Opini: Geoekonomi Digital

Sebuah zaman baru sedang kita masuki
Siapkah kita memasuki zaman industri 4.0? (Pixabay)

Di masa yang akan datang, beberapa profesi diperkirakan akan menyusut drastis seiring dengan perkembangan ekonomi digital.

Kondisi ini memunculkan banyak pertanyaan di antara para mahasiswa dan pencari kerja. Bagaimana masa depan mereka jika semua sudah digantikan oleh mesin?

Yanuar Nugroho, pada 5 Maret 2018 telah menuliskan Opini yang sangat menarik di Koran Kompas menyikapi hal ini. Berikut ini ringkasan buah pemikiran beliau.

World Economic Forum (WEF) memperkirakan, dalam periode 2015-2020, jutaan pekerjaan akan berkurang dan digantikan mesin, robot, kecerdasan intelektual (artificial intelligence) dan perangkat komputasi lain.

WEF membuat enam kelompok pekerjaan yang jumlahnya akan menurun signifikan selama lima tahun (Future of Jobs Report, WEF, 2016), yaitu:

  1. Administrasi perkantoran
  2. Manufaktur dan produksi
  3. Konstruksi dan ekstraksi
  4. Desain, seni, hiburan, dan media
  5. Hukum dan legal
  6. Instalasi dan pemeliharaan

Dua tahun sejak laporan dilansir, perkiraan WEF mulai jadi kenyataan.

Menanggapi fenomena tersebut, apa upaya yang bisa kita lakukan?

Zaman baru, lapangan baru, peluang baru

Saat ini kita memasuki zaman baru, yaitu zaman revolusi industri keempat atau industry 4.0.

Zaman 4.0 memiliki beberapa ciri, seperti: muncul dan berkembangnya sistem fisik-siber (cyber-physical systems yang menyatukan dunia fisik, digital, dan biologis), the Internet of things, cloud computing, dan cognitive computing.

Konsekuensinya, muncul berbagai profesi baru yang belum pernah ada sebelumnya, seperti digital media strategist, digital media analyst.

Beberapa profesi juga makin terspesialisasi seperti search engine optimiser, user experience designer, front-end developer.

Selain itu, kita juga melihat berbagai lapangan pekerjaan baru seperti teknologi keuangan (financial technology) atau populer disebut fintech, layanan transportasi dan wisata berbasis digital seperti traveloka, airbnb hingga tripal, data scientist, data analyst, big data analytics, augmented reality, virtual reality, development planner, digital strategist yang sangat dibutuhkan di berbagai sektor agar relevan dan tidak ketinggalan zaman.

Tantangannya adalah apakah mereka yang semula sudah menggeluti pekerjaan ini selama bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun, seperti para karyawan swasta atau birokrat pemerintah bahkan aktivis lembaga masyarakat, mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan deskripsi dan jenis pekerjaan baru dalam sektornya atau tidak?

Karena, hukum seleksi alam akan tetap berlaku: “Mereka yang tak mau berubah akan tinggal menjadi catatan sejarah.”

Ekosistem Digital

Dalam ekosistem digital, segala sesuatu yang manual, natural, dan mekanis akan tergantikan oleh yang digital. Digital mengandaikan adanya akurasi dan kontrol pada suatu sistem setiap saat (real time).

Hal ini perlu disikapi oleh kampus-kampus perguruan tinggi terkemuka untuk membuka program studi baru yang adaptif terhadap kebutuhan di dunia ekonomi digital. Sebagai contoh perlu perhatian pada industri media dan manajemen logistik.

Tidak hanya itu, perguruan tinggi sebagai pemasok utama kebutuhan di dunia kerja perlu untuk mencari terobosan dan inovasi, sehingga anak-anak muda ini mendapatkan gambaran, pengetahuan, dan keterampilan yang memadai dalam bidang ilmu yang digelutinya.

Perlu juga dorongan dan membuka wawasan baru bagi anak-anak muda untuk terjun dalam kewirausahaan.

Belajar dari Industri Rintisan (Start Up)

Salah satu karakter unik industri perusahaan pemula (start-up) berbasis digital adalah faktor diferensiasi dan daya saing yang didasari kemampuan identifikasi masalah serta potensi solusi di tingkat yang sangat mendalam.

Hal yang mungkin dilihat kecil oleh organisasi konvensional, seperti penyajian user interface, ternyata bisa jadi pembeda besar di industri ini. Misalnya satu unicornstartup di bidang musik, spotify, berhasil menggandakan penggunaan hanya dengan menggelapkan warna latar belakang aplikasi.

Sensitivitas dan kepekaan menemukan permasalahan sosial tak pernah jadi sepenting saat ini. Perlu kemampuan identifikasi permasalahan yang presisi.

Faktor diferensiasi lain adalah jejaring. Berpengaruh dalam membangun perusahaan pemula, seperti untuk mendapatkan suntikan dana investor. Investasi berarti subsidi; subsidi berarti traffic dan skala ekonomi yang membesarkan sebuah perusahaan atau usaha rintisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: