Kiat: Mengenali Jenis-Jenis Asuransi

Bicara soal asuransi sama saja bicara soal risiko. Risiko sendiri adalah peluang mengalami kerugian. Umumnya, risiko melekat pada pelaku perbuatan yang mengandung risiko tersebut, meski akibat perbuatan itu orang lain juga bisa dirugikan.

Oleh sebab itu, jarang ada orang yang mau mengambil alih risiko orang lain. Pengalihan risiko bisa dibisnikan. Asuransi adalah bisnis pengalihan risiko itu. Perusahaan asuransi “suka rela” mengambil alih risiko yang aslinya tidak diakibatkan oleh perbuatan mereka.

Pengambilalihan risiko ini tentu saja tidak cuma-cuma. Perusahaan asuransi berani mengambil risiko karena mengharapkan pendapatan berupa uang dari orang yang ingin  mengalihkan risikonya. Orang yang mengalihkan risiko kepada perusahaan asuransi biasa disebut nasabah atau pemegang polis. Akan halnya biaya yang dibayarkan pemegang polis dan jadi pendapatan asuransi disebut premi.

Polis sendiri adalah kesepakatan antara nasabah dan perusahaan asuransi. Kesepakatan ini adalah perjanjian yang berisi penegasan, bahwa perusahaan akan membayar uang dalam jumlah tertentu apabila nasabah mengalami risiko tertentu. Dengan polis ini, maka bisa ditentukan berapa nilai uang yang akan dibayarkan perusahaan asuransi kepada nasabah.

Para perencana keuangan menyarankan, sebuah keluarga minimal harus memiliki dua jenis asuransi. Pertama adalah asuransi kesehatan untuk semua angota keluarga. Dengan memiliki asuransi kesehatan, keuangan keluarga tidak akan terganggu meski ada anggotanya yang sakit. Kedua, asuransi jiwa bagi kepala keluarga. Asuransi ini akan menjamin kebutuhan keluarga tetap terpenuhi meski penghasil nafkah utama keluarga meninggal.

Tulisan ini adalah rangkuman dari suplemen pada Indonesia Financial Expo & Forum (IFEF) 2012 pada artikel berjudul ‘Asuransi Memberi Jaminan Proteksi’

Sumber gambar

[adsenseyu1]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *