Refleksi: Setelah Iman adalah Kasih

Tidak mudah meyakini kelahiran seorang Rasul dari perawan Maria. Sama sulitnya meyakini kebenaran Rasul yang menembus tujuh lapis langit dalam satu malam.

Semuanya membutuhkan iman, kepercayaan, dan keyakinan.

Namun, setelah iman apa?

Dalam hemat saya, setelah iman adalah kasih. Dengan kasih Yesus mewartakan ajaranNya ke umat manusia. Dengan kasih pula Muhammad memikat hati para pengikutnya.

Selamat Natal untuk saudara-saudara yang merayakan. Selamat menebarkan kasih dari hati agar kedamaian dan ketenteraman menyebar ke seluruh alam.

Kepada saudaraku pemeluk agama Hindhu, selamat merayakan Galungan. Sebuah laku instropeksi diri dengan kasih agar dharma mampu mengalahkan adharma.

=====

Bagi saya, delapan tahun lalu, juga saat Natal, telah menemukan bentuk kasih yang lain. Kasih seorang suami kepada istri.

Tentu waktu itu ada keraguan, benarkah dia jodoh saya?

Namun dengan iman pula, yaitu kepercayaan bahwa ada kekuatan lain yang mampu menyatukan dua insan yang berbeda, maka keraguan itu pun perlahan berubah bentuk.

Saya kira kekuatan dan yang mengubah bentuk keraguan itu adalah kasih. Dengannya perbedaan dileburkan, harapan dipupuk, dan kompromi yang kadang susah dapat diraih.

Kemudian, dua tahun lalu, saat Natal pula, ayah kami harus kembali ke penciptanya yang Maha Pengasih. Saat itu, muncul pula beragam keraguan, bagaimana menjalani kehidupan tanpa sosok panutan sekaliber beliau.

Namun, lagi-lagi kasih menampakkan wujudnya. Sepeninggal beliau, sebagai keluarga besar, kami malah kian erat dan hangat menjaga wasiat. Sebab, itulah yang dapat kami lakukan, yaitu lebih memerhatikan dan mengasihi anggota keluarga yang masih tersisa.

Adakah keraguan yang saat ini membayangi Anda? Cobalah beriman, percaya, dan kemudian mengasihi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: