Review: Negeri Lintasan Petir

Aku tak tahu bagaimana kayu-kayu itu terdampar dekat kebunku. Ada kemungkinan kayu-kayu itu dibuang oleh perusahaan perkayuan, dibuang oleh para peladang atau disambar petir, lalu dipindahkan ke sungai oleh erosi.

Gerson Poyk menyajikan kutipan paragraf di atas pada bagian awal bukunya. Mula-mula ia menceritakan rumah yang ditempati sosok ‘Aku’ dalam hal ini kemudian diketahui bernama ‘Indra’. Rumah yang terdiri dari kebun-kebun, beberapa rumah kecil di sekitar rumah utama, tempat Indra yang pematung, pelukis dan pemusik menghasilkan karya-karyanya. Indra sendiri ialah seorang transmigran yang sukses dengan kebunnya dan hasil kreasinya sebagai seorang seniman.

Kritik Gerson tak cukup sampai di situ. Ia pun tak lupa mencela bagaiman perkembangan kota besar dan akibat-akibatnya. Barangkali, ini pula alasan seorang Indra lantas harus bertransmigrasi.

Perkembangan kota besar dengan industrinya dalam benak para pengambil keputusan tidak sepi dari kesadaran ekologis, namun hal demikian itu—kesadaran ekologis itu hanyalah terdapat dalam benak, dalam ide, sementara dalam kenyataannya, sebuah kota besar telah bergelimang dalam dosa polusi. Setiap hari orang beroa dan berkhotbah tentang kebersihan lingkungan, setiap hari para profesor di sebuah kota besar menggurui para mahasiswanya tentang etika perlindungan lingkungan sehat melalui iptek dan seni membangun manusia yang terlepas dari keterasingannya dari alam atau lingkungan sehat, setiap hari murid-murid dan mahasiswa mempelajari ekologi dan humaniora, namun setiap hari berjuta-juta manusia tercemplung ke dalam neraka polusi lingkungan.

Di antara aneka rupa kritiknya, Gerson pun menyelipkan kebiasaan zaman dahulu yang entah barangkali juga masih berlaku di zaman sekarang, yakni kebiasaan mengajukan senjata rahasia berupa wanita-wanita cantik untuk melancarkan sebuah bisnis, memeroleh proyek atau tender. Dan rasanya kritik terhadap pencuri entah besar atau kecil tak akan pernah lekang dari dulu hingga sekarang, seperti yang tersaji pada kutipan berikut:

Walaupun jarang, Indonesia terkenal dengan massa yang sering main hakim sendiri kepada pencopet dan pencuri kecil, sedang pencuri raksasa, perampok besar, penipu tingkat tinggi justru diangkat-angkat sampai ke ujung pohon cemara lalu jatuh sendiri ditiup angin.

Indra yang hidup di daerah transmigran, terpengaruh oleh semangat Pak Bagio. Ia adalah tukang pos yang mengendarai kuda. Ya, kuda, karena daerah transmigran itu terpisah-pisah antara permukiman satu dengan yang lain dan infrastruktur jalan pun belum memadai untuk dilalui dengan kendaraan. Pak Bagio adalah seorang sarjana hukum yang bertransmigrasi dan harus menyambung hidupnya sebagai tukang pos. Ia menjalani profesinya itu sebagai sebuah amanah, menyampaikan kabar dari dan ke orang-orang di wilayah transmigrasi itu.

Pak Bagio, kendati seorang sarjana hukum tak pernah menuntut lebih. Ia jalani profesinya itu dengan sepenuh hati, terkadang bahkan sampai berhari-hari di jalan untuk mengantar surat. Di lain sisi, apa yang dilakukan Pak Bagio itu menarik perhatian seorang dokter muda di lokasi terpencil itu. Ia adalah Dokter Martina, seorang dokter muda yang mesti bertugas di lokasi transmigran itu.

Tuntutan karier bu dokter dan pak pos yang mesti mengobati pasien dan mengantar surat membuat keduanya sering harus bekerja bersama. Bermalam di hutan-hutan menempuh jarak ratusan kilo dengan kuda masing-masing. Tak heran, jalinan cinta di antara keduanya pun terajut. Sampai kemudian keduanya menikah.

Sayang, lokasi transmigran itu pun menjadi daerah yang sering dilanda petir. Petir sendiri, untuk Indra justru menjadi obyek lukisan yang begitu indah. Alurnya seperti akar yang membelah gelap langit malam. Namun petir pula yang telah merenggut nyawa Drs. Bagio. Ia meninggal karena tersambar petir saat mengantar surat.

Di sini cerita dimulai, bagaimana Indra ingin membuat sebuah patung untuk Pak Pos. Namun, dalam perjalanannya ia malah jatuh hati pada Dokter Martina. Indra yang sudah tak muda, namun masih menarik itu pun berpacaran dengan dokter muda itu.

Jalinan kisah berpindah-pindah dari lokasi transmigran yang elok dalam kesunyiannya ke hingar bingar Jakarta. Pun demikian halnya dengan alur cerita, maju  mundur menyusuri kisah hidup Indra yang pelik. Seorang seniman yang dulunya mesti hidup susah mengangkut arang di dekat Stasiun Senen Jakarta.

Tak hanya itu, kisah cinta Indra pun sepelik jalan hidup yang harus dilaluinya. Ia berkenalan dengan senjata rahasia menantunya yang cantik untuk menggaet pejabat-pejabat yang gila wanita. Marianne namanya, sosok yang kemudian membuat Indra mesti berpisah dengan Dokter Martina. Ada pula Maryam, ia adalah pramugari yang bisa menyenangkan hati Indra kala terpuruk. Di tengah cerita, muncul pula dosen Indra saat ia masih kuliah bernama Pak Ibrahim. Sosok yang mesti memusuhi kata pulang, karena sesungguhnyalah ia tak punya tempat buat pulang.

Konflik dibangun begitu halus, terkadang membingungkan karena selalu ada sosok baru yang muncul. Namun, ‘Negeri Lintasan Petir’ sanggup mengemas kelindan kisah itu dengan elok. Gerson Poyk piawai menggabungkan keindahan alam, sungai-sungai, suara air dan gemerisik hujan dengan hiruk-pikuk Jakarta lengkap dengan macetnya.

Kendati cerita ini indah, namun terasa betul latar peristiwanya di zaman orde baru. Beberapa hal sudah jarang ditemui dewasa ini, bukan berarti tak ada, namun ujaran seperti transmigrasi mandiri akan susah betul ditemukan. Bagaimana etos dan elan kerja seoarang transmigrasi barangkali menjadi kurang menarik karena mungkn sudah usang dengan konteks kekinian. Lepas dari itu, barangkali buku ini bisa merekam sebuah episode yang telah dilalui negeri ini dengan program-program pemerintahnya.

Selamat membaca.

PS: saya temukan kata-kata ini di ‘Negeri Lintasan Petir’ adakah yang mengerti artinya?

Promiskus, Promiskuiti, maesenas, atavisitik, kraim,

Khusus mengenai peran wanita-wanita di novel ini, bisa dibaca di sini.

One Reply to “Review: Negeri Lintasan Petir”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *