Review: Ibunda dan Canting

laborSaya kurang tahu, apakah ada manfaatnya atau tidak untuk membandingkan perjuangan buruh di Rusia dan Indonesia. Sumber saya pun bukan buruh langsung. Saya hanya membaca dua buah buku yang kebetulan bercerita soal buruh. Jadi, anggap saja ini sekadar untuk tambahan pengetahuan Saudara saja, hehe.

Buku pertama adalah terjemahan novel ‘Ibunda’ karya Maxim Gorki yang dialihbahasakan oleh Pramoedya Ananta Toer. Di blog ini, saya pernah membuat catatan singkatnya di tautan ini.

Ibunda bercerita tentang Pelagia Nilovna, seorang ibu dari buruh bernama Pavel Vlassov. Sosok ibu tersebut harus merelakan putra kesayangannya, Pavel, untuk memperjuangkan hak-hak buruh. Bahkan, Ibu itu harus pula bergerak mendukung perjuangan anaknya.

Pavel bersama kawan-kawannya aktivis buruh sudah muak dengan kesewenang-wenangan penguasa, dalam hal ini pemerintahan Tsar dan pemilik pabrik tempatnya bekerja. Diam-diam mereka melakukan pertemuan. Diam-diam mereka menyebarkan selebaran yang berisi provokasi dan ajakan untuk melawan.

Selebaran itu dibagikan kepada sesama buruh, tentu saja secara sembunyi-sembunyi. Niat Pavel memang harus membuat para buruh itu mengerti, kata dia, “Kita harus bergerak, namun, terlebih dahulu kita harus membuat pintar mereka, para buruh itu.”

Pada satu perayaan May Day, Pavel dan buruh-buruh lain melakukan pawai, menyuarakan aspirasinya. Dalam kesempatan itu, Pavel ditangkap oleh polisi yang menjadi kepanjangan tangan para penguasa. Setelah itu, dia kemudian dijebloskan ke penjara.

Ibunda kemudian terpanggil untuk mendukung kerja putranya. Dia pun turut menyebarkan selebaran kepada buruh-buruh.

Pavel sebagai seorang buruh dicitrakan sangat berani. Ketekunannya belajar, membuat dirinya didengar oleh para aktivis dan buruh lain. Dia bahkan bisa mengalahkan adu argumen dengan para penegak hukum dalam sebuah pengadilan yang telah diatur sebelumnya. Kendati pada akhirnya dia harus menerima hukuman buang ke Siberia, namun kesadaran perlawanan di kalangan buruh itu telah menyebar seperti wabah yang terus meluas. Gerakan itu siap menerkam kesewenang-wenangan penguasa.

==

Satu buku lagi berjudul ‘Canting’ karya Arswendo Atmowiloto yang bercerita tentang jatuh bangunnya sebuah usaha batik tulis Canting. Dalam buku tersebut diceritakan bagaimana perjuangan buruh-buruh batik di Solo.

Lain di Rusia, lain pula Solo. Di pabrik batik Canting yang memiliki buruh lebih dari seratus itu, perjuangan dilakukan lebih banyak dengan diam dan dalam bentuk sikap pasrah.

Adalah Wagiman, seorang buruh batik yang tak menuntut apa-apa. Ia tahu apa yang menjadi haknya, lewat jalan apa pun akhirnya akan jatuh ke tangannya pula. Sebaliknya apa yang belum menjadi miliknya, diberikan di depan mulut pun akan jatuh ke tanah. Gusti Allah sudah mengatur semuanya. (140)

Begitulah sikap seorang buruh batik. Dia pasrah pada rezeki yang sudah digariskan oleh Tuhan. Lebih jauh, menjadi buruh bagi Wagiman adalah sebentuk pengabdian kepada ndoronya, tuannya.

Wagiman merasa, bahwa pengabdian dirinya adalah bagian yang pokok dari mengutarakan rasa bersyukur. Kepasrahan–penyerahan secara ikhlas—adalah sesuatu yang wajar. Bukan kalah, bukan mengalah. (161)

Apakah tindakan Wagiman yang nerimo dan pasrah itu berhasil melawan kekuasaan penguasa?

Ni, bos Wagiman bukanlah jenis bos yang semena-mena. Ia sangat memerhatikan kesejahteraan karyawannya. Bahkan, terkadang ia bingung sendiri dengan tingkah mereka yang serba nerima, serba monggo atas keputusan-keputusan dari Ni.

Saat usaha batik tulis Canting mengalami kemunduran karena ada batik cap yang lebih cepat berproduksi dan harganya murah, Ni meminta pendapat dari buruh-buruhnya. Dia bingung bagaimana harus menggaji mereka, rasionalisasi harus dilakukan, artinya pengurangan gaji. Apa yang dilakukan oleh buruh itu adalah menerima keputusan tersebut tanpa mempertanyakan.

Sikap mereka ini justru yang membingunkan Ni.

==

Demikian perbandingan buruh berdasarkan dua buku yang telah saya baca. Tentu saja bukan perbandingan apel ke apel. Majikan yang berbeda, iklim usaha yang lain, penguasa pemerintahan yang tak sama, sikap hidup dan lain-lain menjadi dasar perbedaan di antara buruh-buruh itu.

Picture

2 Responses

  1. I would like to express my aifoctfen for your kind-heartedness giving support to those individuals that absolutely need help with the question. Your special commitment to passing the message along was really beneficial and have continually helped most people much like me to achieve their targets. Your own important instruction entails so much a person like me and substantially more to my fellow workers. Many thanks; from each one of us.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: