Tokoh: Kartini dan Ibunya

Permaduan adalah salah satu mata rantai penderitaan raksasa. Tidak ada seorang bawahan pun, apa lagi wanita, berani menolak perintah bangsawan untuk menjadi istrinya yang ke sekian atau ke sekian. Permaduan ini bukan berasal dari agama Islam, tetapi dari tata hidup feodalisme, jadi jauh sebelum masuknya Islam.

Di lingkungannya sendiri, Kartini saban hari melihat permaduan itu beserta akibat-akibat yang ditimbulkannya. Ayahnya sendiri yang mempermadu wanita-wanita itu, dan ibu-ibunya sendiri yang dimadu itu. Dari lingkungannya sendiri ini, Kartini memahami keburukan permaduan sebagai matarantai penderitaan raksasa. Kalau dalam perlawanannya terhadap tata hidup feodalisme ia dapatkan Ayahnya sendiri sebagai benteng yang melindungi musuhnya, juga dalam penolakannya terhadap permaduan, kembali ia dapatkan Ayahnya yang sangat dihormati dan dicintainya itu sebagai benteng yang melindungi musuhnya. Sedang Kartini sendiri dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah benteng musuh ini. Dengan memahami posisinya ini, orang akan lebih mudah mengerti, betapa sulit sebenarnya hidup Kartini. Sedang sezarah pun ia tidak ingin melukai hati Ayahnya. Dan sikap ini pula yang menyebabkan Kartini untuk selama-lamanya terbelah dalam perjuangannya. Dalam salah sebuah suratnya ia menyatakan, bahwa adat yang diturutnya itu tinggal hanya cintanya terhadap Ayahnya. Sekalipun demikian, hal itu tidak mengurangi keterbelahannya.

Panggil Aku Kartini Saja, Halaman 93

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *