Kiat: Konsistensi Melahirkan Produktivitas

Salah satu kunci agar produktif adalah dengan konsisten mengerjakan satu hal.

Sebagai contoh, saya suka menulis, kemudian rasa suka itu saya wujudkan ke dalam tindakan menulis itu sendiri.

Media yang saya pilih beragam mulai dari koran, situs berita, blog, hingga dinding Facebook. Semua saya coba.

Sejauh ini, masih bisa dihitung dengan jari yang lolos dan ditayangkan di koran atau situs berita. Sementara puluhan tulisan lainnya ditolak dan menjadi tulisan di blog atau status di Facebook.

Dulu saya sangat peduli dengan komentar di blog atau like di Facebook. Lambat laun, saya tak lagi risau dengan itu semua. Fokus saya adalah menulis dan terus menulis setiap hari agar semakin baik.

Agar dapat bagus dalam menulis, panjang jalan yang harus ditempuh. Setidaknya saya sudah sepuluh tahun mengelola blog dan masih tetap berlatih menulis.

Saya baca berbagai tulisan tentang menulis itu sendiri. Selain itu, saya juga menerjemahkan, merangkum, membuat kliping, hingga meniru para maestro dalam dunia tulis menulis.

Ada masanya ketika saya bosan dan hanya main gim di handphone. Namun, kemudian saya merasa sayang dengan waktu yang terbuang percuma.

Ada kalanya juga tidak ada ide tulisan atau justru terlalu banyak ide, tetapi waktu yang ada untuk duduk dan menulis sedikit. Akhirnya, menulis pun tidak bisa dilakukan dan tidak ada tulisan yang dihasilkan.

Lama kelamaan, menulis bagi saya seperti kebelet. Harus dituliskan atau otak akan penuh dengan ide. Ini semacam perut yang penuh dengan makanan dan harus dikeluarkan.

Setelah beberapa saat, saya mulai membangun suatu sistem menulis. Pertama adalah mengumpulkan gagasan.

Kedua adalah mengatur gagasan itu agar runtut. Ketiga adalah menuangkannya ke dalam tulisan yang sebenarnya.

Keempat adalah membaca kembali dan melakukan penyuntingan atau editing agar tulisan semakin baik. Setelah semua dirasa cukup, barulah memasangnya, mengirimkannya, atau menuliskannya si berbagai media yang sudah disebutkan di atas.

Bagi yang belum terbiasa mungkin akan terasa sulit. Misalnya, pada masa pengumpulan ide yang diisi dengan membaca banyak sekali bahan bacaan, memperhatikan sekitar, menghubungkannya dengan ide-ide lain, hingga muncul serangkaian gagasan utuh yang bisa dituliskan.

Setelah terbiasa, maka aktivitas itu menjadi lebih mudah. Seperti otomatis, otak bekerja sendiri dan tangan menerjemahkan lompatan-lompatan gagasan menjadi tulisan yang lengkap.

Jika Anda memiliki kesukaaan yang lain, entah itu fotografi, berlari, merangkai bunga, dan lainnya, rasanya proses yang dialami pun mirip. Mulanya sulit, kemudian mempelajari, membuat sistem, hingga menghasilkan sesuatu atau melakukan hal yang Anda sukai tersebut.

Perubahan, apa pun itu, tidak terjadi dalam satu malam. Semua memerlukan irama yang ajeg. Semacam tetes air yang mampu melubangi batu.

Setetes demi setetes air itu hinggap di batu, setelah lama akhirnya sebuah lubang pun tercipta dan batu itu tidak pernah sama lagi.

Selamat mencoba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: