Tokoh: Kartini dan Perpisahan

Dalam kesepiannya karena ditinggalkan Kardinah, adiknya yang kawin terlebih dahulu, Kartini menulis:

Kami sangat kehilangan si Kecil. Tetapi yang paling baik ialah tidak tinggal diam begitu saja, karena hal itu bukan merupakan satu-satunya perpisahan yang sangat menyedihkan; masih banyak hal menunggu kami di hari depan. Memang tiada terhindarkan dalam hidup manusia, perpisahan merupakan kata seru yang berlaku seumur hidup! (Surat, 21 Maret 1902, kepada Nyonya H.G. de Booij-Boissevain.)

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 164

Satu hari, kawan Kartini Annie Glaser yang dipanggilnya Anneke sudah tidak tahan lebih lama lagi tinggal di Jepara. Anneke akhirnya dapat meloloskan diri dari kota kecil yang sunyi senyap ini. Tulis Kartini selanjutnya:

Dengan mesra kami berdoa hendaknya Anneke di Buitenzorg menemukan orang-orang yang baik hati kepadanya, yang akan jadi penebus bagi kehilangan ibu dan keluarganya.

Anneke sekali-kali akan teringa juga pada Jepara, kalau ia sudah sampai dengan senang dan selamat di Buitenzorg, sekalipun di sana ia merasa seribu kali lebih baik daripada di sini, di Jepara. Barangsiapa telah mengenal Jepara dan jiwanya, dia tidak bakal dapat melupakannya. Orang akan tetap mengingatnya, tak peduli dengan cinta ataupun benci.

Setelah itu kami berpisahan dari Annie. Sungguh-sungguh celaka rasanya waktu itu, tapi tak dapat hal itu nampak dari lahir kami. Mungkin Annie menganggap kami dingin saja terhadapnya, tapi kami tahu sekarang: pembisuan adalah jurubahasa dari perasaan-perasaan yang paling dalam. (Surat, 15 September 1902, kepada Nyonya Abendanon)

Panggil Aku Katini Saja, Halaman 255

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *