Penanggulangan Bencana: Sapaan Gunung adalah Wujud Cinta Sang Hyang Widhi Wasa

Kreativitas Pengungsi di Karangasem
Daniel dari WVI bersama Wayan di Pos Pengungsi Sidemen, Karangasem (BNPB).

KARANGASEM~Inilah kisah sinergi antara masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah yang mewujud nyata di Kaki Gunung Agung. Bagaimana masyarakat tak hanya diam dan terus berupaya sekuat tenaga, bagaimana lembaga usaha dan swadaya masyarakat bahu-membahu mengurangi nestapa, dan apa makna sapaan gunung bagi mereka. Selamat membaca….

Wayan, Penyintas dari Sebudi

“Selalu ada berkah di balik musibah.” Pesan optimistis ini disampaikan dengan penuh keyakinan oleh I Wayan Kumarajaya (30) saat kami bertemu dengannya pada Sabtu (2/12) di Pos Pengungsi Wantilan Pura Pusah Tabola, Desa Sidemen, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, Bali.

Wayan adalah koordinator di lokasi pengungsian tersebut. Dia mengatur kebersihan, keamanan, kebutuhan, dan berbagai urusan lain dari 77 kepala keluarga yang saat ini bernaung di pos pengungsi.

Para penyintas di pos ini berasal dari Dusun Pura, Desa Sebudi, Kecamatan Selat. Letaknya sekitar empat kilometer dari kawah Gunung Agung. Lokasi Desa Sebudi yang begitu berdekatan dengan kepundan gunung menyebabkan para penyintas dari sana tak pernah pulang sejak pertama kali ditetapkannya status Awas Gunung Agung pada 22 September 2017.

Sebelum mengungsi, Wayan sehari-hari bekerja serabutan, apa saja yang bisa dikerjakan akan dilakukannya untuk menyambung hidup. Di Sebudi, mata pencaharian sebagian besar penduduk berkaitan dengan penambangan pasir. Selain itu, ada pula yang berprofesi sebagai petani, tukang, dan lainnya.

Siang itu, ada yang berbeda di pos pengungsi. Wayan duduk bersila bersama dengan beberapa orang ibu. Tangan mereka memegang hasil rajutan yang belum jadi, jemari mereka tertatih-tatih menggenggam jarum rajut, dan dengan penuh konsentrasi berusaha menyelesaikan kerajinan dari benang wool tersebut.

“Jika hanya berdiam diri, maka saya akan stress.” Demikian dikatakan Wayan saat menjelaskan kehadirannya dan menjadi satu-satunya pria di antara para wanita. Selain itu, dirinya tak bisa menerapkan berbagai keahlian yang dimiliki di lokasi pengungsi. Hal-hal inilah yang menjadi alasan bagi wayan untuk belajar hal baru seperti merajut dengan penuh semangat.

Pelatihan merajut di pos pengungsi ini memiliki sejarahnya sendiri….

Pendampingan kepada Penyintas oleh Wahana Visi Indonesia

Selain Wayan, siang itu kami juga ditemani oleh Daniel Christianto (40) dari Wahana Visi Indonesia (WVI), sebuah yayasan sosial kemanusiaan Kristen yang bekerja untuk membuat perubahan yang berkesinambungan pada kehidupan anak, keluarga, dan masyarakat. Lembaga ini terutama membantu mereka yang paling rentan tanpa membedakan agama, ras, etnis, dan jenis kelamin.

Di Pos Pengungsi Tabola, WVI memberikan pendampingan livelihood, yaitu dengan memberikan pelatihan merajut. Sementara itu, di lokasi pengungsi lain, yaitu di Rendang, mereka memberikan dukungan pelatihan livelihood juga berupa keterampilan membuat inke dan memotong rambut.

Daniel dengan bermurah hati membagikan kisah keterlibatan WVI dalam upaya penanggulangan bencana erupsi Gunung Agung, terutama dalam memberikan dukungan dan pendampingan livelihood. Dia berharap, kisahnya ini akan menginspirasi LSM lain yang sudah dan akan terlibat dalam upaya penanggulangan bencana di sini.

Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan melakukan assessment. “Kami mencoba mencari informasi, dukungan seperti apa yang diharapkan oleh para penyintas.” Daniel mengawali penjelasannya.

Singkat cerita, terkumpullah informasi bahwa pengungsi membutuhkan kegiatan yang produktif. WVI merespon itu dengan sigap. LSM ini kemudian tak hanya sekadar mencarikan kegiatan produktif, namun juga mengupayakan kegiatan yang dapat menjadi alternatif pendapatan baru bagi penyintas. Guna melakukan hal ini, maka tak lupa untuk dicarikan pasar bagi produk-produk yang nantinya akan dihasilkan.

Menurut Daniel yang juga disetujui oleh Wayan, saat ini tantangan utama yang dihadapi adalah pemasaran produk para pengrajin. Selain itu, masalah lainnya adalah bagaimana mencari pihak yang bersedia bekerja sama dan memberikan pelatihan.

Beruntunglah WVI mengenal Yuliani Djaya Negara dari Bali Tangi. Ini adalah penghasil produk-produk ramah alam, seperti sabun, aroma terapi, masker, dan lain-lain. Sebelum membantu penyintas, Yuliani telah memberikan pelatihan merajut untuk pemberdayaan ekonomi bagi penderita lupus.

Saat ini, Yuliani mengajarkan pembuatan rajutan sepatu bayi kepada penyintas. Kelak jika para penyintas sudah mampu menghasilkan produk sepatu bayi, maka Yuliani akan memberikan harga 50 ribu rupiah setiap sepasangnya.

Yuliani memilih produk sepatu bayi karena beberapa alasan. Pertama adalah ketersediaan pasar. Hal ini penting agar produk rajutan sepatu bayi mudah dijual nantinya. Selain itu, permintaan pun selalu ada karena kelahiran bayi terjadi setiap hari, sehingga sepatu mungil tersebut sangatlah dibutuhkan. Agar pemasaran lebih terjamin, maka Yuliani pun akan menjalin kerja sama dengan klinik-klinik ibu dan anak.

Menurut Daniel dan Wayan, hingga kemarin Sabtu (2/12) telah diselanggarakn dua kali pelatihan untuk merajut sepatu bayi. Setidaknya diperlukan empat kali tatap muka untuk menghasilkan sebuah sepatu yang utuh. Saat ini, para penyintas baru memasuki tahap pembuatan dasar sepatu bayi saja. Ini adalah bagian telapak kaki, masih perlu pelatihan untuk membuat bagian atasnya, ornamen tambahan, hingga kombinasi warna.

Satu hal yang menjadi perhatian Daniel dalam memberikan pendampingan dan pelatihan kepada penyintas adalah keberlanjutan. Daniel berharap pelatihan ini tak berhenti manakala penyintas berada di pos pengungsi saja. Namun bisa lebih dari itu, diharapkan agar warga terus mengembangkan sendiri kemampuannya hingga nanti ketika krisis sudah berakhir dapat menjadi alternatif pendapatan mereka.

Wayan dan saudara-saudaranya dari Sebudi sangat tertarik dengan pelatihan merajut. Mereka melihatnya bukan sekadar kegiatan pengisi waktu di pos pengungsi. Pada saat yang sama, sejatinya mereka sedang merajut harapan untuk masa-masa yang akan datang nanti.

Masyarakat dari Sebudi sebenarnya sudah akrab dengan kerajinan. Mereka adalah para pengrajin inke. Bahkan dibanding merajut, menurut mereka inke lebih mudah karena sudah terbiasa. Namun, kendala pemasaran dan ketersediaan bahan baku di pos pengungsi menjadi persoalan untuk membuat kerajinan ini.

Tantangan Merajut

Selayaknya keterampilan yang baru saja dimiliki, maka belajar merajut juga tak mudah bagi Wayan dan saudara-saudaranya. Masih dibutuhkan lebih banyak latihan, ketekunan, serta kesabaran. Sebagian ibu-ibu juga mengaku kalau matanya sakit dan cepat lelah karena harus mencermati lubang-lubang kecil saat mengeluar-masukkan jarum dan benang.

Sementara itu, tantangan bagi LSM berdasarkan penjelasan Daniel adalah bagaimana menemukan pengusaha yang menyadari potensi tenaga kerja di Bali, termasuk potensi para penyintas. Pekerja di Bali memiliki sifat yang ulet, terampil, cepat belajar, serta memiliki daya kreativitas yang sangat tinggi. Pengusaha yang menggandeng para pekerja ini niscaya akan memperoleh keuntungan yang berlipat dan pada saat yang sama menolong mereka.

Potensi dan Tindak Lanjut

Bahan baku untuk keterampilan merajut adalah benang wool. Namun, penyediaan bahan baku bisa menjadi tantangan tersendiri karena harus ke Denpasar untuk mendapatkannya. Menghadapi tantangan ini, Daniel mengemukakan agar para penyintas tak perlu khawatir, sebab Yuliani dan perusahaannya siap menyediakan keperluan merajut termasuk jarum dan benang. Khusus untuk pelatihan livelihood di Tabola, bahan-bahan yang diperlukan didukung oleh WVI.

Selain keterampilan merajut, Wayan menyarankan perlunya pelatihan kerajinan yang lain seperti inke dan ate. Sebab, meskipun sebagian penyintas sudah memiliki keterampilan tersebut, namun masih perlu untuk ditularkan ke saudara-saudaranya yang lain. Harapannya, selain sebagai pengisi waktu di pos pengungsi, keterampilan ini nantinya akan bermanfaat manakala Gunung Agung telah selesai bergejolak sebagai alternatif pendapatan warga.

Menyikapi kesulitan dalam latihan merajut, Wayan mengatakan, “Semakin sulit, maka semakin membuat saya penasaran. Menjadi tantangan yang harus saya selesaikan.” Inilah karakteristik masyarakat Bali termasuk dalam menghadapi aktivitas Gunung Agung.

Wayan dan warga Bali percaya bahwa selalu ada berkah di balik musibah. Sebagai contoh, sapaan Gunung Agung yang sekarang ini terjadi sejatinya adalah cara Sang Hyang Widhi Wasa—Tuhan dalam terminologi Bali—untuk menunjukkan cintaNya kepada manusia. Diam-diam dan perlahan-lahan diantarkanNya pasir, abu yang menyuburkan, dan kemegahan agar warga mudah memungut, menanam, dan menikmatinya.

Pendampingan livelihood kepada penyintas tak hanya dilakukan oleh WVI, LSM yang lain juga memberikan berbagai pendampingan kepada para penyintas di kaki Gunung Agung. Selain itu, diharapkan dukungan terus menerus dari dunia usaha untuk membantu memasarkan berbagai produk yang dihasilkan agar program yang dilakukan bisa memberikan dampak jangka panjang.

BNPB sangat mengapresiasi berbagai upaya yang dilakukan oleh LSM dan dunia usaha. Ini menunjukkan terwujudnya sinergi di antara tiga pihak, yaitu institusi pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha. Jika sinergi ini terus dipupuk, maka kita boleh berharap untuk memetik buahnya, yaitu ketangguhan bangsa menghadapi bencana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: