Kiat: Menjadi Pemimpin Besar

Siapakah dia pemimpin yang besar?
Pemimpin yang besar memilih berdiri di depan (Pixabay)

Simon Sinek dalam bukunya ‘Start With Why’ menegaskan bahwa peran pemimpin sangat besar untuk memberikan inspirasi kepada para pengikutnya.

Seorang pemimpin memiliki alasan atau why dia memimpin. Why ini adalah alasan dan tujuan atau visi dari pemimpin tersebut.

Pemimpin yang besar adalah mereka yang mampu mengartikulasikan alasan dan tujuan itu dengan jelas kepada khalayak. Hasilnya, masyarakat umum sukarela untuk mengikuti pemimpin tersebut.

Sebagai contoh, kita bisa melihat karakter pemimpin besar tersebut pada Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Beliau melihat dan merasakan bagaimana tidak enaknya hidup dalam masa penjajahan dan ingin mengubah hal itu. Di sisi lain, rakyat Indonesia pun merasakan hal yang sama dan ingin pula mengubah keadaan yang menyengsarakan tersebut.

Namun, kenapa Soekarno yang menjadi pemimpin?

Sebab, hanya Soekarno yang mampu mengkomunikasikan alasan, keinginan, dan tujuan perjuangan itu dengan jelas melalui pidato, tulisan, dan tindakannya. Apa yang beliau kerjakan pada gilirannya menginspirasi rakyat Indonesia untuk turut bergerak dan bersedia mengorbankan keringat, bahkan darahnya untuk pergerakan yang dipimpinnya.

Keinginan, harapan, dan tujuan untuk merdeka dan terbebas dari penjajahan yang dimiliki Soekarno, sama dengan cita-cita dan mimpi yang dimiliki oleh rakyat. Kesamaan tujuan dan alasan inilah yang menyatukan kedua belah pihak untuk bahu membahu mencapai kemerdekaan Indonesia.

Pergerakan itu, kendati dipimpin oleh Soekarno, namun bukan lagi tentang dirinya. Dia telah menjelma menjadi sesuatu yang lebih besar, yaitu keinginan kolektif untuk berubah. Alasan itu bukan lagi berasal dari seorang Soekarno, namun keinginan tersebut bersumber dari dalam diri rakyat sendiri.

Demikianlah seorang pemimpin yang besar, dia mampu menyampaikan gagasan dan keinginan serta tujuan yang ingin dicapai dengan jelas kepada para pengikutnya. Lebih lanjut, cita-cita dan mimpi yang ingin dicapai tersebut sama dengan keinginan rakyatnya.

Dengan demikian, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa alasan dan tujuan para pemimpin besar adalah bukan tentang diri mereka sendiri. Alasan dan tujuan para pemimpin tersebut adalah sesuatu yang jauh lebih besar daripada kepentingan mereka sendiri.

Keseimbangan Antara Visi, Misi, dan Aksi

Menurut Simon Sinek, alasan dan tujuan (why) atau visi seorang pemimpin adalah langkah pertama untuk memulai satu pergerakan. Langkah selanjutnya adalah bagaimana (how) atau misi yang perlu dilakukan untuk mencapai visi tersebut. Kemudian langkah ketiga adalah apa (what) tindakan atau aksi yang perlu dilakukan untuk mencapai alasan atau tujuan yang diinginkan.

Agar sebuah pergerakan, organisasi, dan seorang pemimpin dapat berhasil, Simon Sinek menyarankan adanya keseimbangan antara why, how, dan what. Hal ini berarti, bagaimana (how) cara yang ditempuh dan apa (what) tindakan yang dilakukan adalah perwujudan dari alasan (why).

Sebagai contoh, Soekarno melakukan berbagai tindakan yang tak jarang menyengsarakan dirinya sendiri. Beliau memimpin pergerakan Indonesia melalui pendirian partai politik, berpidato dan memimpin rakyat, dan melakukan perlawanan diplomatik terhadap penjajah Belanda. Akibatnya, Soekarno pun kemudian dipenjara dan diasingkan oleh Belanda.

Semua yang dilakukan oleh Soekarno adalah perwujudan dari alasan dia memimpin, yaitu untuk membebaskan dirinya dan rakyat dari kunkungan penjajah. Apa yang beliau lakukan, cara yang beliau tempuh, semua menunjukkan dengan gamblang alasan dan tujuan dia memimpin.

Pada saat pemimpin mampu menjaga keseimbangan antara alasan dan tujuan dia memimpin, cara yang ditempuh untuk menuju ke tujuan tersebut, dan tindakan yang dilakukan, maka rakyat pun meresponnya. Para pengikut tersebut kemudian akan percaya pada pemimpinnya. Selanjutnya, dari kepercayaan ini, maka akan tumbuh kesetiaan untuk melakukan apa saja yang dibutuhkan guna mendukung pemimpin mereka.

Ketika Tujuan, Cara, dan Tindakan Pemimpin Tidak Seimbang
Seorang pemimpin terkadang mampu mengkomunikasikan alasan dan tujuannya memimpin dengan jelas. Namun, cara yang ditempuh dan tindakan yang dilakukannya ternyata tidak mewujudkan alasan dan tujuan tersebut. Pada kondisi inilah, maka terjadi ketidakseimbangan. Hasilnya, loyalitas tidak tercipta dan keragu-raguan menghantui hati rakyatnya.

Kondisi ini sering ditemui pada masa kampanye. Manakala seorang politisi mencalonkan diri agar dipilih, maka seringkali dia mampu dengan jelas menyampaikan apa alasan dan tujuannya. Namun, cara dan tindakannya setelah terpilih kerap tidak mencerminkan alasan dan tujuannya tersebut.

Sebagai contoh, manakala kampanye, seorang politisi berjanji akan melakukan ini dan itu sebagai visi dan misinya. Namun, ketika dia terpilih, maka ada saja alasan yang dikemukakan saat dia tidak bisa mencapai visi dan misi tersebut. Di sinilah terjadi ketidakseimbangan antara tujuan, cara, dan apa tindakan yang dilakukan.

Hal ini terjadi karena tujuan dan cita-cita politisi tersebut adalah mengenai dirinya sendiri, yaitu agar bisa terpilih sebagai pemimpin. Dia tidak memedulikan cita-cita, harapan, dan tujuan rakyatnya.

Manakala tujuan pemimpin berbeda dengan rakyatnya, maka di sinilah keragu-raguan muncul. Pemimpin ingin melanggengkan kekuasaanya dengan berbagai cara. Di sisi lain, rakyat mengalami kebingungan untuk menerjemahkan keinginan pemimpinnya.

Ketika terjadi perbedaan tujuan antara pemimpin dengan rakyatnya, maka loyalitas pun tidak tercipta. Kemudian program-program kerja para pemimpin pun tidak menarik hati rakyatnya. Pada gilirannya, keberhasilan pemerintahan pemimpin ini pun menjadi tanda tanya.

Penutup

Pemimpin yang besar adalah mereka yang memberikan inspirasi. Inspirasi berupa tujuan, cita-cita, harapan, dan alasan mereka memimpin yang bukan lagi tentang diri mereka sendiri. Tetapi, berbagai alasan dan tujuan yang memiliki kesamaan dengan cita-cita dari rakyat yang dipimpinnya.

Selanjutnya, cara dan tindakan yang dipilih seorang pemimpin pun adalah perwujudan dari cita-cita dan tujuannya yang mengakomodasi harapan rakyatnya. Dengan cara ini, maka loyalitas dan dukungan rakyat pun akan tercipta. Dari dukungan dan kesetiaan rakyat inilah, maka pemerintahan yang baik dan berhasil pun pada gilirannya dapat terlaksana.

Dengan demikian, setiap tindakan, termasuk satu patah kata saja yang diucapkan oleh seorang pemimpin dapat menentukan nasib pemerintahan yang dipimpinnya. Apakah pemimpin tersebut layak dipercaya dan mampu melaksanakan tugasnya, ataukah dia politisi biasa yang sekadar mencari kuasa?

Tulisan ini pertama kali ditayangkan di Kumparan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: