Review: Inferno

Inferno1. Data Buku

Judul Buku: Inferno
Penulis: Dan Brown
Nama Penerbit: PT Bentang Pustaka
Cetakan dan Tahun Terbit: Cetakan  II, Oktober 2013
Jumlah Halaman: 642 Halaman

2. Judul Resensi
Kelindan Neraka

3. Ikhtisar Isi Buku
Inferno karya Dan Brown seperti biasa, menawarkan plot cerita yang begitu cepat. Dalam buku ini, cerita diawali pada tengah malam dan berakhir di dini hari berikutnya. Dalam sehari itu, cerita bergulir dari Florence ke Venesia di Italia kemudian terbang ke Istambul di Turki. Awas, barangkali Anda akan terengah-engah membacanya.

Tak banyak yang bisa dituliskan sebagai ringkasan isi buku. Barangkali dengan menuliskannya di sini, dan apabila Anda membaca ringkasan jalannya cerita, justru akan membuat Anda kehilangan keasyikan membaca Inferno. Rasa penasaran saat membuka lembar demi lembar adalah kenikmatan tersendiri. Oleh karena itu, saya tak ingin menulis ringkasan cerita. Saran saya, bacalah buku itu dan nikmati petualangannya.

Kendati demikian, ada baiknya saya tuliskan beberapa hal yang barangkali akan membuat Anda semakin penasaran. Haha.

Tengah malam itu di sebuah klinik di Florence, Robert Langdon siuman dari pingsan akibat luka tembak di kepalanya. Tak banyak yang bisa diingatnya kecuali seorang perempuan berambut perak yang sangat cantik, topeng wabah, dan gambaran neraka karya Boticelli yang terinspirasi dari Bab Pertama, yaitu Inferno dari epos besar karya Dante Alighieri berjudul Devine Comedy.

Penolong Langdon, Dokter Sienna Brooks, adalah orang pertama yang ditemuinya pasca siuman. Di tengah pening yang mendera kepalanya. Datang lagi orang lain yang siap dengan senjata untuk membunuh Langdon.

Selanjutnya, Inferno berisi seputar upaya pelarian Robert Langdon dan Sienna Brooks dari para pengejar yang berupaya membunuh mereka. Rupanya saat tak sadar, seseorang memasukkan sebuah benda di saku tersembunyi jaket Langdon. Kiranya, hal itulah yang dicari-cari oleh para pengejar.

Di tengah upaya melarikan diri itu, Langdon juga harus memecahkan teka-teki yang ada dalam benda yang dibawanya. Dalam benda itu, terdapat peta neraka karya Boticelli yang menggambarkan nerakanya Dante. Peta itu luar biasa akurat, namun rupanya telah dimodifikasi oleh seseorang. Peta ini menuntun Langdon dan para pengejarnya pada wabah yang sangat berbahaya yang akan mengancam kelangsungan hidup manusia dan menimbulkan krisis secara global.

Kisah dalam Inferno kemudian berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain di Kota Florence. Keindahan kota itu, obyek-obyek wisata dan peninggalan sejarah dunia menjadi latar cerita. Bersama dengan itu, perlahan-lahan selimut misteri terungkap.

Membaca Inferno laksana mengupas bawang. Dari satu kulit beralih ke kulit yang lain. Satu demi satu petunjuk berhasil dipecahkan Langdon. Namun, itu bukan berarti selesai pencarian. Setiap petunjuk adalah permulaan dari misteri lain yang lebih besar.

Lokasi cerita kemudian berpindah kota, kini ke Venesia dengan gondola, kanal-kanal dan istana-istana. Setelah itu, Langdon harus pindah lagi ke Istambul di Turki untuk menyelidiki salah satu museum terkenal di sana, Hagia Sophia.

Dalam Inferno, Langdon harus menghadapi seorang agen lapangan yang berniat membunuhnya, Vayentha. Sosok ini bekerja untuk sebuah konsorsium yang kantor pusatnya berada di sebuah kapal pesiar, The Mendacium. Konsorsium ini bekerja atas pesanan seorang jenius yang menemukan wabah dan menjadi ancaman dunia. Konsorsium harus menjamin keselamatan dan keamanan kliennya, termasuk dari gangguan Langdon. Di cerita ini, Profesor Langdon juga mesti bekerja sama dengan organisasi kesehatan dunia WHO.

Dapatkah Langdon melawan musuh-musuhnya itu? Kemudian yang paling penting, akankah dia bisa menyelamatkan umat manusia dari serangan wabah yang mematikan?

Bacalah Inferno, Kawan, dan jangan lupa pasang sabuk pengamanmu.

4. Kelebihan dan Kekurangan Buku
Pendapat saya pribadi, buku-buku Dan Brown selalu menawarkan ketegangan yang terus berkembang dari awal sampai dengan akhir. Membacanya seperti menonton film, adegan-adegannya berkejaran. Ditambah lagi, latar cerita di tempat-tempat ternama di dunia, yang juga berperan sebagai tempat wisata memberikan kenikmatan dan rasa penasaran yang lain.

Kelemahan buku ini, 642 halaman seperti tak terasa dibaca. Tahu-tahu sudah selesai. Sejujurnya, mendekati halaman-halaman terakhir itu ada ketidakrelaan hendak selesai. Eh, ini sepertinya bukan menjadi kelemahan, ya?

5. Kesimpulan

Baca saja Inferno dan silakan disimpulkan sendiri, hahaha.

6. Kutipan dari Inferno

Keputusan masa lalu kita adalah arsitek masa kini kita. (36)

==

Ketika semua tempat di dunia penuh sesak oleh penghuni sehingga mereka tak bisa bertahan hidup di tempat mereka berada dan juga tidak bisa pindah ke tempat lain… dunia akan membersihkan dirinya sendiri. (149)

==

Orang yang ikut-ikutan orang lain adalah orang gila. (191)

==

Masalah-masalah lingkungan utama yang dianggap WHO memiliki dampak terhadap kesehatan global adalah: kebutuhan air bersih, suhu permukaan global, penipisan ozon, konsumsi sumber daya lautan, kepunahan spesies, konsentrasi CO2, penggundulan hutan, dan kenaikan permukaan laut global. (196)

==

Rasa iba adalah bahasa yang universal. (212)

==

Proses berakhirnya umat manusia tak akan seperti mobil kehabisan bensin secara perlahan… tapi mirip seperti ngebut ke arah jurang. (302)

==

“Jika kau bisa menekan sebuah tombol yang akan membunuh secara acak setengah populasi dunia, akankah kau melakukannya? “

“Tentu saja tidak.”

“Baiklah. Tapi bagaimana jika kau diberi tahu bahwa jika kau tidak menekan tombol itu sekarang juga, seluruh umat manusia akan punah dalam seratus tahun ke depan? Maukah kau menekannya kalau begitu? Bahkan jika itu berarti kau barangkali akan membunuh teman, keluarga, dan mungkin dirimu sendiri?” (306-307)

==

Ingatlah malam ini… karena ini adalah awal dari selamanya. (633)

Gambar dipinjam dari sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: