Kiat: Mengurangi Trauma

Lihatlah luka ini, yang sakitnya abadi

Yang terbalut hangatnya bekas pelukmu*

Trauma dalam ilmu psikologi rupanya berarti luka dari pengalaman masa lalu yang sangat menyakitkan hingga seseorang menderita kerusakan fisik maupun psikologis. Sejumlah peristiwa yang tidak menyenangkan kerap menjadi kisah yang membekas dan sulit dilupakan.

Reaksi yang disebabkan karena trauma pada setiap orang berbeda-beda. Reaksi fisik bisa berupa perut nyeri, sakit kepala, atau tubuh lemas. Sementara itu untuk reaksi mental, konsentrasi berkurang, sulit mengingat dan memperhatikan, bahkan bisa berupa ilusi. Reaksi emosi meliputi rasa takut, depresi, tidak nyaman terhadap diri sendiri, serta tidak percaya diri. Reaksi perilaku cenderung menyendiri dan tidak dapat mengontrol emosi.

Trauma ini seperti bola salju. Bila dibiarkan semakin lama menggulung dan kian besar. Jika dipendam, maka beban pikiran akan semakin berat, dan dapat meluap seketika.

Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi trauma:

Berdamailah dengan diri sendiri

Cobalah berani untuk menerima peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dengan ikhlas, seburuk apa pun. Beri waktu untuk merenungi masa lalu, tetapi jangan sampai berlarut-larut.

Wadah pengungkapan diri

Ungkapkan sesuatu yang membebani dengan cara apa pun. Cara yang sederhana bisa dengan menuliskan apa yang dialami ke dalam buku harian.

Tetap berpikir positif

Jangan lupa pepatah, “Anda adalah apa yang Anda pikirkan.” Latih diri untuk berpikir positif agar membawa pengaruh baik pada sikap Anda. Selain itu, jangan menarik diri dari orang sekitar dan lingkungan. Jangan sungkan untuk meminta bantuan orang lain atau kerabat, tetap jalani rutinitas seperti biasa.

Konsultasi dengan pakar

Bagi yang kurang mampu melakukan self healing, segeralah berkonsultasi pada psikolog atau psikiater.

Jangan sampai luka masa lalu menjadi beban hidup Anda. Kurangi akibat trauma, hidup lebih tenang, genggam kembali hidup Anda sendiri.

Tulisan ini adalah rangkuman dari fitur Klasika, Koran Kompas, 07 Oktober 2012, ‘Luka-luka yang Sulit Dilupakan’.

*) Lirik lagu dari Last Child Feat Giselle.

Sumber gambar

3 Responses

  1. saya nggak tahu mengapa saya takut sekali dengan suara dari alat musik yang dipukul, sejak kecil saya akan menangis mendengarnya, jantung saya akan terpacu sangat kencang bahkan saya bisa sesak napas…

    apakah itu termasuk trauma?

  2. saya nggak tahu mengapa saya takut sekali dengan suara dari alat musik yang dipukul, sejak kecil saya akan menangis mendengarnya, jantung saya akan terpacu sangat kencang bahkan saya bisa sesak napas…

    apakah itu termasuk trauma?

    salam kenal dari Pontianak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: