Wisata: Kupang

Di akhir bulan Agustus kemarin, saya disuruh oleh juragan mengunjungi Kupang untuk ini dan itu. Sembari melaksanakan pesan juragan, saya sempatkan diri untuk melihat-lihat dan mencatat ini dan itu.

Lapar adalah hal pertama yang saya rasakan saat baru saja menjejakkan kaki di Kupang. Haha. Penerbangan kurang lebih 5 jam dengan transit di Denpasar dan makanan di dalam pesawat yang tak cukup untuk memenuhi porsi makan cacing di dalam perut telah membuat cacing itu demo di dalam sana. Selain itu, cuaca Kupang yang panas dan berdebu membuat mata lebih cepat mengantuk. Namun, tak elok bukan bila tidur tapi perut masih kosong?

Nah, di depan hotel tempat saya menginap terdapat Warung Lamongan, namun tutup. Ah, kenapa pula mesti tutup. Kemudian di sebelahnya, saya temukan bakso. Jadilah saya makan bakso. Harap jangan tanya bagaimana rasa bakso di sana. Sebab saya lapar, maka apa saja terasa enak. Apalagi cabai di sana benar-benar pedas, wuah… keringat pun keluar banyak jadinya.

Satu hal yang saya catat, bakso di sana dilengkapi dengan telur rebus. Telur itu masih lengkap dengan kulitnya menempati salah satu sudut di gerobak Abang penjualnya. Tentu saja saya meminta agar pesanan saya tak usah ditambah telur. Selain itu, mi-nya pun berbeda. Di sana sama saja mi kuning, namun saya temukan warna kuningnya itu terlalu kuning. Aih, saya khawatir.

Malam beranjak, ahai, rupanya di malam hari Warung Lamongan itu buka. Menunya pun sama dengan di sini, pecel lele, dan kawan-kawan pelengkapnya. Saya bertanya-tanya kemudian, kok tak ada yang istimewa, ya?

Karena penasaran, saya pun kemudian mencoba bertanya ke twitter. Syukurlah, Mas Iman yang sering bepergian dan Seniman Peta yang sepertinya pernah juga ke Kupang mempunyai referensi. Mas iman menyarankan agar saya mencoba seafood. Kalau Seniman Peta menyarankan saya mencoba sup ikan dan es tiga dimensi.

Esoknya saya mencoba sea food dan bukan es tiga dimensi. Saya khawatir dari namanya akan menyebabkan saya memiliki efek tiga dimensi saat melihat segala sesuatu. Halah!

Saya memerhatikan, di Kupang kok penduduk aslinya jarang atau bahkan ngga ada yang gemuk, ya? Rasa penasaran saya itu terjawab saat seorang kolega di sana bercerita, bahwa mereka makan benar-benar tiga kali sehari, dengan menu yang itu-itu saja, dan jarang ngemil. Selain itu, untuk pemudanya memiliki hobi begadang sembari minum-minum.

Seorang teman kerja saya bercerita begini: malam itu ia memerlukan charger hapenya karena lupa tak dibawa. Setelah keluar dari hotel, ia pun menyetop sebuah sepeda motor dan minta diantar membeli charger. Anehnya, teman saya ini diantar bukan hanya satu motor, namun dua buah sepeda motor. Tak urung khawatir pun menyeruak, berharap mereka ini tak bermaksud buruk.

Singkat cerita, charger diperoleh teman tersebut di tempat yang lumayan jauh. Masih dengan dua orang yang sama, ia diantar pulang kembali ke hotel. Selamat tiada kurang suatu apa. Kemudian hal yang mengejutkan terjadi. Dua orang itu tak mau dibayar, padahal teman saya sudah menyediakan uang untuk ongkos ojek. Barulah kemudian teman saya itu sadar, mereka berdua bukanlah tukang ojek, barangkali hanya pemuda yang sedang nongkrong saja.

Dari cerita itu saya pun bertanya-tanya, kenapa kalau di Kupang anak-anak mudanya begitu baik dan tak segan menolong, sementara saat mereka di Jakarta atau di kota lain, perangai mereka jadi berubah?

Pertanyaan saya itu mendapat berbagai macam jawaban. Kalau menurutmu kenapa begitu ya, Sob?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *