Menulis: Keajaiban Menulis

Ayah Sue, C.W. “Chip” Grafton adalah seorang pengacara obligasi di Louisville, Kentucky. Ia menghabiskan 40 tahun hidup profesionalnya dengan mengabdi kepada hukum. Ia membesarkan dua putrinya, Sue dan Ann dengan kecintaan kepada buku. Ia pun memberikan contoh, bagaimana selepas jam kerja ia menghabiskan waktu untuk menulis.

Sue kerap kali memperoleh pelajaran menulis dari ayahnya. Pada saat itu, ia tidak berniat menjadi penulis. Pada tahun-tahun itu, seorang wanita apabila sudah “besar”, maka pilihan profesinya adalah menjadi perawat, guru atau balerina. Secara sadar, karena menyadari kelemahannya, Sue memilih untuk menjadi seorang pengajar.

Satu hari, Chip mengajari Sue menulis. Chip berkata, “Kamu harus mempertahankan kesederhanaan tulisanmu. Bukan kamu yang berhak merevisi bahasa Inggris. Kamu harus selalu mengeja dengan benar dan menggunakan tanda baca yang tepat.” Bagi Chip, merupakan sebuah keajaiban bahwa seorang penulis bisa menciptakan sebuah bayangan di dalam kepalanya sendiri, menerjemahkan bayangan itu ke dalam tanda-tanda di atas sebuah halaman, kemudian melalui tindakan menulis yang bersifat katalis, memunculkan bayangan yang sama di dalam kepala orang lain. Bagaimana cara sebuah gagasan melompat seperti itu dari satu pikiran ke pikiran yang lain? Sue pun tak yakin, bahwa ayahnya pernah mengetahui cara kerjanya, tapi ia percaya tanggung jawab utama seorang penulis adalah memupuk dan mendukung keajaiban itu. Di dalam benaknya, tata bahasa yang baik penting untuk menjaga kelancaran jalur komunikasi.

Chip percaya pada kerja keras. Ia percaya, bahwa peralihan sangat penting dalam sebuah novel. Ia suka mengatakan, “Setiap penulis mempunyai adegan besar dalam pikiran mereka, tapi jika kamu tidak memikirkan dengan teliti adegan-adegan kecil yang membangun saat puncak dalam bukumu, pembacamu mungkin tidak memahamimu. Pembacamu, bahkan mungkin menjadi bosan atau tidak sabar dan melemparkan bukumu ke samping sebelum mencapai bagian penting yang mengilhamimu untuk mulai menulis.” Ia juga menganggap penting karakter-karakter kecil dan ia sangat senang membuat mereka hidup dalam buku-bukunya sendiri, meski mungkin pemunculan mereka hanya ada dalam satu paragraf.

Chip tak lupa mengajarkan pada Sue bagaimana menghadapi penolakan. Ia suka berkata, “Membungkuklah bersama angin. Ketika kekecewaan datang, sesuatu yang pasti kamu alami, jangan menjadi kaku karena perasaan pahit. Bersikaplah anggun. Pasrah. Anggap dirimu sendiri sebagai sebatang anak pohon, menyerah pada keadaan tanpa patah atau putus. Membungkuk mengikuti angin membuatmu bisa menegakkan diri lagi ketika kesulitan sudah berlalu.”

Sue kemudian memulai usahanya menulis. Ia menulis tiga novelnya dan hanya memperoleh penolakan. Ia terima penolakan itu, meskipun seringkali dengan tak anggun. Pada saat yang sama, ia belajar tiga hal penting tentang menulis: tekun, tekun dan tekun. Selanjutnya, novel keempatnya mulai diterima oleh penerbit. Hal ini diikuti oleh novel kelima yang bahkan sampai difilmkan.

Membuat skenario, Sue kemudian terlibat dalam proyek ini. Lima belas tahun ia menjalani hidupnya di Hollywood untuk membuat skenario bagi serial televisi. Di saat yang bersamaan ia pun membuat novelnya yang keenam dan ketujuh, namun tak pernah diterbitkan. Pada titik ini ia mulai merasa tak nyaman bekerja bersama dalam satu kelompok seperti menulis skenario itu. Ia pun mulai berpikir untuk kembali mencari bakatnya yang hanya bisa ia peroleh jika bekerja sendiri.

Sue kemudian keluar dan mulai menulis novelnya yang kedelapan. Pada saat proses penulisan novel ini, ayahnya yang banyak mengajari bagaimana menulis meninggal karena serangan jantung. Dalam kenangan Sue, ayahnya adalah seorang penulis yang tak kenal lelah. Namun, ia lebih memilih untuk bekerja di bidang hukum.

Inilah pelajaran terakhir yang Sue peroleh dari kematian ayahnya. Sebuah pelajaran yang barangkali lebih tepat diarahkan ke ayah Sue sendiri. Ikuti hatimu. Kerahkan keberanianmu untuk mewujudkan impianmu. Tidak ada di antara kita yang benar-benar mengetahui berapa banyak waktu kita yang tersisa. Menulis adalah tugas kita. Itulah tanggung jawab kita di bumi ini. Jika kamu gemar menulis, jangan tunda prosesnya. Menulislah setiap hari, penuhi hidupmu dengan khayalan yang tak kenal takut. Kamu mungkin akan kesulitan melakukannya, tapi disiplin yang kamu jalani akan membentuk dan mengisi hidupmu. Bekerja keras. Tekun. Dan, tolong, jangan lupa—mengejalah dengan benar. Gunakan tata bahasa dan tanda baca yang tepat. Pertahankan kesederhanaan tulisanmu dan perhatikan peralihan ceritamu. Cermati karakter-karakter kecil dan yang terpenting, belajarlah membungkuk mengikuti angin.

Dirangkum dari, Chicken Soup for the Writer’s Soul, Halaman 60-65.

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: