Review: Canting

canting_batik_1. Data buku

Judul Buku: Canting
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Nama Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan dan Tahun Terbit: Cetakan Ketiga, Oktober 2007
Jumlah Halaman: 406 Halaman

2. Judul Resensi
Kepasrahan Canting

3. Ikhtisar Isi Buku
Canting berkisah jatuh bangunnya sebuah usaha batik yang dikelola oleh istri dari Pak Bei Sestrokusuman. Usaha keluarga ini dulunya sangat maju. Dengan buruh yang banyak, pengelolaannya memang dilakukan secara tradisional, namun memberikan keuntungan yang bagus. Seiring perkembangan zaman, perusahaan keluarga ‘Batik Canting’ yang mengkhususkan diri pada batik tulis pun perlahan-lahan ambruk. Penyebabnya, tak lain semenjak ditemukannya metode batik cap yang bisa berproduksi dengan cepat dan harganya murah.

Adalah Pak Bei, sosok priyayi yang berwibawa dan sangat dihormati oleh lingkungannya, adik-adiknya, dan terutama putra-putrinya. Beliau pengagum dan pengikut Ki Ageng Suryamentaraman yang mengajarkan kebahagiaan sejati orang jawa. Pak Bei tergolong priyayi yang antik. Dengan berani, dia melanggar adat, bahwa seorang bangsawan harus menikahi sesama bangsawan. Alih-alih seorang bangsawan, dia justru memilih seorang buruh. Di antara buruh batik yang tinggal di kebon belakang rumah, dipilih satu orang untuk mendampinginya. Dialah Bu Bei.

Bu Bei yang mengelola batik canting dengan ratusan buruhnya. Setiap pagi pergi ke pasar untuk menjual batik. Pada saat yang sama, Bu Bei adalah seorang istri dan ibu. Semua itu bisa dikerjakan oleh beliau dengan sangat baik. Menghadapi kemanjaan Pak Bei, menggembleng putra-putrinya menjadi pribadi-pribadi yang berhasil, mengelola rumah tangga, sungguh banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Bu Bei.

Satu ketika, Bu Bei mengandung lagi. Ini yang tidak disangka-sangka oleh semua orang termasuk Pak Bei. Kandungan itu menimbulkan tanya di antara para bangsawan dan buruh yang tentu saja hanya berani berbisik-bisik. Jabang bayi perempuan yang tak secantik dan seelok saudara-saudaranya pun lahir, dialah Subandini Dewaputri.

Mula-mula, Pak Bei enggan menerima bayi kecil ini. Namun, seiring berjalannya waktu, justru Subandini atau Ni yang lebih banyak mendapatkan perhatiannya. Beliau pun menerima Ni dengan perasaan yang sama terhadap putra-putrinya yang lain.

Ni kemudian tumbuh dan menjadi seorang sarjana farmasi. Persis seperti ayahnya, Ni, juga menjadi seorang yang aeng alias aneh. Alih-alih menjadi seorang apoteker seperti jenjang pendidikan yang ditempuhnya, ia justru memilih untuk melanjutkan usaha ‘Batik Canting’. Sebelum itu, Ni, berkata pada keluarganya, bahwa ia tak ingin menghadiri wisuda kelulusannya. Baginya, bila hal itu tak penting, maka tak perlulah ia datang. Kemudian, ia yang sudah berencana akan menikah dengan kekasihnya, Himawan, pun memilih untuk tak mengikuti Himawan ke Batam. Tak seperti mbakyunya yang mengikuti tugas sampai Merauke, Ni malah memilih untuk menggantikan ibunya mengurus Batik Canting.

Keputusan Ni ini tentu saja ditentang oleh semua anggota keluarga, kecuali Pak Bei. Bagi beliau, apabila itu baik maka lakukanlah. Keputusan Ni itu justru memberikan dampak yang sangat hebat bagi Bu Bei. Bagi beliau, apa yang akan dilakukan Ni dengan Batik Canting, kecintaannya pada para buruh, semua perhatiannya itu, justru seperti membuka luka lama: kecurigaan bahwa Ni bukan anak biologis Pak Bei.

Barangkali apa yang menjadi keputusan Ni itu begitu sulit diterima oleh Bu Bei. Beliau pun jatuh sakit sampai dengan meninggal.

Sepeninggal Bu Bei, Batik Canting memang dikelola oleh Ni. Benar-benar sebuah keputusan yang nekat. Dia tak paham sama sekali dengan seluk beluk usaha batik. Mulai dari mengkoordinir buruh-buruh batik, memasarkan batik itu di pasar, mencari pelanggan, sampai hal-hal lain yang terkait. Dia benar-benar bermodalkan tekat semata. Kondisi makin runyam manakala batik cap mulai menggusur pasar Batik Canting. Harganya yang murah, kecepatan produksinya juga tak bisa ditandingi oleh batik tulis seperti Batik Canting. Ni pun pusing tujuh keliling.

Dari sisi para buruh, Ni dipandang sebagai pengambil keputusan. Semua serba terserah, sumangga, mangga kersa, Ni. Ini yang memberatkan hatinya. Kendati banyak di antara buruh-buruh batik itu jauh lebih berpengalaman, namun mereka memilih menunggu Ni yang mengambil keputusan. Lagi pula, perkembangan batik cap tak bisa mereka ikuti. Mereka tak paham hal itu.

Dari sisi saudara, Ni pun mendapat perlawanan yang alot. Ada kakak iparnya perempuan yang merasa lebih mampu mengurus batik. Semenjak keputusan Ni dahulu itu untuk mengurus batik daripada melakukan hal lain yang sesuai dengan sekolahnya, Ni dipandang kurang waras oleh kakak-kakaknya.

Dari saudara sepupunya, Ni pun dimusuhi karena memutus tunjangan bulanan untuk mereka. Tunjangan bulanan ini dahulu sewaktu Bu Bei masih sugeng selalu diberikan kepada keluarga adik-adik Pak Bei. Namun semenjak Ni yang memegang keuangan keluarga Ndalem Ngabean Sestrokusuman, tunjangan itu pun tak lagi sampai. Oleh saudara-saudara jauhnya, Ni dipandang gila.

Dan yang paling parah adalah Himawan, calon suami Ni. Dia pun mulai meragukan kemampuan Ni untuk mengelola Batik Canting. Dia bergabung dengan kakak-kakak Ni agar merelakan Batik Canting untuk dikelola orang lain atau sekalian dijual. Aduh!

Rupanya hanya Pak Bei yang tetap menaruh kepercayaan kepada Ni, bahwa ia sanggup mengemban tugas. Pak Bei tak menuntut apa pun. Bahkan kalau pun Ni gagal, dia tak menyalahkan Ni. Semua sudah dipasrahkan kepada Ni.

Semua hal yang terjadi itu membuat Ni akhirnya jatuh sakit. Hampir-hampir ia menemui ajal kalau tidak karena Pak Bei yang mendoakannya dan memberikan kekuatan.

Pada akhirnya, Ni menemukan sebuah cara untuk mempertahankan usaha batik keluarganya. Dari buruh-buruhnya ia belajar. Sedikit demi sedikit, kehidupan Ni, Pak Bei, buruh-buruh, dan usaha batik pun kembali lagi ke jalurnya.

4. Kelebihan dan Kekurangan Buku
Menurut saya, Canting sangat bagus menggambarkan sebuah keluarga Jawa. Seorang ayah yang sangat berwibawa, bahkan sekadar gerakan alisnya pun sudah menciutkan nyali putra-putrinya. Kendati demikian, ayah yang sama juga sangat menyayangi dan melindungi keluarganya.

Dituliskan dalam Canting, “menjadi ayah itu juga harus menanggung malu—di samping kebanggan—atas apa yang diperbuat anaknya.” Dalam Canting, selain keberhasilan putra-putri Pak Bei, masing-masing dari mereka rupanya memendam kisah kelam. Semua itu, kebanggan dan juga persoalan yang terkadang memalukan harus ditelan oleh Pak Bei, diterima, menjadi tanggung jawabnya.

Di sisi lain, Canting menggambarkan dengan gamblang bagaimana bangunan hubungan dalam sebuah keluarga Jawa. Sebagai contoh, kemarahan yang tak pernah ditujukan secara langsung. Dalam budaya Jawa, simbologi, sindiran dan sikap lebih banyak digunakan. Seseorang harus tahu tanpa diberitahu. Budaya semacam ini, barangkali akan sukar diterima oleh keluarga lain bukan dari Jawa yang membangun hubungan dalam keluarga dengan kelugasan dan ketegasan tanpa jalan memutar.

5. Kesimpulan
Buku ‘Canting’ ini sangat bagus sebagai sebuah pembelajaran bagi siapa saja yang ingin membangun keluarga yang baik. Di dalamnya banyak nasihat yang disampaikan tanpa ada kesan menggurui. Semua petuah bijak itu dijahit dengan baik menjadi bagian tak terpisahkan dari kisah.

Akhirnya, selamat membaca.

6. Kutipan dari Canting

Ki Ageng Suryamentaraman mengajarkan bahwa rasa damai sejati, rasa bahagia tanpa syarat, adalah kalau kita bisa melepaskan perasaan- perasaan yang kita buat sendiri. (11)

==

Arti pasar bagi Bu Bei

Bagi kaum wanita, pasar adalah karier. Adalah karya. Adalah kantor. Bu Bei berdandan sepantas mungkin, seperti mereka yang bekerja di kantor swasta. Pasar adalah dunia wanita yang sesungguhnya. Dunia yang demikian jauh berbeda dari suasana rumah. Bu Bei berubah jadi direktur, manajer pelaksana yang sigap. Pasar adalah kantor bagi kaum wanita. Berhubungan dengan orang-orang yang sering sama. Yang diketahui dan mengetahui. Berhubungan dengan kantor-kantor atau kios lain, juga ikut menghitung berapa untung dan rugi kios lain. Pasar adalah asrama bagi atlet-atlet wanita sekaligus stadion tempat perlombaan diadakan. Pesaing diamati dengan teliti, persaingan tajam terjadi setiap detik. Rekor-rekor terlampaui. Kecurangan demi keculasan bisa terjadi. Pasar adalah panggung, di mana wanita-wanita yang di rumah memegang peran pembantu, menjadi yang nomor satu. Di mana ibu-ibu menjadi sadar akan harga dirinya, daya tariknya, haknya untuk menentukan, dan berbuat apa maunya. (42-44)

==

Arti Menunggu bagi Bu Bei

Menunggu dalam sikap Bu Bei, bukanlah sesuatu yang berat dan mengimpit. Bukan sesuatu yang harus diisi dengan menggerutu seperti pada generasi Wahyu. Menunggu adalah bagian yang penting dalam sikapnya. Menunggu sama pentingnya dengan perubahan itu nantinya. Perut dalam kandungan menunggu untuk lahir. Manusia hidup menunggu untuk mati. Kehidupan justru terasakan dalam menunggu. Makin bisa menikmati cara menunggu, makin tenang dalam hati. (80)

==

Arti Menunggu bagi Bu Bei

Menunggu adalah pasrah. Menunggu adalah menerima nasib, menerima takdir. Menjalani kehidupan. Bukan menyerah, bukan kalah, bukan sikap pandir. Pasrah ialah mengalir, bersiap menerima yang terburuk ketika mengharap yang terbaik. (86)

==

Pesan Pak Bei tentang Perekonomian

Di Pasar Klewer ada Cina, ada santri, ada priyayi, tetapi tetap kaum wanita yang memegang peran. Yang mengendalikan seluruh pasar. Inilah kesalahan ekonomi kita sebenarnya. Bapak-bapak yang tidak ahli, hanya karena kuasa sok mengatur. Biar saja. Serahkan kepada kaum wanita. Mereka bisa mengatur dengan baik. Yang namanya pasar itu memang dunia wanita. Kalau tidak bisa luwes, tak akan jadi. Kalau bapak-bapak yang pegang, akan tergoda perawan dan amblas. Tapi mana ada pengusaha wanita tergoda jejaka dan usahanya gulung tikar? Bahkan rumah tangganya tetap utuh. Kukuh. Hambatan terbesar kaum pria dalam usaha ialah tergoda wanita dan tergoda harta untuk bisa kaya mendadak. Berarti dua. Sedangkan bagi wanita yang berusaha, tidak ada godaan pria. Godaannya hanya kaya mendadak. Wanita lebih sabar, jadi lebih bisa menahan diri. (93-94)

==

Sikap Wagiman, Buruh Batik

Wagiman tak menuntut apa-apa. Ia tahu apa yang menjadi haknya, lewat jalan apa pun akhirnya akan jatuh ke tangannya pula. Sebaliknya apa yang belum menjadi miliknya, diberikan di depan mulut pun akan jatuh ke tanah. Gusti Allah sudah mengatur semuanya. (140)

==

Sikap Wagiman, Buruh Batik

Wagiman merasa, bahwa pengabdian dirinya adalah bagian yang pokok dari mengutarakan rasa bersyukur. Kepasrahan–penyerahan secara ikhlas—adalah sesuatu yang wajar. Bukan kalah, bukan mengalah. (161)

==

Kata Susetyo, Suami Wening, kakak Ni

Sebuah perahu memerlukan satu kapten kapal. Sebuah pementasan memerlukan seorang sutradara. Lebih mudah mendengarkan satu orang yang memerintah daripada dua atau lebih. Mbakyumu Ning berdarah Sestrokusuman seratus persen. Juga dalam berdagang. Bu Bei telah menitis kepadanya. Bu Bei dan Pak Bei sekaligus. Tetapi itu tidak berarti segalanya bisa diatasi. Makin perkasa seseorang, makin sukses seseorang, makin membutuhkan orang yang dekat. (177-178)

==

Ni kepada Himawan

Kamu jawa yang medok. Lelaki jawa yang sempurna. Waktu saya bilang saya tak jadi ke wisuda, kamu tidak sepenuhnya menyetujui tapi bisa menerima. Waktu saya bilang saya mau mengurusi batik, kamu mempertanyakan, tapi bisa mengerti. Tapi waktu saya katakan itu berakibat saya tak ikut ke Batam, kamu berkeberatan. (206)

==

Kesan Pak Bei menjadi Ayah

Tapi, menjadi ayah itu juga harus menanggung malu—di samping kebanggan—atas apa yang diperbuat anaknya. (243)

==

Catatan Ni Setelah Dimarahi Pak Bei

Pertanyaan, peringatan, atau bahkan kemarahan yang paling dahsyat pun kadang diucapkan secara menikung. Jarak terdekat dua titik bukanlah garis lurus, melainkan garis lengkung. (246)

==

Catatan Pak Bei

Ki Ageng Suryamentaraman memberikan teladan dari tradisi Jawa yang menenteramkan. Pasrah, sebagai sikap hidup. Pasrah itu menerima.(250)

==

Catatan Pak Bei Setelah Seorang Putranya Pindah Agama

Agama itu bukan untuk diperdebatkan seperti itu. Agama itu untuk diterima. Mau menerima atau tidak. Kita bisa menerima atau menolak kalau kita punya sikap pasrah. (251)

==

Sikap Pak Bei Setelah Bu Bei Meninggal Dunia

Pak Bei sendiri yang naik ke atap, dan membuka genting.

Karena Bu Bei meninggal hari Sabtu, dan menurut kepercayaan orang yang meninggal hari Sabtu lebih suka mengajak anggota keluarga yang lain. Maka, untuk menangkalnya, dibukakan genting agar nanti pada selamatan empat puluh hari, sukmanya bisa lepas ke langit tingkat tujuh melalui lubang tersebut.

Ni yang memegangi tangga.

Dan tetap memegangi tangga ketika Pak Bei berada di atas. Itulah Pak Bei. Melakukan sendiri apa yang dianggapnya baik. Ni makin mengerti bahwa ayahnya memang lain. Kalau sendoknya jatuh, Pak Bei akan menunggu sampai Bu Bei mengambilkan sendok itu lebih dulu. Dan tak akan melanjutkan makan dengan sendok baru yang bersih. Ni kadang kesal dengan sikap itu. Rasanya, ayahnya sangat manja dan pemalas sekali.

Kalau ada abu rokok yang jatuh di bajunya pun, ia enggak untuk segera menepisnya. Handuk yang tak tergantung sempurna di kamar mandi menyebabkan ia urung mandi. Teh yang telah menjadi sehangat air untuk mandi akan membuat Pak Bei tak jadi membuka tutup gelas.

Akan tetapi, sekali ini memanjat sendiri.

Pak Bei akan tetap melakukan walaupun menganggapnya sebagai omong kosong yang tak ada artinya.

“Kita bisa menertawakan. Boleh saja. Tak ada yang melarang menertawakan budaya seperti ini—justru karena budaya Jawa juga selalu menertawakan budaya bukan jawa. Tapi kita bisa menuruti. Tak ada salahnya. Tak ada yang melaraang. Budaya seperti inilah sesungguhnya budaya Jawa. Kamu bisa melakukan kalau mau, dan tak usah melakukan kalau malu. Setiap usaha rasionalisasi hanya akan membenarkan hal-hal yang tidak rasional. Inilah kemenangan dan juga kekalahan yang menyenangkan, karena memberi makna. Ana tegese. (269-270)

==

Catatan Pak Bei

Saya ini seperti pegawai Keraton zaman dulu. Disebut pangreh praja, jadi artinya tukang ngereh, tukang memerintah, menyuruh, mengomando. Istilah itu sekarang sudah berubah menjadi pamong praja, yang artinya ngemong, mengemban tugas, melayani. (277)

==

Kesan Pak Bei pada Bu Bei, Disampaikan pada Putra-Putrinya

Ibumu berhasil menyatukan suara hatinya dengan tindakan suaminya.

Ibumu berhasil menyatukan suara hatinya sebagai wanita dengan suara hati seorang istri.

Ini yang luar biasa. Ini sebabnya saya menganggap ibumu adalah wanita yang bahagia, lahir maupun batin. (280)

==

Kesan Pak Bei pada Bu Bei, Disampaikan pada Putra-Putrinya

Ibumu tak pandai menyusun kata-kata. Saya bahkan lupa apakah ibumu pernah sekolah atau tidak. Tapi bisa baca tulis sedikit-sedikit. Tapi lebih dari itu semua bisa mengerti, bisa menangkap suasana, bisa menyatukan perasaannya. (282)

==

Kesan Pak Bei pada Bu Bei, Disampaikan pada Putra-Putrinya

Dalam pasrah tak ada keterpaksaan. Dalam pasrah tidak ada penyalahan kepada lingkungan, pada orang lain, juga pada diri sendiri.

Kalian tahu bahwa ibumu begitu sederhana sikapnya, tapi juga begitu dahsyat kemampuannya untuk menyatukan rasa hatinya. Dengan rasa hati saya, ngabehi yang tampan, yang mengerti bahasa-bahasa asing, yang pernah berfoto dengan Bung Karno, yang semua ini tak terbayangkan dalam dunia ibumu.

“Ibumu memang hebat, luar biasa.

Saya tak mengatakan ini di depannya karena itu tak ada gunanya.

Tapi saya tahu, ibumu tahu apa yang tidak saya katakan.

Ini salah satu kunci kalau kalian ingin memahami arti kehadiran ibumu. Perwujudan nyata sikap pasrah dalam tindakan. (283)

==

Catatan Tentang Canting

Ada canting cecek yang membuat cecek atau titik-titik, serta untuk membuat rembyang, titik yang berurutan dan seirama. Ada canting klowongan untuk membuat garis lingkaran atau lengkungan, ada canting sawutan, yang bisa pula untuk membuat galar, atau garis-garis. (342)

==

Kesan Ni pada Para Buruh, Sebuah Pembelajaran

Mereka ulet dan temen, atau jujur. Keuletan yang diperoleh karena untuk mendapatkan diperlukan keuletan yang luar biasa liat. Satu senti demi satu senti, atau bahkan satu mili demi satu mili—seperti membuat cecek—dari satu proses yang panjang. Sejak masih kain sampai bisa dipakai sebagai kain, melibatkan puluhan tenaga dan waktu yang bisa mencapai tiga bulan. (358)

==

Sikap Buruh yang Memusingkan Ni

Sumangga, terserah. Semua diserahkan kepadanya. Ke tangan Ni. Ini yang memberati dan membuatnya letih. Dalam segala hal selalu ada sumangga atau mangga kersa, sebagai penyerahan yang total. Sebagai pemberian kepercayaan yang mutlak dan menyeluruh, karena yakin yang di atas akan berbuat baik. Sebagaimana mereka berbuat.

Sumangga bukan sikap yang terpengaruh oleh inflasi, devaluasi, pertimbangan, dan kecurigaan. Sumangga adalah sikap pasrah membahagiakan lahir maupun batin.

Semua berjalan dengan sendirinya. Mengalir begitu saja seperti air sungai. Kesetiaan air sungai walau menjauhi sumbernya, kesetiaan ketika mengalir ke muara. (361)

==

Kesan Ni pada Pak Bei

Pak Bei adalah Pak Bei. Pak Bei bukan hanya ayah yang mempunyai wibawa. Bukan hanya pemimpin rumah tangga. Pak Bei adalah Pak Bei. Pusat kegiatan. Sumber dan sekaligus penentu. Menyatu. Pak Bei adalah raja. Penguasa dan tunggal. Dehemnya, senyumnya, cibiran bibirnya, diamnya, semuanya mempunyai pengaruh lebih daripada sekadar gerakan otot-otot tubuh.(380)

==

Pesan Pak Bei pada Putra-Putri

Dalam kehidupan tradisi kita ini, tak ada klimaks dan anti klimaks. Mengalir saja. Menggelinding saja. Ni bisa gagal, bisa bubar, bisa sebaliknya dengan biasa-biasa saja. Betul lho. (386)

==

Jalan Keluar bagi NI, Belajar dari Buruh

Mereka inilah sesungguhnya manusia-manusia perkasa yang masih bisa mendongak menatap matahari, dengan wajah menunduk. Mereka inilah yang menemukan cara hidup yang tetap terhormat, dengan menenggelamkan diri. Mereka inilah sesungguhnya gambaran dan jalan bagi Batik Canting kalau mau hidup dan terus berkembang. (401)

Cara bertahan dan bisa melejit bukan dengan menjerit. Bukan dengan memuji keagungan masa lampau, bukan dengan memusuhi. Tapi dengan jalan melebur diri. Ketika ia melepaskan Cap Canting, ketika itu pula usaha batiknya jalan. (403)

Gambar dipinjam dari sini

4 Replies to “Review: Canting”

  1. waaaah resensi yang bagus dan lengkap sekali sehingga bisa membangkitkan ingatan akan buku yang sudah lama sekali aku baca. Aku baca cetakan th 1986, sekitar tahun 1997 hehehe.

  2. I would like to express my ateocfifn for your kind-heartedness giving support to those individuals that absolutely need help with the question. Your special commitment to passing the message along was really beneficial and have continually helped most people much like me to achieve their targets. Your own important instruction entails so much a person like me and substantially more to my fellow workers. Many thanks; from each one of us.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *