Refleksi: George Monbiot dan Kankernya

George Monbiot (The Guardian)

Banyak orang terlihat sukses, tapi dalam kehidupannya menyimpan penderitaan dan persoalan. Misalnya George Monbiot, seorang kolumnis di The Guardian dan TED Speaker yang sangat terkenal karena berbagai isu lingkungan yang diusungnya.

Baru-baru ini George divonis terkena kanker prostat. Tentu saja vonis tersebut sangat memengaruhi dirinya.

Reaksi pertama setelah vonis kanker tersebut adalah, “Kenapa saya?” Namun, setelah itu George pun memilih untuk menerima dan hidup bahagia dengan kanker.

Dalam menghadapi kanker prostat, George memegang tiga prinsip yang bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk menjalani kehidupan.

Prinsip Pertama: bayangkan betapa buruknya peristiwa ini dapat berlangsung.

George menggunakan ‘the shitstorm scale’, yaitu dengan membandingkan orang lain yang memiliki pengalaman atau penyakit lebih buruk. Bisa juga dengan mengajukan pertanyaan seperti,

  1. Bagaimana jika kanker tidak terdeteksi dan memburuk?
  2. Bagaimana dengan mereka yang tertimpa bencana?

Setelah melakukan imajinasi dan mengajukan pertanyaan, maka George merasa beruntung karena mendapatkan dukungan dari teman dan keluarga serta teman-teman kerja.

Selain itu, George juga menganut formula of misery, yaitu dengan tidak melihat satu penderitaan sebagai hal yang dapat lebih buruk. Daripada melakukan hal itu, dia menyarankan agar kita membayangkan bagaimana satu peristiwa dapat berlangsung kea rah yang lebih baik.

Di sekitar kita, infrastruktur yang ada seringkali membuat kita merasa lebih buruk daripada orang lain, misalnya di media sosial, Facebook, Instagram, dan lainnya.

Prinsip Kedua: mengubah apa yang bisa diubah dan menerima hal-hal yang tidak bisa diubah.

Menerima bahwa ada hal yang tidak bisa diubah bukanlah bentuk passivity (menyerah), tetapi merupakan upaya penerimaan, bahwa ada hal-hal atau sandungan yang tidak bisa kita lewati.

Prinsip Ketiga: Jangan biarkan rasa takut mengatur hidupmu.

Rasa takut menggerogoti kita ke dalam, menghambat kita untuk berpikir jernih, dan menghalangi kita untuk melawan tantangan dan berdamai dengan kanker.

Apabila prinsip ini sudah diketahui, maka selanjutnya adalah dengan memahami tiga langkah untuk menghadapi rasa takut, yaitu dengan memberi nama, menormalisasikan, dan mengabarkan ke khalayak yang lebih luas.

Memberi nama adalah satu langkah yang penting karena sudah lama kanker menjadi hal yang menakutkan dan termasuk hal-hal yang tabu untuk dibicarakan.

Efek dari menghindari pembicaraan mengenai kanker di otak kita justru memperbesar ancaman daripada menguranginya.

Sesuatu yang tidak boleh disebut namanya itu justru akan hilang jika diidentifikasi dan makin hilang ketika menjadi topik pembicaraan sehari-hari.

Menormalisasi artinya adalah menjadikan kanker sebagai peristiwa normal dan tidak menjadi misteri atau rahasia. Jika kanker telah menjadi sesuatu yang familiar, maka tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan.

Langkah terakhir adalah saat George mensosialisasikan penyakit yang diderita.

Dengan mengabarkan ke orang lain, maka komunitas yang peduli akan mempercepat penyembuhan dan mengurangi kematian. Dia kemudian merasakan cinta dan perhatian yang membuatnya mampu meliwati cobaan tersebut.

George akhirnya berpandangan, bahwa melalui penderitaan dalam diam bukan lagi jalan yang harus ditempuh.

Pendapat George mengenai kanker-nya ini dapat Anda baca di sini: I have prostate cancer. But I am happy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: