Review: Taj

Novel Taj

“Bibirmu, terasa begitu manis.” Kata Shah Jahan

“Ini hanya manis untukmu, kekasihku, untuk orang lain: rasa pahit yang akan ditemui.” Arjumand Banu menjawab dengan mata yang berbinar.

Pasti semua pun tahu bahwa keduanya baru saja berciuman. Ciuman terlarang seperti juga cinta mereka yang tak direstui oleh Padishah, Sang Sultan. Jahangir, Sultan Mughal India ayah dari Shah Jahan berpikir jauh ke depan. Putranya adalah putra mahkota. Hidupnya bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun untuk seluruh bangsa, semua negeri di bawah panji-panji Mughal.

Perkawinan politik kemudian terjadi. Seorang keponakan Sultan Persia dinikahkan dengan Shah Jahan. Kasihan sekali putri yang malang itu, karena perceraian menjadi akhir kisah biduk rumah tangga mereka. Mandul menjadi alasannya, padahal yang benar: Shah Jahan tak sudi, ogah untuk sekadar menyentuhnya.

Arjumand Banu menunggu janji Shah Jahan dengan gelisah. Menjadi perawan tua dan digunjingkan oleh para harem karena tak kunjung menikah. Janji, hutang Shah Jahan untuk hidup bersama dengan Arjumand Banu yang dipercayanya suatu hari nanti, entah kapan akan terjadi.

Pasca perceraian sebuah pernikahan yang dilandasi oleh alasan-alasan politik itu, pernikahan akbar Shah Jahan dan Arjumand Banu dilaksanakan. Keduanya pun hidup bahagia bersama. Apakah kemudian berakhir?

Jauh panggang dari api bila akhir dari kisah ini Anda harapkan, pembaca. –halah!-

Lima tahun sudah Arjumand Banu dan Shah Jahan menunggu untuk bisa hidup bersama. Bukan hal yang aneh bila gairah mereka berdua begitu bergelora, seperti ombak di pantai selatan saat musim Barat tiba. Berdebur kencang di pantai, menghempas karang dan tebing-tebing terjal.

Shah Jahan sering mendapat perintah dari ayahnya untuk berperang menaklukkan negeri-negeri di sekitar. Perjalanan yang jauh melintasi gurun-gurun tandus nan gersang dilalui dengan sepasukan tentara, lengkap dengan kuda, gajah, persenjataan dan perbekalan. Yang istimewa, Arjumand Banu tak pernah ketinggalan turut serta. Janji mereka berdua adalah tidak akan saling berpisah apapun yang terjadi dan ke mana pun pasangannya pergi.

Berbagai perjalanan yang tidak mudah harus dilalui Arjumand Banu. Kondisi fisiknya seringkali melemah bila terkena hawa panas, terutama bila dia sedang mengandung—dan ini seringkali terjadi—buah cintanya dengan Shah Jahan. Selain perkasa di depan musuh-musuhnya manakala berperang, Shah Jahan juga begitu digdaya di depan istrinya. Kemenangan gemilang yang diraih, dirayakan dengan bercinta berapi-api dan membuahkan kehamilan.

Putra putri keduanya satu demi satu lahir sampai dengan tujuh orang yang hidup. Jumlah total mengandung empat belas kali dan separo di antaranya meninggal saat dilahirkan atau keguguran. Penyebabnya sendiri, karena kondisi yang tidak mendukung kesehatan seorang ibu hamil pun karena obat yang diberikan oleh Wahid istana atas permintaan Arjumand yang tidak tahan akan penderitaan kehamilan yang begitu melemahkan fisiknya.

Tidak jarang Arjumand mendapat nasihat dari orang-orang terdekat juga tabib agar menjarangkan sedikit jarak dari kehamilan ke kehamilan. Bukannya tidak mendengar, karena Arjumand pun pernah bersitegang dengan suaminya karena kondisi ini. Satu ketika, penolakan pernah pula dilakukannya ketika Shah Jahan datang menghampiri di malam yang bergairah.

“Aku seperti berbaring dengan orang mati.” Desis Shah Jahan dan kemudian berbaring terlentang tanpa melihat Arjumand yang tidur di sisinya.

“Puaskanlah nafsumu dengan para putri atau budak, ambillah istri ke dua, ke tiga seperti juga ayah dan kakekmu melakukannya.” Ratap Arjumand di sisi Shah Jahan.

“Aku tidak bisa, tidak mungkin aku melakukan itu. Kamu begitu mulia, tak mungkin aku bersama dengan mereka.” Hanya itu yang keluar dari mulut Shah Jahan karena begitu cintanya kepada Arjumand.

Akhirnya, karena cinta pula Arjumand selalu menuruti kehendak dari suaminya yang tercinta. Biarlah rusak tubuhnya, tak apa bila dia harus sakit dan menderita. Sejauh suaminya terpuaskan karena dia acap kali merasa kasihan saat suaminya begitu menderita karena nafsu.

Shah Jahan tidak bisa hidup tanpa Arjumand, dia adalah pendukung setia di belakang setiap kemenangan pun ketika Shah Jahan dianggap memberontak oleh ayahnya dan menjadi pelarian. Arjumand adalah teman tatkala kejayaan menghampiri dan kegagalan yang tidak diundang datang bertamu.

Tanda cinta Arjumand adalah kesediannya untuk bersenang-senang bersama suaminya. Tak lupa, kesedihan, air mata dan derita yang juga turut ditanggungnya ketika suaminya berada pada titik nadir. Namun, lebih dari semua itu adalah tubuhnya yang rusak karena mengandung begitu banyak putra putri dan calon jabang bayi dari benih suaminya. Sampai akhirnya, Arjumand melemah dan kian melemah hingga maut datang membawanya pergi.

Shah Jahan goyah, singgasana yang sedari awal dirasanya begitu sunyi karena menjauhkannya dari orang-orang di sekitarnya kini dirasa makin sepi. Ketika Arjumand masih ada, dialah satu-satunya yang tetap memandang sama kepadanya tanpa menghiraukan statusnya sebagai Sultan; Sang Penakluk Dunia. Tak pernah bermuka manis seperti penjilat melakukannya, tak pernah berlebihan dan selalu jujur. Arjumand adalah rem tatkala Shah Jahan kehilangan kendali dan lupa diri.

Saat Arjumand pergi, Shah Jahan pun lupa diri, tenggelam dalam duka nestapa dan nelangsa yang begitu dalam tak berdasar. Malam-malam dilaluinya masih dengan nafsu yang bergelora bersama para putri dan budak-budak, namun tetap satu nama yang disebutnya, “Arjumand… Arjumand….”

Sebuah makam untuk mendiang istrinya yang tercinta pun dibangun sebagai tanda cinta. Sebagian juga bentuk penyesalan karena paksaannya kepada Arjumand yang terjadi berulang-ulang di tiap malam. Makam yang dihiasi dengan marmer, pualam, emas, berlian dan diukir dengan begitu indah bernama Taj Mahal. Makam yang dibangun selama 22 tahun dengan tinggi 55 meter dan memiliki kubah yang berdiameter 18 meter dan tinggi 44 meter ini begitu agung. Keagungan cinta seorang sultan yang mendalam kepada istrinya tercermin dari bangunan ini. Namun, tak hanya itu, bangunan ini juga mencerminkan kesederhanaan cinta Arjumand kepada suaminya. Kesederhanaan dalam bentuk pengorbanan dirinya yang kian merapuh demi suaminya.

Taj Mahal kemudian adalah kerepotan bagi para tukang, mulai dari ahli kubah, tukang kayu, tukang batu sampai ahli pahat. Semua harus memenuhi selera Sultan yang menginginkan sebuah bangunan di mana mencerminkan keagungan namun kesederhanaan yang sunyi dari cinta. Begitulah, karena Taj Mahal adalah tanda cinta.

Kemudian, apa yang sudah Anda berikan sebagai tanda cinta Anda untuk orang-orang tercinta pada Valentine day, kemarin? Sekadar coklat, sekuntum bunga, atau kecupan yang paling manis?

PS : bagaimana kisah cinta, pengkhianatan, intrik di istana dan suka duka membangun sebuah tanda cinta silakan dibaca selengkapnya dalam buku berjudul ‘Taj’ karya Timeri N. Murari.


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *