saat yang sama, dia juga memberikan informasi apa kebutuhan masyarakat terdampak bencana, sehingga para aktivis, relawan, donor, dan institusi pemerintah dapat mengarahkan bantuan yang tepat ke lokasi-lokasi bencana. Informasi dari Sutopo juga menenangkan jiwa para kerabat dan handai taulan yang saudaranya terkena bencana, karena mereka menjadi tahu seberapa besar kekuatan bencana melanda satu daerah dan nasib saudara-saudaranya.

Di tengah banjir informasi dan hoaks. Informasi dari Sutopo laksana tetes embun yang bening di gurun tandus. Dia menjadi sumber yang terpercaya, akurat, dan sekaligus resmi dari pemerintah. Banyak penghargaan yang sudah diterimanya karena berbagai prestasi dan dedikasi untuk negeri. Tugas kita sekarang adalah melanjutkan perjuangan dan upayanya untuk membangun ketangguhan bangsa menghadapi bencana dengan meneladani berbagai hal yang telah dia lakukan selama ini.

Selamat jalan, Pak Topo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: