Kuliah: Manajemen Perubahan

Brisbane – Bagaimana melakukan sebuah perubahan pada suatu sistem? Itulah pertanyaan yang menjadi dasar dan mewarnai pertemuan pada hari Senin, 1 Oktober 2018 di Gedung Q, Kampus QUT (Queensland University of Technology).

Dr. Connie Susilawati, salah seorang pengajar di QUT, menerangkan materi manajemen perubahan kepada para peserta Kursus Singkat Perbaikan Layanan Data Iklim yang berasal dari Indonesia.

Manajemen perubahan menawarkan kerangka kerja dan peta jalan untuk mencapai tujuan seseorang atau sebuah organisasi. Kerangka kerja dan peta jalan ini penting untuk membantu kita membuat perubahan yang sistematis dan terencana.

Dalam pertemuan tersebut, Dr. Connie memperkenalkan 8 Langkah Model Perubahan dari Kotter. Langkah-langkah tersebut adalah:

  1. Menetapkan Rasa Urgensi, karena seseorang atau organisasi tidak akan berubah, kecuali ada alasan yang kuat untuk terjadinya perubahan tersebut.
  2. Membuat Koalisi Pembimbing, sebab perubahan memerlukan sekelompok kecil orang yang berpengaruh.
  3.  Membangun Visi dan Strategi untuk menjadi pemandu kita dalam mencapai tujuan dari perubahan. 
  4. Mengkomunikasi Visi Perubahan agar semakin banyak orang yang terpengaruh dan mendukung perubahan yang kita rencanakan. 
  5. Melakukan Aksi yang Berdampak Luas, sebab bisa saja seorang inisiator justru tidak terlibat atau ada hambatan yang memerlukan keterlibatan dari banyak pihak. 
  6. Memperoleh Kemenangan Jangka Pendek, karena sebuah proyek adalah proses yang panjang, maka kemenangan-kemenangan kecil menunjukkan bahwa perubahan dapat dilakukan. 
  7. Melipatgandakan manfaat dan Menciptakan Lebih Banyak Perubahan, sebab momentum perubahan harus dijaga dan sekaligus direncanakan dari awal. 
  8. Menjadikan Perubahan yang Baru sebagai Bagian dari Budaya, sebab mempertahankan sebuah perubahan bukanlah pekerjaan yang mudah.

Dari delapan langkah perubahan Kotter tersebut, maka beberapa hal bisa digarisbawahi, misalnya perlu adanya transfer knowledge dan juga inspirasi ke orang lain. Selain itu, perlu ada pelaksanaan atau penerapan pengetahuan agar diperoleh manfaat. 

Dr. Connie mengingatkan, bahwa sebuah perubahan pada hakikatnya adalah fungsi dari:

D x V x F > R

Formula tersebut dikenal sebagai Rumus Perubahan Beckhard, di mana:

  • D adalah Dissatisfaction atau ketidakpuasan dengan kondisi saat ini, 
  • V adalah Vision mengenai apa yang mungkin dilakukan dan dicapai di masa yang akan datang, 
  • F adalah First Step atau langkah pertama untuk meraih visi yang dengan gamblang direncanakan dan dijelaskan, serta
  • R adalah Resistance atau penolakan untuk berubah.

Secara singkat, perubahan akan terjadi manakala hasil dari ketidakpuasan pada kondisi saat ini bergabung dengan visi yang jelas dan ingin dicapai serta ada strategi yang terencana dan pasti. Semua hal itu haruslah lebih besar dari penolakan yang mungkin timbul karena terjadinya perubahan. Penolakan itu sendiri bisa berasal dari dalam (inside) dan juga dari luar (outside).

Melihat dari formula tersebut, maka sebenarnya perubahan harus diawali dari diri kita sendiri baru kemudian memengaruhi orang lain untuk berubah. Perubahan juga tidak terjadi begitu saja, tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi yang sudah ada pada diri seseorang atau suatu lingkungan. Tanpa ada penyesuaian ini, maka perubahan akan sangat sulit terjadi. 

Selanjutnya diperkenalkan pula Model Perubahan ‘Let’s Go’. Ini adalah proses yang harus ditempuh untuk menghubungkan kondisi saat ini yang cenderung tidak memuaskan dengan tujuan dari perubahan atau kondisi yang diharapkan.

Model Perubahan ‘Let’s Go’

Kerangka model perubahan ‘Let’s Go’ ini kurang lebih terdiri dari beberapa pertanyaan, yaitu:

  1. Ke mana (Where) tujuan kita? 
  2. Kenapa (Why) kita harus berangkat/pergi? 
  3. Apa (What) langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan? 
  4. Siapa (Who) yang terlibat dalam manajemen perubahan? 
  5. Kapan (When) kita memulai dan berakhir, serta apa capaian-capaian sementara yang ingin kita raih?

Model perubahan ‘Let’s Go’ juga mengenal beberapa pihak yang terlibat dalam proses yang ingin dilakukan, yaitu:

  1. Inisiator adalah penggagas perubahan
  2. Early adaptors adalah mereka yang rela berkorban untuk mengikuti inisiator
  3. Followers adalah mereka yang sukarela mengikuti para early adaptors, dan 
  4. Saboteurs atau mereka yang mendukung status quo dan tidak ingin terjadinya suatu perubahan.

Akhirnya, dalam model ‘Let’s Go’ perlu diperhatikan bahwa hasil dan proses manajemen perubahan sangat terpengaruh oleh:

  • Attitudes atau tingkah laku, nilai-nilai, kepercayaan, pola pikir, sudut pandang, dan lainnya, serta 
  • Kebiasaan dari seseorang, lembaga, institusi yang selama ini sudah berjalan.

Demikian kurang lebih manajemen perubahan yang dapat dilakukan, dan siapkah Anda dengan berbagai perubahan yang demikian cepat terjadi sekarang ini?

Kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik atas kerja sama dari: Kedubes Australia, BMKG, BNPB, KemenPUPERA, dan Australia Awards Indonesia.

3 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: