Review: Madre (Layang-layang)

“Kamu benar. Ternyata kita sama, Che. Aku dan kamu sama-sama manusia kesepian. Bedanya, aku mencari. Kamu menunggu.”

Kata itu diucapkan dengan lirih oleh Starla kepada Christian, dua tokoh dalam cerita pendek ‘Menunggu Layang-layang’ yang ada dalam ‘Madre’ karya Dee.

Christian atau Che adalah sahabat karib Starla. Dia seperti robot, bangun tepat saat jam wekernya berbunyi pada pukul 05.45. Dia mandi dengan campuran air dingin dan panas yang suhunya sama bertahun-tahun. Agak menggelikan sebenarnya bagaimana usahanya untuk mencapai suhu yang sama ini, dia menandai putaran kran air panas dan air dingin. Tak hanya itu, dia juga memiliki takaran yang sama untuk kopi yang diminumnya setiap pagi. Setelah itu, dia sarapan dengan menu yang sama, berangkat ke kantor dan pulang dalam waktu yang sama.

Che adalah tempat sampah bagi Starla.

Nah, sekarang Starla. Ia cantik dan tak peduli dengan kecantikannya. Biarpun demikian, semua lelaki di restauran akan memalingkan wajah menatap sosoknya. Biarpun tak peduli, namun Starla tahu betul bagaimana memanfaatkan kecantikannya untuk menggaet berbagai macam lelaki yang disukainya. Musisi, kontraktor, pemain basket, siapa saja yang menarik hatinya akan ditarik.

Hubungan kemudian terjalin, namun itu tak lama, namun sering terjadi, hal yang dihapal benar oleh Che. Oya, panggilan Che adalah panggilan khusus dari Starla kepada Christian. Manakala Starla sudah selesai dengan seorang lelaki dan dia kembali sendiri, maka ia akan bercerita pada Che. Christian di lain sisi, adalah seorang penyendiri yang menjadikan rutinitasnya sebagai pelarian dari sepi. Baginya, cerita Starla cukup menjadikan hidupnya sedikit berwarna.

Masalah muncul manakala lelaki yang digaet Starla adalah Rako, sahabat karib Christian. Che sudah paham bagaimana hubungan itu akan berakhir. Namun, Rako seperti dibutakan oleh kecantikan Starla. Dia tetap keras kepala menjalin hubungan.

Starla seperti layang-layang yang terbang kemudian putus lantas hinggap dan ditemukan orang. Dia diterbangkan lagi, putus lagi dan kemudian hinggap lagi. Layang-layang itu seperti mencari sesuatu yang tak kunjung ketemu.

Che seperti pemimpi yang ingin mengetahui bagaimana rasanya air itu, namun tak berani untuk terjun. Dia hanya berdiri menonton di pinggir dan berharap kecipratan.

Che dalam kesendiriannya yang monoton, sementara Starla di lain sisi dalam kesepiannya yang riuh. Akankah keduanya bertemu selayaknya layang-layang dan benang yang mengikatnya ke bumi?

Sumber gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *