Refleksi: Kisah Lelaki yang Terpesona pada Boikot

menyublim
Menguar bersama angin di kala senja itu (Pixabay)

Sebelum menghirup napasnya yang penghabisan, lelaki itu menerawang…

Dikenangnya beberapa waktu yang lalu, ketika dirinya mulai senang memboikot.

Pertama kali dia melakukan boikot adalah pada ubi cilembu. Menurutnya, makanan jenis ini berasal dari daerah yang ditinggali oleh suku yang berbeda dengannya.

Setelah melakukannya, dengan penuh semangat dia membagikan pengalaman itu di Pesbook, sebuah aplikasi jejaring pertemanan yang sedang marak digunakan olehnya dan partai yang didukungnya.

Boikot kedua adalah pada Pesbook, tempat biasa dia dapatkan info dan berbagi pengalaman. Namun, karena saking loyalnya kepada partai, dengan istiqomah dia pun melakukan boikot itu.

Kini, dia bingung, ke mana harus membagikan pengalaman boikot yang kedua ini?

Biarpun begitu, dia mulai ketagihan setelah dua kali melakukan boikot.

Sebuah prinsip baru dianutnya, apa pun yang berasal dari orang atau daerah yang berbeda dengannya haruslah diboikot.

Dilihat rumahnya, bukankah dahulu genteng dan batu bata itu diproduksi oleh tetangga desa yang mayoritas penduduknya berbeda agama dengannya?

Rumahnya sendiri diboikot dengan cara tidak memasukinya. Kini dia kebingungan tak beratap kala hujan dan panas.

Dilihat pakaiannya, kapasnya dihasilkan di India, diangkut pakai mobil Jepang, dipintal di Tiongkok. Semua berbeda dengannya.

Diboikot pula pakaian itu. Kini dipakainya daun pisang untuk menutupi bagian paling rahasia dari tubuhnya.

Dia juga sudah beberapa hari tidak makan kecuali buah atau sayur yang dipetik menggunakan tangannya sendiri. Dia tak berani memakan makanan lain karena takut dipanen, diternakkan, diangkut, dan dipasarkan oleh mereka yang berbeda dengannya.

Kesadaran paling tinggi dan terakhir adalah pada napasnya. Dia tak mampu menyaring udara.

Padahal dia tahu udara yang dihirupnya itu tentu pernah singgah pula di tubuh mereka yang berbeda dengannya. Dengan demikian, udara pun layak diboikot.

Maka, inilah saatnya, sebentar lagi akan dihirup napasnya yang penghabisan sebagai tanda boikot paling kolosal yang pernah dilakukannya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *