Refleksi: Lihatlah Secara Utuh

Kenapa kita disarankan untuk melihat segala sesuatu secara penuh, utuh, dan menghindari bias?

Menurut saya, dengan melihat secara utuh, maka kita akan lebih arif, adil, dan bijaksana dalam menyikapi segala sesuatu.

Sementara itu, jika ada bias atau hanya melihat sebagian saja dari satu persoalan, maka akan sangat berbahaya karena bisa memicu persoalan lain.

Mari kita ambil contoh pada ilustrasi berikut ini.

Anda mempunyai bias, yaitu kebencian yang mendalam pada Pak Jokowi. Kemudian terjadi serangan teror dan bom bunuh diri….

Otomatis dan tanpa sadar, Anda akan mengaitkan dua hal itu. Misalnya, Anda bilang, “Dulu zaman Pak Harto, sebelum Pak Jokowi kok gak pernah ada bom ya? Ah, ini semua pasti salah Jokowi.”

Kondisi tersebut sejatinya hanya melihat dari satu sisi sebuah persoalan. Masih ada persoalan lain yang terjadi, tetapi entah sengaja/tidak dan tahu/tidak Anda abaikan.

Nah, contoh kedua, Anda kurang suka dengan para ustadz dan habib yang baru-baru ini bermunculan bak cendawan di musim hujan. Kemudian terjadi serangan teror dan bom bunuh diri….

Otomatis dan tanpa sadar, Anda akan mengaitkan dua hal itu. Misalnya, Anda bilang, “Dulu zaman KH Zainuddin MZ kok gak pernah ada bom ya? Ah, ini semua pasti salah habib dan ustadz anyaran itu.”

Sampai di sini, apakah Anda sudah bisa melihat satu gambaran persoalan secara utuh?

Jika belum, mungkin Anda lapar karena puasa, hahaha….

Sori, yang itu bercanda…

Jika masih belum dapat melihat secara utuh dan dari berbagai sisi, menurut saya barangkali ini saatnya Anda mengambil jarak sebentar dengan paham, kebencian, dan bias-bias lain yang membentuk kabut dan mengganggu kejelasan penglihatan Anda.

Selamat hari Jumat dan jangan lupa besok Sabtu….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: