Tokoh: Naomi Klein, Lompatan

Naomi Klein adalah seorang aktivis dan penulis dari Kanada. Dia menulis buku ‘No Logo’ dan ’Shock Define’. Naomi juga seorang pembicara di Ted dan berikut ini adalah ringkasan isi paparannya di situs tersebut.

Naomi mengawali paparannya dengan pertanyaan, kenapa sebuah peristiwa mampu menyadarkan kita bersama dan mengawali terjadinya perubahan, tetapi peristiwa yang lain seperti tidak menimbulkan dampak apa pun bagi kehidupan kita?

Lompatan

Sebuah peristiwa dapat menjadi alarm atau wake up call bagi kita. Kemudian kita menghadapi peristiwa tersebut dan mengorganisasi diri dan menyatukan kekuatan yang sebelumnya tidak pernah terjadi dan terbayangkan.

Dari sebuah peristiwa, krisis, atau ancaman yang dihadapi manusia, kemudian kita membuat lompatan.

Contoh peristiwa yang bisa disampaikan di sini adalah gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Samudera Hindia pada tahun 2004. Peristiwa itu memberikan kesadaran kepada dunia akan pentingnya upaya pengurangan risiko bencana.

Bagi Indonesia sendiri, bencana maha dahsyat tersebut memberikan kesadaran pentingnya upaya penanggulangan bencana. Upaya ini kemudian mewujud menjadi Undang-Undang tentang Penanggulangan Bencana dan Organisasi Penanggulangan Bencana.

Peristiwa bencana tersebut mengawali sebuah transformasi dari penanganan bencana yang sifatnya terpecah-pecah per sektor dan fokus pada upaya tanggap darurat (respons) menjadi terkoordinasi dan satu komando serta lebih berfokus pada upaya pencegahan dan kesiapsiagaan atau mitigasi dan pengurangan risiko bencana.

Dari berbagai peristiwa yang lain, polanya juga serupa, yaitu ada kejutan, menjadi alarm atau wake up call, dan kemudian menciptakan lompatan.

Lompatan Dulu dan Sekarang

Pertanyaannya kemudian, kenapa lompatan tersebut saat ini sulit terjadi meskipun banyak peristiwa yang menjadi wake up call?

Contoh dari peristiwa tersebut adalah terbelahnya masyarakat karena pilihan politik yang berbeda. Karena perbedaan tersebut, kita terpecah dan terkumpul di beberapa kutub sehingga memberikan peluang bagi kekuatan anti demokrasi untuk unjuk gigi dan menciptakan ketidakadilan dan mengganggu kestabilan masyarakat.

Merespon hal tersebut, Naomi mengungkapkan setidaknya ada dua alasan bagi tumbuhnya kekuatan revolusioner, yaitu imajinasi dan organisasi.

Imajinasi di sini mengandung maksud seperti apa dunia yang kita inginkan bersama setelah terjadinya krisis. Sementara organisasi adalah cara atau sarana untuk mencapai cita-cita yang kita impikan (imajinasikan).

Dari masa lalu, kita dapat belajar bahwa saat itu adalah era terjadinya ledakan imajinasi manakala orang-orang berani bermimpi besar tentang masa depan mereka bersama. Contoh peristiwa ini adalah kemerdekaan bangsa-bangsa dari para penjajah.

Nenek moyang kita yang hidup saat itu paham apa yang harus dilawan dan apa yang mesti diperjuangkan, meskipun harus ditempuh melalui berbagai jalan yang berbeda. Contohnya, saat itu dapat ditemukan berbagai organisasi pemuda, tetapi imajinasi dan musuh yang dihadapi sama.

Dengan begitu mereka mampu membuat satu lompatan. Capaian ini sejatinya adalah gabungan antara imajinasi mengenai dunia yang dicita-citakan (utopia) dan kesediaan untuk melakukan gerakan melalui berbagai macam organisasi.

Kemudian kita bertanya, bagaimana sekarang?

Saat ini kembali kita disatukan oleh beragam isu yang menjadi perhatian bukan hanya satu bangsa, tetapi seluruh dunia. Isu tersebut di antaranya adalah perubahan iklim, pemanasan global, terorisme, migrasi penduduk karena perang, hak asasi manusia, kemiskinan, kesenjangan, lingkungan, bencana dan isu-isu besar lainnya.

Namun, semua isu tersebut tidak juga menjadi sebuah gerakan hebat yang menyatukan dunia seperti yang dilakukan oleh para pendahulu kita.

Menurut Naomi, hal ini terjadi karena saat ini kita berpikir terkotak-kotak. Misalnya, kita telah menempatkan isu lingkungan di satu kotak dan kemiskinan serta kesenjangan di kotak lain. Kondisi yang sama juga terjadi pada beragam isu lain yang dikotak-kotakkan dan berdiri sendiri tidak saling terhubung.

Hal ini dapat kita lihat pada berbagai NGO yang muncul dan saling berkompetisi untuk mendapatkan nama dan sumber daya. Organisasi tersebut justru bertindak semacam perusahaan-perusahaan yang saling bersaing.

Naomi menyebutkan saat ini kita sedang mengarah pada problem of silo atau padanannya dalam Bahasa Indonesia adalah ego-sektoral. Ciri dari persoalan ini adalah setiap organisasi atau individu bekerja sendiri-sendiri dan tidak saling terhubung.

Jika dirunut ke belakang, ide awal dari sektor yang berbeda adalah agar kita bisa membagi-bagi persoalan dan tidak merasa penuh/berlebihan karena harus menangani beragam isu.

Namun, pembagian tugas dan kewenangan itu justru berkembang ke arah yang keliru. Tindakan tersebut justru menjadi pengabaian pada masalah orang lain ketika mereka membutuhkan bantuan.

Tindakan tersebut juga menjadi penghalang bagi kita untuk melihat hubungan di antara beragam isu yang kita hadapi. Misalnya, orang berbicara mengenai lingkungan, tetapi tidak pernah menyinggung mengenai perubahan iklim.

Sekat-sekat yang meringkus berbagai organisasi tersebut menjadi penghalang bagi kita untuk mencari solusi yang menyeluruh. Sebab, biasanya solusi yang ditawarkan juga parsial dan tidak nyambung (sinkron) dengan solusi yang lain.

Pendek kata, kita kehilangan gambaran utuh persoalan besar dunia yang saat ini kita hadapi bersama.

Yang Kita Perlukan

Menurut Naomi, pertama-tama yang kita perlukan adalah kemampuan untuk membangun utopia, sebuah dunia yang kita cita-citakan bersama. Deskripsi dari dunia ini harus jelas, yaitu seperti apa bentuknya, bagaimana rasanya, dan yang paling penting adalah seperti apa nilai-nilai dasar yang akan dikembangkan di dunia baru tersebut.

Tidak adanya dunia yang menjadi persetujuan bagi perwujudan cita-cita itu menyebabkan kita tidak tahu ke mana harus mengungsi jika terjadi krisis besar. Kita dengan demikian tidak memiliki rencana kontijensi, yaitu kejelasan siapa melakukan apa pada saat krisis terjadi.

Oleh sebab itu, maka perlu dicari, apa faktor yang menyatukan umat manusia dan seperti apa dunia yang kita inginkan. Upaya ini perlu dilakukan dengan tidak menebarkan ketakutan apa yang akan terjadi jika kita diam saja, tetapi dengan memberikan inspirasi apa yang kira-kira akan terjadi jika kita melakukan sebuah aksi.

Keberanian untuk bermimpi bersama mengenai dunia yang dicita-citakan harus digalakkan. Hanya dengan cara itu, maka kita dapat melihat dengan lebih jelas bagaimana hubungan satu isu dengan yang lainnya.

Dengan bermimpi bersama itu pula kita dapat melihat bahwa penyakit putus asa yang menjangkiti kita memiliki kesamaan dengan pertumbuhan ekonomi tanpa henti dan pencapaian keuntungan yang sebesar-besarnya.

Selanjutnya agat kita dapat bermimpi bersama, maka perlu kembali ke budaya masa lalu, yaitu lebih memerhatikan orang lain dan tidak sekali-kali mengesampingkan mereka yang berbeda. Kita juga perlu memerhatikan fondasi bagi mimpi bersama tersebut, yaitu nilai-nilai dasar kemanusiaan dan ekosistem.

NGO pada gerakan mimpi bersama ini perlu beraksi lebih dari sekadar perusahaan atau brand yang kelimpungan mencari nama dan sumber daya. Namanya gerakan, maka upaya ini tidak peduli dengan merk/brand/reputasi.

Penutup

Krisis yang bertubi-tubi melanda umat manusia telah menguji kita. Pertanyaannya adalah apakah kita akan tercerai berai atau bersatu dan tumbuh dengan cepat menghadapi krisis tersebut.

Ketakutan dan kekhawatiran kita bersama dapat menjadi bahan bakar yang potensial untuk mengubah dunia.

Namun, sebelum itu, pertama sekali kita perlu mengetahui seperti apa dunia yang kita inginkan dan akan kita bangun.

Barangkali inilah saatnya kita lebih saling mendengarkan mimpi kita bersama, yaitu seperti apa dunia yang kita idam-idamkan untuk kemudian kita melompat bersama-sama ke dunia idaman itu.

Tabik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: