Kiat: Menikmati Menunggu

sendiri menungguBerikut ini adalah kutipan dari buku ‘Canting’ karya Arswendo Atmowiloto. Kutipan tersebut khusus tentang arti menunggu bagi Bu Bei. Simaklah kutipan tersebut dengan baik.

Menunggu dalam sikap Bu Bei, bukanlah sesuatu yang berat dan mengimpit. Bukan sesuatu yang harus diisi dengan menggerutu seperti pada generasi Wahyu, putranya. Menunggu adalah bagian yang penting dalam sikapnya. Menunggu sama pentingnya dengan perubahan itu nantinya. Perut dalam kandungan menunggu untuk lahir. Manusia hidup menunggu untuk mati. Kehidupan justru terasakan dalam menunggu. Makin bisa menikmati cara menunggu, makin tenang dalam hati. (80)

Menunggu adalah pasrah. Menunggu adalah menerima nasib, menerima takdir. Menjalani kehidupan. Bukan menyerah, bukan kalah, bukan sikap pandir. Pasrah ialah mengalir, bersiap menerima yang terburuk ketika mengharap yang terbaik. (86)

Barangkali tak semua orang suka menunggu, bahkan sebagian besar orang tak suka untuk menunggu. “Menunggu itu menyebalkan.” Demikian kata mereka.

Ketergesaan kemudian menjadi jalan keluar yang diambil. Mengambil jalan pintas. Tentu itu mudah dilakukan, namun terkadang hasilnya justru tak enak. Tak ada hasil baik dari keputusan yang diambil buru-buru.

Tanyakan apa arti menunggu bagi istri saya. Barangkali dia pun tak sadar, bahwa selama ini dia menunggu dengan penuh kesabaran. Pun saya di sampingnya, juga menemaninya menunggu. Dan itu tak enak, kawan.

Malam-malam yang dilalui dengan menunggunya pulang setiap sekitar pukul 21.30 bukanlah hal yang teramat menyenangkan untuk dilalui. Apalagi kalau hujan atau sedang banjir dan dia mengendarai motor sendiri. Ah, itu menyiksa, tapi saya menunggu dengang disabar-sabarkan.

Bagi saya pribadi, tentu akan sangat menyenangkan apabila saya pulang dari pabrik dan dia berada di rumah menunggu saya pulang. Bukan sebaliknya, saya yang menunggunya pulang.

Tapi itulah, sebuah episode panjang penantian yang memang harus dijalani. Semesta menunda anugerah untuknya sampai saatnya tepat.

Sekarang dia sudah diterima kerja di tempat dengan waktu kerja normal. Jam kerjanya akan sama dengan saya. Berangkat bersama dan pulang pun bersama. Ini melebihi yang saya harapkan dan jelas harus disyukuri oleh kami berdua.

Kendati menunggu itu akan tetap ada. Entah dia menunggu saya di kantornya atau saya menunggunya di dekat kantor. Namun, sekarang paling tidak kami sudah lebih terlatih menunggu, tak akan menggerutu manakala menunggu. Menikmati menunggu sebagai bagian dari kehidupan,  dan menunggu itu menyenangkan, bukan menyebalkan.

Gambar dipinjam dari sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *