Review: Madre

Buku itu sudah cukup lama berada di rak buku. Seperti nasib buku baru yang lain, dia hanya terpajang di sana belum sempat dibaca. Sampulnya masih utuh.

Kemarin, karena harus pergi cukup lama dari rumah, saya memasukkannya ke dalam tas. Sebagai pengisi waktu selama berada di tempat tujuan, karena di sana pasti tak ada bahan bacaan, mengingat koran langganan pun tak ada.

Saya baca secuplik kisah di bagian belakang dan semacam pengantar. Saya ngga ngerti. Buku itu berjudul Madre, karya Dee atau Dewi Lestari. Di pengantar saya baca, katanya buku ini terdiri dari 13 cerita pendek. Wah, akan seperti ‘Filosofi Kopi’ ini.

Perlahan-lahan saya baca dan sudah selesai kisah pertama yang berjudul ‘Madre’. Aih, saya senang sekali. Cerita Madre seperti menguarkan kebahagiaan dan semangat dalam diri saya. Ini jenis cerita yang bisa membuat senang siapa saja yang membaca. Larut ke dalam ceritanya.

Madre adalah biang roti, bahan dasar untuk membuat roti. Kata ‘Madre’ berasal dari bahasa Spanyol yang berarti Ibu. Madre memang berkisah tentang roti, tepatnya toko roti kuno yang mati suri.

Di sana diceritakan, bagaimana Tansen bersama Pak Hadi dan para pembuat roti yang lain dengan dibantu oleh seorang peri bernama Mei bahu membahu untuk menghidupkan lagi toko roti kuno itu. Hampir saja toko roti itu tutup, namun semangat yang saling menguatkan di antara tokohnya membuat toko itu bangkit perlahan dari kematiannya.

Seringkali saya hanyut dalam kisahnya. Bersicepat ingin segera menyelesaikan satu kisah itu, namun pada saat yang sama juga mengulang lagi membaca, menikmati detil cerita, petuah yang diselipkan, atau humor renyah yang disajikan. Mendadak, saya bisa termenung, berpikir, tertawa terbahak-bahak.

Seperti biasa, saya selalu mencatat apa yang menarik dari sebuah buku. Sekadar kalimat yang berpengaruh dan membuat kutipan-kutipan. Berikut ini pun akan saya sajikan untuk Anda beberapa kutipan yang menarik dari Madre. Selamat membaca.

Diawali dari pengantar buku ini oleh Sitok Srengenge yang berperan sebagai Editor, dia menulis, “Penulis yang baik konon bekerja mulai dari apa yang ia tahu. Penulis yang lebih baik mestinya memperkaya apa yang ia tahu itu dengan banyak hal yang orang lain belum tahu.” (Madre, Halaman ix)

Tak ragu, dalam sambutannya Dee membagi rahasianya, “Sebagaimana lazimnya karya kreatif, saya kerap memulai proses berkarya dengan bertanya.” (Madre, Halaman xiii)

Nah, berikut ini yang menarik dalam cerita pendek pertama ‘Madre’

“Sekali seminggu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk mengisi blog. Bercerita apa saja. Tak ada tema khusus. Karena bagiku, kegiatan itu adalah terapi.” (Madre, Halaman 17)

“Kalau dirawat dengan benar, banyak hal di dunia ini yang makin tua makin berharga. Makin hidup dan malah makin enak.” (Madre, Halaman 20)

“Artisan itu kalau dalam dunia roti artinya pembuat roti profesional dengan skill manual, jadi segalanya dibikin dengan tangan.” (Madre, Halaman 47)

“Ndak ada yang kebetulan. Percayalah, jalannya memang harus begitu.” (Madre, Halaman 66)

“Rumah adalah tempat di mana saya dibutuhkan.” (Madre, Halaman 71)

Sumber gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: