Review: What Women Want

What Women WantDi antara negeri-negeri pembuat film, saya jarang-jarang menonton film produksi Bollywood dan Hongkong. Sabtu kemarin, sepulang dari mengantar istri, tak sengaja saya mendapati di Celestial sedang memutar ‘What Women Want’.

Film ini dibintangi oleh Andy Lau sebagai Sun Zigang dan Gong Li sebagai Li Yilong. Dua orang itu masing-masing adalah Direktur Kreatif dan Direktur Eksekutif Kreatif di sebuah agensi periklanan.

Li Yilong adalah karyawan baru di perusahaan tersebut kendati posisi yang ia tempati sangat tinggi. Tentu saja hal ini menimbulkan iri hati bagi Sun Zigang, seorang karyawan lama, namun posisinya kalah dari Li.

Satu hari, Li meminta bawahannya termasuk Sun untuk mencoba sederet produk kecantikan. Entah kenapa, Sun mengikuti perintah ini. Saat di rumah, dicobanya produk-produk untuk wanita tersebut, bahkan termasuk pil KB. Hahaha.

Saat asyik mencoba berbagai barang itu, putri Sun, Doudou pulang bersama kekasihnya. Sun tertangkap basah sedang menari-nari dan mengenakan kosmetik oleh kekasih Doudou. Tentu saja Doudou malu tak kepalang, ia pun protes, kemudian pergi meninggalkan rumah.

Saat Doudou berlari, Sun mencoba untuk mengejar. Namun, sepatu berhak tinggi yang ia kenakan membuatnya terpeleset dan jatuh di kamar mandi. Sesaat sebelum ia jatuh, tangannya menyenggol lampu hias. Lampu tersebut jatuh bersamanya ke dalam bak dan Sun pun kena setrum.

Paginya, Sun membuka mata dan ia berada di sebuah rumah sakit. Saat itu ia mendengar suara-suara aneh. “Dasar lelaki cabul tak tahu malu,” begitu bunyi suara itu. Sementara di sana tak ada seorang pun. Ia mulai takut.

Tak berapa lama, seorang suster memasuki kamar tempat Sun dirawat. Bersama dengan kehadirannya, semakin banyak suara-suara yang bisa didengar oleh Sun. Ia kian bingung. Sampai kemudian ia menyadari, bahwa dirinya telah kerasukan, ia dapat mendengar pikiran-pikiran perempuan.

Menjadi komedi kemudian bagaimana Sun membiasakan diri dengan kemampuan istimewanya itu. Ia ketakutan dan bingung. Sampai kemudian pembantu rumah tangganya mengingatkan, bahwa dengan kemampuannya itu ia bisa memanfaatkan dan menjadi penguasa segala hati perempuan.

Begitulah kemudian Sun pun memaksimalkan kemampuannya. Dalam hubungannya dengan rekan setimnya, dalam hubungannya dengan putrinya, dalam hubungan dengan setiap perempuan karena ia tak bisa mendengar bagaimana pikiran seorang lelaki.

Di antara semua perempuan yang bisa didengar pikirannya, Sun paling intens mendengarkan suara Li Yilong. Kepada wanita satu ini, Sun membuat atasannya ini begitu berbunga-bunga karena merasa selalu dipahami. Pada saat lain, Sun pula yang membuat Li begitu terpuruk dan merasa bodoh.

Ah, dasar Sun, ia telah menyalahgunakan anugerah besar yang diterimanya.

Dari film ini saya jadi paham, bagaimana memahami seorang wanita, yakni dengan mendengar sungguh-sungguh apa keinginannya dan berkata jujur. Menurut Ayah Sun, saat kita berkata jujur pada orang lain, maka orang tersebut akan jujur pula pada kita.

Ini adalah jenis film yang rasa-rasanya akan begitu disukai oleh nona-nona. Saya pun jadi mengerti kenapa mereka suka jenis ini. Menonton film ini terasa dekat, seperti keseharian kita, bahkan barangkali bisa terjadi di antara kita, kendati bukan kemampuannya mendengarkan pikiran orang lain tentu saja.

Satu adegan yang saya suka adalah ketika Doudou memiliki masalah dengan kekasihnya, Sun datang. Ia temukan putrinya itu sedang duduk sendiri. Ia tak bicara, hanya duduk di samping Doudou lama, diam di sana. Kemudian Doudou menyadari kehadiran ayahnya. Pun ia tak berkata apa-apa. Mereka berdua saling pandang. Sesaat kemudian Doudou merebahkan kepalanya di bahu ayahnya, yang bidang, yang menenangkannya.

4 Replies to “Review: What Women Want”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *