Refleksi: Nyepi

Oleh: Sridewanto Pinuji

Berita bohong (hoax), fitnah, dan pemelintiran fakta diproduksi, kemudian disebarluaskan melalui media sosial dan grup-grup percakapan seperti Whatsapp.

Berita itu kemudian dipercaya dan menjadi sikap serta tindakan. Bola panas itu menerpa siapa saja dari politikus berpengaruh hingga warga awam pun menelan mentah-mentah.

Masyarakat pun dirundung resah, para pemimpin pun gundah, aparat keamanan juga mulai gerah karena kebencian menguar di mana-mana.

Masyarakat mulai terbelah condong ke satu sisi dan potensi kerusuhan yang tampaknya diharapkan dan didesain mulai tergambar di ufuk sana.

Ini adalah era pascakebenaran (post truth) ketika berita bohong dianggap benar dan sebaliknya. 

Ini adalah era internet, sebuah eksperimen terbesar yang melibatkan anarki karena ketiadaan kendali yang memproduksi penipuan, kampanye hitam, dan kelompok pembenci.

Ini adalah ruang nirpenguasa, begitu ditulis Eric Schmidt dan Jared Cohen dalam ‘Era Baru Digital’.

Kenapa semua fenomena itu terjadi? 

Alih-alih mencari-cari kesalahan orang dan pihak lain, sebaiknya kita menelisik diri sendiri.

Apakah kita telah mengalami krisis kejiwaan dan moral karena kita lupa merawat jiwa sehingga menjadi robot-robot tak berjiwa?

Barangkali kita terlampau sibuk mengejar bayangan di luar diri termasuk timbul-tenggelam dalam ilusi keberhasilan dan kegagalan.

Fenomena tersebut juga terjadi karena kegagalan ilmu pengetahuan dan agama untuk membawa manusia kepada kemuliaan sebagai makhluk.

Di dunia ini, sejatinya ada dua jenis ilmu pengetahuan, yaitu para widya (rohani) yang melahirkan kedamaian dan kebahagiaan dan apara widya (duniawi) yang melahirkan persaingan dan keriuhan.

Kedua jenis pengetahuan tersebut kemudian turut membentuk karma yang buahnya (karma-pala) akan terlihat kemudian. Apakah manusia akan menuai kebaikan yang ditabur atau mendapatkan hukuman yang pantas.

Dalam hal ini, apara widya atau pengetahuan duniawi dicirikan adanya perlombaan untuk menguasai planet Bumi.

Ini terjadi karena adanya hasrat yang tak puas dengan sekadar pemenuhan kebutuhan. Manusia ternyata melangkah lebih jauh, mereka terpengaruh oleh keinginan dan lebih parah lagi keserakahan menjadi alasan di balik semua tindakan.

Di sisi lain, terjadi kecenderungan untuk memisahkan rohani dari agama. Tindakan ini menunggangi agama sebagai alat untuk pemenuhan nafsu kekuasaan. Cara yang ditempuh pun beragam seperti dengan mengumbar kebencian dan kekerasan, hingga memicu peperangan.

Dengan begitu, agama tidak lagi menjadi rahmat bagi semesta alam dan sumber ajaran untuk memupuk watak-watak baik.

Manusia-manusia yang menganut agama semacam itu pun telah membaptis diri mereka sendiri menjadi Tuhan. Mereka ini merasa berhak menentukan mana yang benar dan salah.

Dirinya, agamanya, budayanya, kelompoknya sendiri yang benar dan yang lain sudah pasti salah dan perlu dibenarkan.

Dalam kondisi demikian, apa yang harus dilakukan? 

Agama, kerohanian, dan penguasaan ilmu pengetahuan harus menjadi tongkat penuntun manusia dalam mencapai tujuan hidupnya.

Manusia perlu beralih dari jalur apara widya ke jalan para widya yang menuju suwung (kosong penuh makna) di dalam diri, mengarungi wilayah batin tanpa tepi untuk melayani kemanusiaan. Sebab, pelayanan pada kemanusiaan hakikatnya juga mengandung arti berbakti pada Tuhan.

Dengan demikian, tugas ilmu pengetahuan adalah untuk memuliakan hidup dan mengharmonikan dunia.

Sementara itu, tujuan agama adalah memuliakan kehidupan dan meraih kebahagiaan. Karena kebahagiaan dari agama menjadi bukti kebenaran agama itu sendiri.

Pada titik ini, manusia menyadari bahwa jalan materi bukanlah tempat bersandar abadi. Dia juga mengerti, bahwa lawan paling tangguh yang harus ditundukkan adalah dirinya sendiri.

Untuk mencapai kesadaran dan pemahaman itu, maka manusia disarankan untuk menyepi. Ini adalah perjalanan pulang dari kegaduhan menuju keheningan, di mana manusia menemukan hening.

Hening adalah suasana di kedalaman sana yang mampu mengubah niat-niat rendah kebinatangan manusia menjadi cahaya kemuliaan makhluk.

Ini adalah kondisi yang menenangkan hasrat-hasrat indria yang meliar tak beraturan dan mempertemukannya dengan jiwa hening yang tenang.

Ini adalah sunyi yang membebaskan karena semua yang berasal dari sunyi pada akhirnya akan menuju sunyi.

Dengan begitu, manusia akan kembali menemukan kemanusiaannya melalui jalan perawatan jiwa yang mampu menghaluskan jiwa-jiwa itu sendiri.

Dengan begitu, manusia mampu melawan keserakahan dan ketamakan dengan menjadi pribadi yang sederhana dan cukup.

Semua proses ini adalah Nyepi. 

Nyepi adalah sebuah upaya terus menerus untuk merawat jiwa dengan memberikan asupan nutrisi jiwa (amerta jiwa) agar tercapai kesadaran bahwa sejatinya adalah hening, melampaui kehadiran dan ketidakhadiran. Melewati masa kini, masa lalu, dan masa depan.

Itulah parama artha sunya, jiwa yang mengatasi hidup, jiwa yang memekarkan kemuliaan, jiwa yang menyalakan kebaikan-kebaikan kecil di sanubari….

‘Rahajeng Nyangra Rahina jagat Nyepi Caka Warsa 1940. Dumogi sareng sami ngemolihan kerahayuan. Om Santi, Santi, om.’

Daftar Bacaan dan Sumber Tulisan: 

I Wayan Westa, ‘Kita Butuh Nyepi’, Opini Kompas, 16 Maret 2018.

Ida Rsi Waskita Sari Pandita Hindu, ‘Beragama Minus Rohani’, Opini Kompas, 16 Maret 2018.

10 Ucapan Hari Raya Nyepi – Tribunnews.com

Gambar dari Pixabay

Call to Action

Mohon bagikan tulisan ini jika dirasa bermanfaat dan dapat membuat dunia yang kita tinggali ini sedikit lebih baik dengan cara menggantikan isu-isu kebencian di media sosial dan grup-grup Whatsapp Anda. Siapa tahu tulisan ini juga bisa menginspirasi mereka yang tersesat jalan.

Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: