Menulis: Memancarkan Pesan

“Apa pun yang kalian tulis akan terpancar.”

Kata-kata itu didengar pertama kali oleh Elizabeth Engstrom dari Theodore Sturgeon. Theodore sendiri adalah seorang penulis besar yang merupakan seorang pakar fiksi ilmiah. Satu hari ia datang ke kota tempat Elizabeth tinggal untuk memberikan lokakarya.

Sebelumnya Elizabeth sendiri telah menulis. Namun, semua yang ditulisnya terasa angkuh, fanatik, atau berprasangka. Ia merasa karya fiksi ciptaannya tak bagus dan pesannya tak sampai untuk umat manusia.

Dalam lokakarya itu, Elizabeth berencana akan mengajukan sebuah pertanyaan kepada Theodore, “Apa yang Anda lakukan ketika Anda ingin berkhotbah?” Hal ini merasa perlu ditanyakan oleh Elizabeth karena ia merasa semua yang ditulisnya terdengar seperti mengkhotbahi. Setiap kali ia membaca sendiri apa yang ditulis, ia merasa dirinya semestinya menulis kolom tajuk, atau esai, atau buku petunjuk.

Sampai pada satu waktu, Elizabeth merasa perlu bertanya kepada pendetanya mengenai khotbah yang sebenarnya. Pendeta itu kemudian menjawab, “Kerah pendetaku menutup pintu menuju 90 persen umat manusia di dunia. Kau, sebagai penulis, tidak mempunyai batasan seperti itu.”

Pertanyaan Elizabeth mengenai khotbah tak pernah sampai kepada Theodore. Pasalnya, di awal lokakarya Theodore sudah berkata, “Apa pun yang kalian tulis akan terpancar.”

Kata-kata Theodore tersebut telah menjawab semua pertanyaan Elizabeth. Ia bisa menulis apa saja, mengenai vampir, novel roman, cerita koboi, fiksi ilmiah, horor, komedi tentang anjing dan tetap saja, apa yang telah diperlihatkannya, disampaikannya, filosofi penyelamat hidup yang telah dikembangkannya tetap bisa disebarluaskan.

Tentu saja Elizabeth hanya mempunyai satu kisah untuk diceritakan, dan itu adalah ceritanya sendiri. Ia tak bisa mengisahkan cerita orang lain. Tapi cerita yang disampaikan oleh Elizabeth luas dan meliputi banyak hal, dan cerita itu bisa dipilih-pilih menjadi berbagai kisah nyata dan khayalan.

Elizabeth menyadari kemudian, bahwa yang membuat ia tertarik kepada tulisan para pengarang favoritnya adalah pesan yang memancar dari tulisan-tulisan mereka. Biarpun barangkali buku itu tak mengandung wawasan spiritual yang mengesankan, namun dari keseluruhan karya seorang pengarang, seorang pembaca mau tidak mau akan mengenal hati sang pengarang.

Di sini Elizabeth pun menjadi sadar, sebagai novelis ia tak perlu menjadi rumit. Novelis sudah susah payah menyampaikan kebenaran di dalam fiksi; tak perlu kemudian mengkhawatirkan pesan yang diterima oleh pembaca. Seorang novelis atau penulis tak perlu menyelamatkan dunia. Ia hanya bertugas untuk memastikan, bahwa pembaca menikmati apa yang telah ditulis. Ia diperlukan oleh dunia.

Dirangkum dari, Chicken Soup for the Writer’s Soul, Halaman 56-59.

2 Replies to “Menulis: Memancarkan Pesan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *