Review: A Christmas Kiss

Laura Breckenridge sebagai Wendy Walton

Tak ada yang membosankan dari lagu-lagu natal, begitu juga dengan film-film yang biasa diputar di saat natal. Pas naik kereta menuju ke Semarang kemarin, di kereta diputar kembali ‘Home Alone’. Kebetulan karena ngga ada kerjaan, saya pun mengikuti benar film lawas ini. Saya tertawa, bahkan rasanya sampai dilihat oleh penumpang lain. Menjelang Kendal, tiba-tiba listrik mati, alhasil AC pun mati, dan yang paling parah film ‘Home Alone’ juga mati menjelang puncak penjebakan pada dua penjahat. Uh, saya sebal sekali.

Kemudian malam ini, saat saya menggangi-ganti saluran di tv, tak sengaja saya melihat di Diva Universal yang memutar ‘A Christmas Kiss’. Saya baca sinopsis singkatnya, begini bunyinya, “Setelah secara tak sengaja mencium kekasih atasannya, seorang perancang muda asal Boston mempertaruhkan kariernya saat ia mulai jatuh cinta pada kekasih sang atasan.” Hmm… sepertinya menarik.

Saya memang tertinggal acara mencium tak sengaja di dalam lift pada awal film. Namun, saya masih menangkap seluruh cerita.

Diawali dari sebuah pesta natal yang akan diadakan oleh Adam Hughes, desain interior untuk pesta itu dipercayakan pada kekasihnya Priscilia Hall. Nona Hall, kemudian dibantu oleh asistennya, yaitu Wendy Walton.

Adam ingin sebuah pesta yang mengembalikan kenangannya kepada Sang Nenek yang begitu berarti untuknya. Priscilia pun kemudian menyodorkan rancangan dekorasi interior darinya. Sayang, desain itu tak disukai Adam. Pada saat yang sama, Wendy menawarkan desain lain, yang sangat tradisional dan menjijikkan bagi Priscilia. Namun, desain seperti itulah yang justru diinginkan oleh Adam.

Priscilia jenis orang yang tak mau menyia-siakan kesempatan. Dia pun segera mengaku bahwa desain dari Wendy itu adalah desain darinya. Melihat dan mendengar pengakuan itu, Wendy hanya bisa tersenyum kecut dan membiarkan atasannya itu berbuat sesuka hatinya.

Kemudian waktu bicara lain, karena suatu sebab, Priscilia harus pergi. Tinggallah Adam dan Wendy berdua menyelesaikan dekorasi pesta.

Adam di sisi lain, sedang galau. Dia sudah menyiapkan sebuah cincin pertunangan dengan Priscilia, namun ia tak yakin. Charlie, teman Adam, mengatakan, “Kau harus bisa membedakan antara ketegangan dan debaran saat kau mengira sedang jatuh cinta.”

Saat bersama antara Adam dengan Wendy itu diisi dengan memilih pohon natal, naik kereta kuda, dan menghabiskan waktu bersama menonton film-film Natal kesukaan Wendy. Esok harinya, dua orang ini tertidur di depan televisi dan tak menyadari kedatangan Priscilia.

Apakah Priscilia akan marah? Bagaimana kelanjutan hubungan Wendy dan Adam? Hmmm…. sebuah cerita yang cantik, secantik Wendy.

Sumber gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: