Review: Flipped

Flipped-691973198-largeSeperti kebanyakan film yang saya tonton di televisi, Flipped pun saya lihat secara tak sengaja. Tak dari awal benar saya mengikuti film ini, namun sudah cukup memeroleh gambaran latar belakang bagaimana cerita akan berkembang.

Lagi-lagi sebuah kisah yang sederhana rupanya yang saya suka. Tentang bagaimana seorang remaja Julianna Baker dan Bryce Noski bertemu untuk kemudian saling jatuh cinta.

Keduanya tinggal berseberangan di sebuah lingkungan yang asri di Amerika pada medio 1960-an. Keluarga mereka sungguh berbeda, itulah kemudian yang menggerakkan film ini.

Julia Baker adalah seorang gadis yang keras kepala. Ia tak mudah menyerah untuk meraih yang diinginkannya. Ia mempunyai hobi, yaitu duduk di pohon Cyamore yang tinggi. Di sana, akan dilihatnya dunia dan dihirupnya aroma udara yang bersih. Ia bilang, “Tak ada aroma yang seindah itu.”

Sampai kemudian tiba saat pohon itu akan ditebang karena pemilik lahan hendak membangun rumah di sana. Julia kemudian begitu bersedih, ia menangis selama dua minggu. Ia merasa gagal mempertahankan pohon itu dan dunia kecil di atas sana yang menjadi miliknya. Pada saat tukang-tukang itu datang, ia sudah mencoba untuk tak turun sampai ayahnya mesti memanjat dan berbicara dengannya. Kisah Julia ini kemudian masuk koran.

Ayah Julia seorang pelukis, ia senang berbicara dengan putrinya itu sembari melukis. Ia bilang, “Lukisan berbicara tentang keseluruhan. Sapi hanya akan menjadi gambar sapi bila ia sendiri, pun padang rumput yang hanya ada rumput dan bunga. Bahkan, cahaya mentari yang menelusup di antara dedaunan pun akan biasa. Namun, manakala semua hal itu bertemu, saat itulah terjadi keajaiban.”

Nah, sekarang tentang Bryce. Ia lelaki muda yang sedang mencari jati diri. Dalam perkembangannya, ia terus-menerus mendefinisikan hubungannya dengan Julia. Dari suka, benci, suka lagi, benci lagi, dan seterusnya. Bryce tumbuh di bawah bimbingan seorang ayah yang tampaknya kecewa dengan masa lalunya. Ayah Bryce ini, seakan punya dendam yang membusuk di dadanya. Membuat ia selalu sinis pada dunia. Dan, keluarga Parker—keluarga Julia—yang tinggal di seberang jalan adalah salah satu sasaran kebenciannya.

Bryce pun kemudian tumbuh dalam ketakutan. Ia tak berani bicara jujur. Bahkan, ia menjadi seorang yang pengecut.

Satu contoh kepengecutan Bryce adalah saat ia menerima telur dari Julia. Cewek kecil itu memelihara ayam di rumahnya. Ayam ini bertelur banyak sekali sampai-sampai Julia bisa menjualnya. Ia merasa, bahwa telur itu pun harus dibaginya dengan keluarga Bryce yang tinggal di depan rumahnya. Di sini ayah Bryce muncul lagi rasa bencinya. Ia menduga ada virus dalam telur-telur itu. Maka diperintahkannya Bryce untuk mengembalikan telur itu pada Julia.

Hal yang terjadi selanjutnya adalah, tak ada keberanian pada diri Bryce. Ia tak berani dan merasa kasihan pada Julia jika dia harus mengembalikan telur itu. Ia memilih untuk membuang telur itu di keranjang sampah. Hal ini kemudian diketahui secara tak sengaja oleh Julia, sungguh sesuatu yang membuatnya marah.

Flipped kemudian berkembang menjadi kisah peralihan perasaan yang berganti-ganti di antara remaja ini. Senang melihat bagaimana mereka gelisah saat harus bertemu. Sementara itu satu saat lain, mereka mencoba untuk saling melupakan, bahkan membenci. Flipped menjadi semacam nostalgia untuk saya, bagaimana perasaan bisa berubah-ubah, kegairahan masa remaja, dan pengenalan akan rasa yang berbeda untuk orang lain.

Pada saat yang sama, Flipped juga mengajarkan tentang hubungan antara anggota keluarga terjalin. Saya suka ketika di satu kesempatan ayah dan ibu Julia bertengkar, kemudian mereka secara sportif memberikan penjelasan kepada Julia tentang apa yang baru saja terjadi. Mereka merasa bersalah dan meminta maaf karenanya.

Oh ya, satu lagi. Flipped juga mengingatkan bagaimana penerimaan pada orang lain adalah sebentuk paket yang harus utuh diterima. Seseorang bukan hanya memiliki kelebihan semata, namun juga banyak kekurangannya. Saat itu semua menjadi satu dan kita menerimanya, barangkali pada saat yang sama kita juga menerima keajaiban.

Sumber gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: