Menulis: Sebuah Mimpi

Kate M. Brausen tak pernah ingin menjadi seorang penulis.

Cita-cita masa kecilnya adalah menjadi seorang balerina. Ia ingin tergabung dalam kelompok bereputasi internasional, menjadi seorang prima ballerina. Menanggapi mimpinya ini, ayahnya yang selalu bersikap positif pun mendukung sepenuhnya. Ia berkata, bahwa tiap anaknya bisa mencapai semua mimpi mereka, apa pun itu, selama mereka masih tetap teguh mempertahankannya.

Saat kelas lima, Kate, mulai sering tersandung kakinya sendiri. Hal yang juga dialami oleh kakak lelakinya. Diagnosa dokter mengatakan, kakak Kate menderita kerusakan otot. Hal yang disadari benar oleh Kate, bahwa dia pun akan mengalaminya. Nanti, suatu hari nanti.

Saat Kate berada di sekolah menengah, ia tak seperti teman-teman wanitanya. Stoking pertama dikenakan oleh gadis-gadis ini. Tapi bagi Kate, sepatu ortopedik dan penopang kaki-lah yang menjadi aksesorinya sehari-hari.

Kate beruntung karena menemukan sebuah pohon ek tua raksasa di pekarangan rumah orang tuanya. Di sana, ia menghabiskan waktu: berkhayal tentang banyak hal dan juga menangis saat keadaan terasa sangat melodramatis baginya. Pohon itu menjadi tempat pelarian baginya. Namun, seiring berjalannya waktu, ia pun sadar, bahwa sebentar lagi ia tak akan mampu memanjat pohon itu.

Satu hari, Kate sangat menderita. Ia terjatuh lagi di sekolah, kali ini tepat di depan laki-laki yang diam-diam ditaksirnya setahun terakhir. Kendati teman-teman Kate tak menertawakannya, namun ia merasa inilah nasib yang harus dijalaninya seumur hidup.

Di pohon ek tua itu kemudian Kate menangis sejadinya. Saat ingin menenangkan diri tersebut, ia mengambil notes dan mulai menulis puisi. Tulisan tersebut ternyata membuatnya tenang, membebaskannya dari pikiran-pikiran merusak. Ia menulis lagi dan lagi. Ia merasa tindakan menulis yang sederhana tersebut telah melepaskan setan-setan yang tampaknya bermukim di dalam dirinya.

Keesokan harinya, Kate kembali ke pohon ek tua raksasa yang semakin sulit dipanjatnya. Seolah tak ingin kehilangan ingatan tentang pohon itu, ia pun mulai menulis setiap hal tentang pohon tersebut secara terperinci. Bagaimana kulit pohon terasa kasar di punggungnya, bunyi derik cabang sarat daun yang berayun-ayun tertiup angin, noktah sinar matahari sore memancara di atas tangannya yang sedang dalam perjalanan menuju dedaunan yang bergemisik.

Kate menyadari kemudian, “Kekuatan kata-kata itu akan membantuku mengingat hal-hal yang cukup beruntung untuk kualami dan menyimpannya dengan aman di dalam diriku selama aku memerlukannya. Kata-kata itu juga membantuku melepaskan, membantuku melupakan satu pengalaman yang telah kujalani dengan baik supaya aku bisa melangkah maju menuju sesuatu yang baru dan sama pentingnya.”

Kate merasa, bahwa menulis adalah sejenis doa, yang terus membantunya mencapai dan menaklukkan hidupnya tanpa merasa, pada akhirnya, ditaklukkan oleh hidup itu sendiri.

Dirangkum dari, Chicken Soup for the Writer’s Soul, Halaman 22-25.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: