Kiat: Mengatasi Kerentanan

Seseorang menjadi rentan karena perasaan malu dan takut yang dimilikinya. Malu atau takut itu kemudian menjelma menjadi satu tindakan. Terkadang, tindakan itu merugikan bagi dirinya sendiri, namun tak jarang juga merugikan orang lain.

Sebagai manusia yang saling terhubung satu dengan yang lainnya, maka perasaan rentan akan memengaruhi hubungan itu. Sebagai contoh, orang yang ingin menyembunyikan kelemahan atau malu untuk tampil akan cenderung untuk menutup diri. Semakin dia menutup diri, barangkali semakin besar aib yang ingin ditutupinya.

Menyendiri adalah tindakan lain yang biasa dilakukan oleh seseorang yang rentan. Menurutnya, mengucilkan diri adalah tindakan yang benar untuk dilakukan. Padahal, alih-alih dia mendapat pertolongan, tingkat kerentanan yang dimilikinya justru bisa jadi semakin besar.

Seseorang dengan kerentanan yang tinggi merasa dia tak aman dan selalu terancam. Hal ini tergambar dalam tingkah lakunya sehari-hari, dalam berbagai aspek hidupnya.

Sebagai contoh adalah dalam bidang keagamaan. Aspek hidup yang paling pribadi ini berhubungan dengan keyakinan, perubahan, kepercayaan, dan tidak ada keniscayaan di dalamnya karena sangatlah dinamis. Namun, bila aspek religi ini berada pada seseorang yang rentan, maka menjadi suatu kemestian. “Aku benar dan kamu salah, tutup mulutmu!” Kata orang tersebut.

Orang yang rentan adalah seseorang yang mati rasa. Secara sengaja mereka mematikan perasaannya, barangkali agar mereka tak harus melihat kelemahan dirinya yang membuatnya malu, tak mesti mengakui kekurangannya, tak hendak menunjukkan ketakutannya. Mereka mencoba menutup itu semua dengan tindakan lain yang seolah-olah membuatnya tampak sempurna.

Mereka membangun sebuah dunia baru yang palsu, tampak sempurna, padahal sekadar topeng semata.

Kerentanan yang dihadapi seseorang tak mudah untuk diatasi. Namun, kita dapat memulainya dengan melihat kelemahan, kekurangan, dan kelemahan diri sendiri. Sedikit demi sedikit kita harus tampil, kita harus terlihat sebagai seorang pribadi yang utuh, pribadi yang tak selalu sempurna.

Selanjutnya, kita juga harus terhubung dengan orang lain. Contohnya adalah dengan mencintai sepenuh hati tanpa jaminan adanya perasaan serupa dari orang lain. Layaknya perasaan yang dimiliki oleh orang tua kepada anaknya, seseorang harus berlatih untuk melakukan hal itu dan dia bisa mengatasi kerentanannya.

Betapa pun rentannya kita, namun dari situlah peluang untuk maju, bertahan, dan berkreasi. Kita bisa mengatasi berbagai kelemahan, ketakukan, dan kekurangan dengan penerimaan diri dan rasa terima kasih. Jangan lupa, selalu bergembira dan berpikir positif.

Selengkapnya tentang kekuatan kerentanan, silakan lihat video berikut ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: